
Arselo melihat kerumunan orang-orang di perempatan jalan yang biasa ia lewati, sebagian orang ada yang menolong untuk membantu korban lain, sebagian lagi hanya mengambil foto dan membagikannya di grup atau sosial media mereka, entah untuk keperluan apa.
"Intan, ada keributan apa di sana?" tanya Arselo yang melihat beberapa orang kalang kabut panik, sedangkan ia sendiri tak bisa melihat dengan jelas karena terhalang beberapa mobil di depannya.
"Maaf tuan, sepertinya di depan sudah terjadi kecelakaan" jawab sekretaris Intan seadanya.
"Apa masih lama?" tanya Arselo yang sudah tidak sabaran karena klien'nya sudah menghubunginya.
"Akan saya periksa dulu tuan" ucap sekretaris Intan seraya membuka pintu mobil untuknya keluar.
Arselo yang masih tetap menunggu pun merasa kesal sendiri, ia juga penasaran karena seingatnya jalanan itu sangat jarang sekali terjadi kecelakaan. Arselo melihat Intan yang sedang bertanya pada seorang bapak-bapak yang juga sedang menunggu proses evakuasi di sana.
Tiba-tiba ia melihat ada tiga orang anak sedang menangis di dekat salah satu korban kecelakaan yang sudah di pindahkan ke pinggir jalan dan masih menunggu ambulan yang datang, satu di antara mereka juga mengalami luka-luka meski tidak banyak. Arselo segera berlari ke arah ketiga anak itu, ia menghiraukan panggilan dari sekretaris Intan.
"Dayyan, Raiyan, Qirani!!!" teriak Arselo memanggil ke tiga anak-anaknya itu.
Mendengar seseorang yang memanggil nama mereka, ketiga anak itu pun menoleh.
"Papa" panggil Raiyan yang langsung memeluk Arselo, sedangkan Dayyan dan Qirani hanya berdiam diri melihat Raiyan yang memeluk Arselo.
Arselo yang mengerti ke adaan ke dua anaknya yang lain segera menghampirinya.
"Day sama Qiran gak apa-apakan?" tanya Arselo dengan lembut, kedua anak itu pun menggeleng lemah sebagai jawaban mereka.
"Boleh papa peluk kalian?" tanya Arselo lagi. Kedua anak itu tidak menjawab pertanyaan Arselo mereka hanya memandangnya saja.
Dengan gerakan pelan, Arselo mulai merengkuh ke dua anak itu dalam dekapannya, dan tanpa di duga anak-anak itu tiba-tiba menangis terisak di pelukan Arselo.
Arselo juga meminta pada warga yang ada di sana untuk membantu memindahkan Safira ke mobilnya dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Bahkan Arselo juga melupakan meeting'nya dan membiarkan sekretaris Intan yang hadir dan juga ia sempat menghubungi Sofyan untuk menyusul Intan sebagai perwakilannya.
***
Safira terbangun pada saat malam hari, ia tidak mengenali tempat itu hanya terdapat bau obat-obatan yang khas saja yang ia kenali. Safira juga melihat kantung infusan di sebelah kiri ranjangnya yang menyambung ke tangan kirinya.
Safira mulai mengingat-ingat kejadian yang ia alami sebelum ke kesadarannya menghilang, dan seketika itu juga ia terperanjat bangun dari posisi tidurnya hingga mengagetkan orang-orang yang ada di ruangan itu.
"Mana anak-anak ku? Bagaimana keadaan mereka? Kenapa hanya aku yang berada di sini?" racaunya.
"Fira, tenang ya. Anak-anak sudah tidur di rumah, sebaiknya kamu istirahat dulu. Aku akan memberi tahu Abizar dan kakak ku yang berada di luar" ucap Arsela yang kebetulan sedang menengok ke adaan Safira dan juga dua orang perawat yang sedang memantau keadaannya.
"Dokter, gimana ke adaan anak-anak saya? Tadi kami mengalami kecelakaan" ucap Safira dengan nada yang bergetar karena ia tidak menemukan anak-anaknya di sana.
"Mereka baik-baik saja Fira, justru kamu korban yang cukup parah, pergelangan kaki kamu patah untuk sementara kamu tidak bisa berjalan dulu" jelas Arsela.
Safira tidak langsung menjawab pernyataan Arsela karena Abizar dan Arselo masuk ke ruangan itu.
"Fira, bagaimana perasaan kamu saat ini?" tanya Abizar dengan lembut.
"Aku baik-baik saja bang, anak-anakku bagaimana? Seingat ku Dayyan sepertinya tadi terluka" ungkap Safira.
"Tidak, Dayyan hanya mengalami luka goresan kecil di tangannya akibat jatuh karena menarik tangan Raiyan dan Qirani, sedangkan Raiyan dan Qirani sendiri, mereka baik-baik saja" jelas Abizar.
Arselo melangkahkan kakinya untuk menghampiri ranjang pasien Safira, Abizar yang mengerti langsung melangkahkan kakinya ke belakang untuk memberikan privasi pada Arselo.
"Fira apa sekarang kamu baik-baik saja?" tanya Arselo.
"sepertinya untuk saat ini aku tidak baik-baik saja, dokter Sela mengatakan jika kakiku untuk sementara tidak bisa dipakai untuk berjalan karena mengalami patah tulang" jawab Safira sambil memperlihatkan kakinya yang dibungkus gips.
Arselo mengikuti pandangan Safira, Ia juga melihat kaki Safira yang memang terbungkus gips salah satunya.
"Semoga kamu cepat sembuh, karena aku yakin anak-anak pasti akan sedih jika melihat kamu terbaring sakit seperti ini" ucap Arselo.
"Terima kasih. Tapi apa kamu bisa menolongku untuk mencari tahu siapa yang berniat untuk mencelakai ku dan anak-anak? Karena aku yakin jika kecelakaan itu memang disengaja" tanya Safira.
"Kami memang masih menyelidiki kasus ini, tadi siang aku sudah melihat rekaman CCTV di tempat sekitar dan aku juga sudah menemukan plat nomor mobil yang menabrak mu itu, hanya saja mobil itu menggunakan plat yang palsu. Tapi kamu tenang saja aku tidak akan membiarkan orang yang akan menyakiti anak-anak bisa lolos begitu saja, aku pasti akan mencari mereka sampai ketemu" jawab Arselo menenangkan Safira.
Safira tidak menjawab perkataan Arselo, dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Hmmm, Safira sebaiknya kamu beristirahat lagi aku akan menunggumu di luar, besok anak-anak dan Caca akan kembali ke sini" ujar Abizar setelah Safira dan Arselo tidak lagi mengobrol, karena sejujurnya dalam hati Abizar, ia merasa tidak nyaman saat melihat Arselo dan Safira mengobrol tadi.
"Baiklah bang, aku akan istirahat kembali" jawab Safira.
Arselo dan Arsela mengerti, mereka pun berpamitan dengan Safira dan Abizar.
"Ya sudah kami akan pulang sekarang kamu silakan beristirahat kembali" ujar arsela sebelum ia keluar dari ruang perawatan Safira.
"Terima kasih dokter Sela" ucap Safira.
"Tentu sama-sama" jawab Arsela.
Setelah kepergian Arselo dan Arsela, Abizar mendekati ranjang Safira.
"Abang, siapa yang membawaku kesini? Dan dari mana Abang mengetahui jika aku dan anak-anak mengalami kecelakaan?" tanya Safira saat Abizar membenarkan selimut yang Safira kenakan.
Sebelum menjawab, Abizar menarik nafasnya dalam.
"Arselo yang menghubungiku, dia juga yang membawamu kesini karena ambulans yang akan membawamu sedikit terlambat. Dia juga yang menenangkan anak-anak saat mereka menangis histeris karena melihatmu tidak sadarkan diri saat itu" beritahu Abizar.
"Arselo? Bagaimana dia bisa mengetahui jika aku kecelakaan?" tanya Safira ingin tahu.
"Abang tidak tahu pastinya, dia hanya berkata jika dia melihat anak-anak sedang menangis di dekat tempat kecelakaan terjadi saat dia akan pergi meeting bersama kliennya" jawab Abizar
"Maaf karena aku tidak berada didekat kalian saat itu" sambung ucapan Abizar.
Safira tersenyum dan mengangguk "Tidak apa-apa Bang, aku mengerti karena jarak Abang lumayan jauh" jawab Safira.
"Lebih baik sekarang kamu istirahat dulu, jika ada apa-apa panggil saja aku" ucap Abizar.
"Terima kasih banyak bang" jawab Safira.
Setelah mendapatkan jawaban Safira, Abizar pun melangkahkan kakinya keluar kamar rawat itu dan duduk di bangku besi yang tersedia di sana.