Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 69



Tiga bulan telah berlalu, Abizar, Safira dan anak-anak sangat menikmati kehidupan tenang mereka, Begitupun Arselo yang sudah berhasil keluar dari jeratan pernikahannya dengan Vivi sebulan yang lalu.


Tidak lupa Arselo juga menjebloskan Devi yang ikut serta dalam kasus perencanaan pembunuhan yang Vivi lakukan terhadap Safira dan anak-anak.


Hari ini adalah hari ulang tahun si kembar yang ke tujuh tahun, mereka akan mengadakan pesta untuk anak-anaknya di restoran milik Abizar yang sudah di kelola oleh Caca. Sedangkan Safira memilih untuk mengurus suami dan anak-anaknya saja tanpa bantuan Anisa lagi.


Semua keluarga berkumpul, begitu juga dengan bu Resti dan pak Bambang yang ikut hadir di sana, orang-orang sangat antusias mengadakan pesta ulang tahun Dayyan, Raiyan dan Qirani.


"Anak-anak mama sudah besar sekarang, gak kerasa sebentar lagi kalian masuk sekolah dasar nak" ucap Safira pada ketiga anaknya sambil mengusap sayang kepala mereka.


"Iya ma, aku udah gak sabar buat ketemu teman baru di sekolah nanti" ucap Qirani dengan antusias.


"Mama, apa mama sudah sediakan hadiah buat kami?" tanya Raiyan yang terus menerus bertanya tentang hadiahnya.


"Tentu saja sayang, nanti setelah acara kalian selesai, mama akan berikan hadiahnya. Papa juga sepertinya akan senang dengan hadiah ini" jawab Safira sambil tersenyum penuh arti.


"Kenapa papa harus senang dengan hadiah kami, ma?" tanya Dayyan yang ingin tahu.


"Karena hadiah ini sangat spesial sekali" jawab Safira penuh dengan teka-teki.


"Mama membuat kami penasaran" ucap Qirani dengan mempoutkan bibirnya.


Safira tersenyum melihat reaksi Qirani yang seperti itu.


"Sabar ya sayang-sayang ku" ucap Safira pada ke tiga anaknya. Sedangkan anak-anak itu tidak menanggapi perkataan Safira.


Tak lama kemudian, Abizar pun datang untuk menjemput mereka.


Sebelum mereka pergi, Abizar sempat keluar terlebih dahulu karena ia mengatakan jika ada keperluan sebentar di luar.


"Apa kalian sudah siap?" tanya Abizar pada Safira dan anak-anak yang sedang duduk menunggu kedatangannya.


"Kami sudah menunggu papa dari tadi, kenapa papa lama sekali?" tanya Qirani merajuk.


"Maafkan papa sayang, papa tidak bermaksud untuk membuat kalian menunggu" jawab abizar menatap Qirani yang sedang kesal padanya.


"Ya sudah anak-anak, sekarang ayo kita berangkat" ajak Safira pada anak-anak dan juga suaminya.


"Ayok...!!! jawab ketiga anak itu bersamaan.


Pada saat Safira akan bangun dari duduknya, tiba-tiba saja ia merasa pusing dan hampir terjatuh, dan beruntung hal itu bisa di cegah karena Abizar dengan cepat langsung menyangga tubuh Safira.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" tanya Abizar yang merasa khawatir pada Safira.


"Tenanglah mas, aku baik-baik saja" jawab Safira tersenyum hangat pada Abizar.


"Lain kali kau harus lebih berhati-hati lagi sayang, karena aku tidak bisa selalu berada di samping mu. Kau harus bisa menjaga dirimu sendiri dan anak-anak kita supaya kalian tidak terluka. Karena aku pasti akan sedih jika melihat kalian seperti itu" ucap Abizar sambil membantu Safira untuk berdiri.


Sesaat Safira merasa heran dengan ucapan suaminya yang seperti itu, tapi dia berusaha untuk menampil perasaan yang sedari tadi mengganjal di hatinya itu.


Sebenarnya sudah semenjak seminggu yang lalu Abizar selalu bersikap seolah-olah ia akan meninggalkan Safira dan anak-anaknya. Abizar selalu saja menggerutu jika terjadi hal yang membuat Safira ataupun ke tiga anaknya terluka, entah itu karena terjatuh atau karena mendengar ucapan pedas orang lain tentang mereka.


Abizar tersenyum hangat dengan pertanyaan Safira, hingga Safira tidak bisa mengartikan dengan benar arti dari senyuman yang Abizar perlihatkan padanya.


"Aku baik-baik saja sayang, selama kalian tidak terluka atau bersedih, aku akan selalu baik-baik saja" jawab Abizar yang semakin membuat Safira tidak mengerti dengan suaminya itu.


"Mas aneh" celetuk Safira tanpa sadar.


Abizar hanya tersenyum mendengar perkataan Safira yang mengatainya dengan sebutan aneh.


"Entah mengapa, rasanya hari ini aku sangat ingin sekali melihat senyum bahagia dari wanita yang selalu ku puja ini, aku senang dengan semua sifat dan sikap yang ia tunjukan pada ku. Begitu pun dengan anak-anak, aku sangat menyayangi mereka. Aku sangat merindukan mereka, meskipun mereka sedang ada di depan ku. Ya tuhan, sebenarnya apa yang akan terjadi pada ku? Aku harap apa pun yang akan terjadi nanti jangan sampai membuat keluarga ku menangis" batin Abizar di temani dengan setitik air mata yang menetes di ujung matanya, yang segera ia tepis agar istri dan anak-anaknya tidak melihat tetesan air itu.


Namun Safira menyadari pergerakan Abizar itu dan memberhentikan langkahnya yang baru keluar pintu rumah mereka.


"Apa kamu menangis, mas?" tanya Safira yang melihat ada jejak air di ujung mata suaminya.


"A...aku tidak menangis sayang, itu hanya penglihatan mu saja, mungkin aku terlalu senang hari ini hingga membuat ku bahagia dan menitikkan air mata sedikit" jawab Abizar yang menurut Safira tidak masuk akal.


Saat hendak berbicara lagi, anak-anaknya sudah memanggil mereka dengan tidak sabaran.


"Mama, papa ayo...!!! Nanti kita telat" teriak Qirani dari dalam mobil.


"Sebaiknya kita berangkat sekarang sayang" ujar Abizar yang menyadari jika Safira hendak mengeluarkan kembali kata-katanya.


"Hmmm, Baiklah" jawab Safira acuh.


Abizar menggandeng tangan Safira dan menuntunnya untuk masuk ke dalam mobil.


Perjalanan singkat mereka tempuh dengar ramai nyanyian khas anak-anak. Jarak yang dekat dengan restoran membuat mereka sampai tak memakan waktu lama, mereka pun tiba di parkiran restoran itu.


"Ayo anak-anak kita turun, dan berhati-hatilah" ujar Abizar yang sudah turun terlebih dahulu bersama Safira.


Satu persatu Dayyan, Raiyan, dan Qirani pun turun dari mobil dan bergandengan menuju ke dalam restoran untuk memulai acara mereka.


Namun, belum sempat pesta itu di mulai, tiba-tiba saja ada seseorang yang sengaja menembakkan peluru ke arah lampu dan juga balon gas yang berada di dekat lilin kue ulang tahun hingga membuatnya mengeluarkan api yang semakin membuat gaduh ruangan itu.


Dor, dor, dor, dor, dor...


Orang-orang yang ada di dalam restoran berhamburan keluar karena takut jika mereka akan terluka.


Arselo segera mengeluarkan pistol yang selalu ia bawa dari balik jasnya dan menembaki orang-orang itu.


"Mama, papa...!!!" suara Dayyan terdengar jelas di antara mereka yang berhamburan mencari pintu keluar.


Sedangkan Safira dan Abizar masih berusaha melindungi anak-anaknya yang lain, hingga tanpa sadar Dayyan terlepas dari genggaman tangannya, Hal itu membuat seorang penembak tadi memanfaatkan keadaan untuk menembak anak kecil yang sedang mencari orang tuanya.


Dor... dor... dor...


Tiga peluru langsung bersarang di tubuh seseorang yang melindungi Dayyan.


"PAPA....!!!!"