Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Bab 129



Hari demi hari berlalu, tak terasa ini sudah bulan ke tujuh kehamilan Safira, tapi morning sickness yang Arselo rasakan tak kunjung membaik, sampai-sampai Arselo sendiri merasa kewalahan karena setiap pagi ia harus bolak-balik ke kamar mandi dan juga menahan kantuk yang dideritanya saat pagi hari, belum lagi ia juga harus merasakan sakit punggung yang pernah dideritanya dulu saat Safira hamil pertama.


Ya, Arselo juga menceritakan tentang pengalamannya dulu saat ia merasakan sakit pinggang dan punggung yang teramat sangat, ternyata itu adalah Safira melahirkan ketiga anak-anaknya, apalagi waktunya juga sangat tepat dan di tanggal yang sama.


"Sepertinya anak-anakmu terlalu baik padaku sehingga tidak ingin membuatku menderita," ucap Safira sambil tersenyum dan terus memijit tulang punggung suaminya.


"Hmmm, aku rasa penuturan mu itu benar," jawab Arselo.


Akhir-akhir ini, ia jarang ke kantor dan selalu mengerjakan semua pekerjaannya di ruang kerja yang ada di rumahnya, sehingga membuat Sofyan sering bolak-balik datang ke sana untuk mengambil berkas yang sudah diperiksa Arselo, juga menyerahkan berkas yang harus dikerjakannya.


Berbeda dengan Safira yang selalu terlihat baik-baik saja, meskipun sudah menginjak usia kehamilan yang ketujuh. Ia tampak selalu ceria dan tidak kesulitan dalam mengerjakan apapun.


"Apa kamu ikhlas menanggung semua ini?" tanya Safira untuk kesekian kalinya, ia juga merasa tidak enak hati karena Arselo-lah yang merasakan penderitaan yang seharusnya ia rasakan.


Mendengar pertanyaan istrinya, Arselo pun bangkit dan memeluk Safira dari belakang. "Aku benar-benar ikhlas, sayang. Lagipula ini hanya sementara, mungkin setelah nanti kamu lahiran semua penyakit ku juga akan hilang. Kamu tidak perlu khawatir."


Safira mengusap tangan Arselo yang bertengger di perut besarnya. "Meskipun kamu berucap seperti itu, tetap saja aku khawatir padamu."


Arselo tersenyum mendengar ucapan istrinya. "Terima kasih, karena sudah mengkhawatirkan ku."


Saat mereka sedang menikmati waktunya, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk oleh anaknya.


"Ma, Papa sudah bangun belum?" tanya Dayyan dari balik pintu kamar Safira.


Safira berjalan kearah pintu itu untuk membukanya. "Ada apa, Bang?" tanya Safira pada Dayyan.


"Kemarin Papa janji pada kami akan mengajarkan untuk membuat lipatan origami untuk di gantungkan di kamar yang akan menjadi kamar milik adik bayi," jawab Dayyan sambil memperlihatkan beberapa kertas origami yang di bawanya.


Safira menengok kebelakang di mana suaminya masih duduk di atas kasur. "Pah, apa kemarin kamu menjanjikan sesuatu pada anak-anak?"


Arselo terdiam sejenak, ia dicoba untuk mengingat-ingat sesuatu. "Ya Tuhan, iya, sayang. Hari ini aku memiliki janji pada anak-anak akan mengajarkan mereka untuk membuat lipatan origami," jawabnya sambil menepuk jidatnya sendiri.


Safira menggeleng pelan saat melihat tingkah suaminya, selain merasa tidak enak badan, akhir-akhir ini suaminya pun sering melupakan sesuatu.


"Apa Papa sedang sakit lagi, Ma?" tanya Dayyan yang melihat mamanya hanya diam di hadapannya.


Safira tersenyum dan mengangguk kecil, Dayyan langsung menampilkan raut wajah kecewa saat itu juga. Arselo merasa kasihan, akhirnya iapun mengalah dan langsung menghampiri istri dan anaknya.


"Panggil adik-adik, ya. Kita akan belajar di sini saja," ucap Arselo sambil mengusap kepal anak sulungnya.


Seketika itu juga, Dayyan langsung kembali ceria dan mengangguk pergi untuk memanggil saudara-saudaranya yang lain.


"Bukankah kamu sedang sakit?" tanya Safira pada suaminya.


"Aku kasihan padanya, sayang. Minggu kemarin kita batal pergi ke kebun binatang karena aku sakit, aku tidak ingin mereka kembali kecewa hari ini. Lagipula sekarang kita tidak perlu keluar rumah," jawab Arselo.


Safira pun mengangguk, mengerti. "Baiklah."


"Mama, Papa, ayo kita mulai sekarang!" ajak Raiyan yang diangguki tiga anak lainnya.


"Baiklah, ayo!" jawab Arselo. "Apa kau mau ikut, sayang?" tanyanya pada Safira.


"Hmmm, Mama ikut lihat saja, ya?" tanya Safira. Ia tidak terlalu pintar membuat lipatan origami.


Safira memperhatikan anak serta suaminya yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka.


Alhamdulillah, keperihan yang pernah aku rasakan dahulu kini berbuah manis. Aku memiliki suami yang perhatian padaku, juga pada anak-anakku. Meskipun keperihan dan kebahagiaan itu datang dari orang yang sama, tapi itu tidak masalah bagiku. Dia sudah bertanggung jawab dengan baik selama ini, dia juga tidak membedakan anak-anakku. Tanpa kusadari, Tuhan sudah adil terhadapku. Meskipun aku menderita dulu, dia pun sama halnya menderita dan ikut merasakan apa yang kurasakan saat itu.


Safira meneteskan air matanya, ia bahagia melihat keluarganya yang lengkap, dan akur. Ia juga bahagia karena anak-anaknya semangat untuk menyambut calon anggota baru yang sebentar lagi akan segera hadir.


"Fira, kamu baik-baik saja?" tanya Ni Eti khawatir karena melihat Safira yang baru saja mengusap sudut matanya.


"Aku baik-baik saja, Ni. Aku hanya merasa terharu sekaligus bahagia melihat ini semua. Dulu aku selalu berfikir, bagaimana jika anak-anakku tidak diinginkan oleh ayahnya, bagaimana jika mereka tidak mendapatkan kasih sayang dari keluarganya dan masih banyak prasangka buruk lainnya yang aku takuti. Tapi sekarang, kekhawatiran ku hilang, anak-anakku sangat di terima, anak-anakku sangat diinginkan dan kini mereka sudah mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari semua keluarganya. Aku bahagia, Ni. Aku sangat-sangat bersyukur. Terima kasih, Ni. Terima kasih karena sudah menguatkan ku selama ini," ucap Safira panjang lebar sambil memeluk Ni Eti.


Ni Eti pun memeluk Safira, wanita yang sudah ia anggap sebagai cucunya, adalah wanita tegar yang ia temui. Semua kepahitan yang ia alami, mengajarkannya untuk selalu bersabar dan tawakal.


"Nini juga senang, Fira. Nini juga bahagia, kamu bisa mencapai titik inipun tidaklah mudah, tapi kamu selalu sabar. Nini bangga padamu." Ni Eti membalas pelukan Safira.


Arselo dan anak-anak pun bangkit dan ikut memeluknya, mereka semua berpelukan hangat, menumpahkan semua perasaan lega dalam hatinya.


Terima kasih, sayang. kamu adalah wanita yang paling berharga yang pernah aku sia-siakan. Terima kasih karena kamu sudah membiarkan mereka lahir dan mengenalku. Terima kasih karena sudah memberikanku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Kalian adalah harta yang paling berharga untukku. Love you Safira Almaya, love you Divya and i love you my three twins. Papa sayang kalian semua.


.


.


.


𝑯𝑨𝑷𝑷𝒀 𝑬𝑵𝑫𝑰𝑵𝑮


SALAM DARI AUTHOR NEWBIE BUAT KALIAN PARA READER TERCINTA, TERIMAKASIH KARENA KALIAN SUDAH SELALU MENYEMANGATI KU 🤗🤗🤗 MOHON MAAF JIKA ADA KATA-KATA YANG KURANG PANTAS 🙏🙏


SEMOGA SELALU SEHAT ALL, AMIN....🤲🤲


Jangan lupa mampir ke karya ku yang lain, ya...


- Berbagi Cinta "Penantian Istri Pertama"


- Love After Agreement


Salam semua 🙏🙏