Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 63



Safira keluar dari ruang ganti baju dengan gaun pengantin yang melekat di tubuhnya, meskipun dia tidak terlalu percaya diri dan tampak malu-malu, staf yang tadi yang membantunya memakaikan pakaiannya segera membuka tirai penghalang antara ruang ganti pengantin pria dan ruang ganti pengantin wanita.


Abizar tampak tertegun melihat penampilan Safira yang tampak memukau, meskipun Safira sudah pernah melahirkan, tapi tubuhnya tampak masih seperti gadis, dan hal itu semakin membuatnya tampak mempesona.


"Bang, apa aku terlihat aneh?" tanya Safira yang melihat Abizar hanya diam menatapnya.


"Akh, hmmm... Kamu, kamu sangat cantik Fira. Bakan aneh, kukira tadi ada bidadari yang turun ke bumi. Tapi setelah mendengar suaramu ternyata bidadari cantik itu adalah kau Fira" jawab Abizar tanpa mengalihkan perhatiannya dari Safira.


Mendengar jawaban Abizar yang seperti itu, membuat Safira tersipu malu.


"Apa sih bang, jawabannya gitu banget" jawab Safira dengan malu-malu bahkan warna pipinya sudah memerah.


"Fira, sejak kapan kamu pakai pewarna wajah? Pipi mu merah sekali?" tanya Abizar yang sadar jika Safira sedang menahan malunya.


"Abang udah dong godainnya. Menurut mu gimana penampilanku? Apa masih ada yang kurang?" tanya Safira yang sudah tidak ingin di goda Abizar lagi.


"Iya, ia maaf. Itu udah bagus Fir" jawab Abizar apa adanya.


Setelah melakukan fitting baju yang terakhir, mereka pun lanjut untuk ke restoran masing-masing dan kembali bekerja.


***


Satu minggu kemudian...


Restoran tempat Safira bekerja disulap sementara menjadi tempat Abizar dan Safira mengadakan resepsi pernikahan mereka, semua para tamu undangan yang hadir di sana tampak terpukau dengan suasana dekorasi pernikahan mereka.


Safira sendiri merasa sangat gugup sekali, meskipun dulu Arselo pernah menikahinya tapi semua itu hanya karena keterpaksaan dan tidak ada kebahagiaan di antaranya. Berbeda dengan sekarang saat Abizar akan menikahinya, senang, bahagia, gugup dan terharu menjadi satu.


"Fira apa kamu baik-baik saja?" tanya Nyonya Sita yang ikut mendampingi Safira. Pengantin wanita masih menunggu di dalam ruangan karena acara ijab qobul belum selesai.


"Fira baik-baik saja, tante. Hanya sedikit gugup saja" jawab Safira sambil memainkan jari-jari tangan yang ada di pangkuannya.


"Kamu tenanglah, ini minum dulu" ucap nyonya Sita sambil menyodorkan sebotol air mineral yang terdapat sedotan di dalamnya.


"Terima kasih banyak tante" ucap Safira sambil menerima air minum itu.


"Mama cantik sekali, nanti kalau Qiran sudah besar, Qiran ingin seperti mama" ucap Qirani yang ikut menemani Safira dan nyonya Sita.


Nyonya Sita dan Safira tersenyum mendengar penuturan gadis kecil itu.


Saat mereka sedang tersenyum tiba-tiba saja dari luar terdengar suara orang-orang yang sudah berseru


"SAH... !!!"


Nyonya Sita yang terharu mendengar orang-orang yang mengucapkan kata "Sah" di luar sana, segera memeluk Safira.


"Selamat nak, kamu sudah resmi menjadi istri Abizar sekarang, semoga kalian selalu senantiasa bahagia sampai maut memisahkan nanti" ucap nyonya Sita sambil memeluk Safira.


"Andai dulu anakku tidak menyembunyikan kesalahannya dan mempertahankan pernikahannya, pastilah hingga saat ini wanita ini adalah menantuku. Sungguh aku sangat menyesali keterlambatan ku menyadarinya" batin nyonya Sita merasa sedih dengan kenyataan yang ada.


Tak lama kemudian Caca dan bu Resti datang menjemput Safira untuk segera di bawa ke hadapan Abizar yang sudah resmi menjadi suaminya.


"Selamat Fira, sekarang kamu sudah resmi jadi menantu ibu. Ibu sangat bersyukur dan beruntung mempunyai menantu seperti kamu. Semoga kamu dan Abi selalu di limpahkan kebahagiaan" ucap bu Resti memeluk Safira.


"Amin, terimakasih bu. Fira juga senang bisa jadi menantu ibu, doakan pernikahan kami selalu bahagia, bu" jawab Safira memeluk ibu Resti dan mengusap ujung matanya yang sedikit berair.


Kini giliran Caca yang juga ingin memeluk Safira.


"Selamat atas pernikahannya ya teh, Caca seneng akhirnya doa Caca selama ini terkabul juga" ucap Caca sambil memeluk Safira.


"Terimakasih banyak Ca, kamu memang adik yang terbaik" jawab Safira.


Setelah acara berpelukan selesai, Safira pun keluar di gandeng oleh Caca dan nyonya Sita di sampingnya, sedangkan bu Resti sudah kembali terlebih dahulu untuk menemani Abizar dan pak Bambang.


Safira perlahan melangkahkan kakinya di atas karpet merah menuju tempat Abizar, penghulu dan para saksi berada. Semua orang di sana terlihat sangat kagum dengan pengantin wanitanya, Safira terlihat memukau dengan kebaya khas sunda yang ia pakai untuk acara ijab qobul, sedangkan untuk acara resepsi ia akan memakai gaun yang lain.


"Kau sangat cantik lebih dari biasanya" gumam Abizar saat Safira sudah duduk di sampingnya.


Safira tersipu malu saat mendengar ucapan Abizar, dia hanya mampu menunduk sambil tersenyum.


"Terima kasih abang" ucap Safira sambil menunduk.


Setelah mereka selesai menandatangani buku nikah serta mendapatkan doa dari penghulu dan para tamu, Safira dan Abizar pun melakukan sungkem kepada orang tuanya Abizar. Karena Safira tidak memiliki keluarga yang lain, jadi ni Eti-lah yang mendampingi Safira.


Suasana di restoran yang sudah di sulap menjadi tempat pernikahan Safira dan Abizar itu terlihat ramai, banyak orang yang datang untuk mengucapkan selamat beserta memberikan doa restu pada kedua mempelai itu.


Arselo juga hadir di sana bersama Frans dan Zian. Arselo menatap sepasang pengantin itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Frans dan Zian menyadari hal itu dan malah menggoda Arselo.


"El, Gue kira loe yang bakal jadi pengantin hari ini" ucap Frans dengan jenaka.


Arselo tidak menghiraukan ucapan Frans.


"Bro, kayaknya sekarang pesona sahabat kita itu menurun, sehingga untuk meluluhkan hati ibu dari anak-anaknya saja dia tidak mampu" ucap Dian pada Frans yang sengaja berbicara keras agar Arselo mendengarnya.


"Yoi, Zi. Gue berpikir juga kayak gitu" mereka pun saling ber-tos ria menertawakan Arselo.


"Apa sih loe, bukan pesona gue yang menurun. Tapi karena Safira bukan cewek yang gampang untuk di rayu. Gue nyesel udah sia-siain dia dulu" ucap Arselo dengan pelan.


Kedua teman Arselo pun menepuk pelan bahu sahabatnya itu untuk memberikan semangat.


"Sabar bro, penyesalan memang selalu datang belakangan, sekarang loe tinggal memperbaiki semuanya kasihan anak-anak loe yang masih butuh perhatian loe sebagai ayahnya" ucap Zian.


Arselo pun membenarkan apa kata-kata Zian, dia menatap ketiga anaknya yang berada di depan sana, di atas pelaminan Safira dan Abizar dengan wajah yang penuh rasa bahagia.


Arselo tidak mampu berkata apa-apa lagi, dia hanya berfikir untuk memperbaiki semua kesalahan yang sudah ia lakukan sebelumnya, menyesal pun sekarang tidak ada gunanya.