
Setelah dua hari dua malam, akhirnya dokter sudah mengizinkan Qirani untuk pulang ke rumahnya. Safira begitu bersemangat saat mengetahui putri kecilnya sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, selama di rumah sakit Safira tidak pernah meninggalkan gadis kecilnya itu dia selalu menemaninya, beruntung kedua anak laki-lakinya mengerti saat Safira sedang menemani adik perempuannya.
"Sayang, Mama senang sekali karena akhirnya kamu sudah sehat kembali" ucap Safira sembari memeluk Qirani yang sedang berdiri di dekatnya, saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju parkiran rumah sakit.
"Kakak juga senang bisa pulang hari ini, Ma" jawab Qirani seraya tersenyum pada mamanya
Arselo mengikuti langkah Ibu dan anak itu dari belakang, ia tersenyum bahagia saat melihat Safira dan Qirani berjalan bersama.
"Semoga kalian sehat selalu" batin Arselo berdoa.
Saat sedang di lobby rumah sakit, seseorang menyapa Arselo dari belakang. Arselo dengan enggan, balikkan tubuhnya untuk melihat seseorang itu.
"Tuan, apa yang anda lakukan disini?" tanya Erika yang melihat keberadaan Arselo di lobby rumah sakit itu.
"Saya datang untuk menjemput anak saya yangkeluar dari rumah sakit hari ini" jawab Arselo.
Erika pun mengalihkan pandangannya pada sepasang Ibu dan anak perempuan yang berada tak jauh di belakang Arselo sedang menatap mereka.
"J**adi benar kalau tuan Arselo itu sudah memiliki istri dan juga anak? Sepertinya istri tuan Arselo juga tengah hamil" batin Erika menatap sedih.
Safira yang merasa ditatap sedih oleh seorang wanita yang sedang berbicara dengan Arselo pun, menghampiri mereka.
"Nona, apakah ada yang bisa kami bantu?" tanya Safira pada Erika.
Erika pun memanfaatkan kesempatan itu dengan bersandiwara.
"Nyonya, sebenarnya saya–"
Perkataan Erika yang digantung membuat Arselo dan Safira terheran.
"Ada apa Erika?" tanya Arselo penasaran.
"Tuan, sa–saya, saya sedang mengandung anak tuan Arselo" jawab Erika tiba-tiba.
Jawaban Erika membuat mata Arselo membulat seketika, begitupun dengan Safira yang tidak kalah terkejutnya seperti Arselo. Tapi tak lama kemudian, Safira mengubah mimik wajah terkejutnya menjadi wajah santai yang ramah.
"Hei, apa maksudmu aku tidak pernah sekalipun berada dekat dengan mu. Jangan berbicara omong kosong seperti ini" ucap Arselo dengan marah.
Safira segera mengusap lengan atas Arselo untuk menenangkannya.
"Benarkah? Bisa saya lihat buktinya?" tanya Safira.
Erika sedikit terkejut dengan pertanyaan Safira yang menurutnya lebih santai, ia kira Safira akan langsung menampar Arselo dan meninggalkannya.
"Bu–bukti?" tanya Erika gugup.
Kedatangan Erika ke rumah sakit adalah untuk menjenguk sang adik yang sedang dirawat di sana.
"Iya, bukti jika kamu sedang hamil anak Arselo" jawab Safira seraya menganggukkan kepalanya.
Erika terdiam saat dimintai bukti oleh Safira, dia bingung karena dia sendiri tidak sedang hamil dan tidak bisa menunjukkan bukti apapun.
"Ti–tidak, aku mengatakan yang sebenarnya" jawab Erika.
"Saya mempunyai bukti, dan saya akan menunjukkannya besok padamu Nyonya" sambung Erika lagi dengan pasti.
"Tidak perlu menunggu besok, ayo aku antarkan kau untuk ke dokter kandungan. Kita akan memeriksanya bersama di sana" ajak Safira pada Erika.
Erika semakin dibuat kebingungan, jika ia ketahuan berbohong maka iya akan kehilangan pekerjaannya dan tidak menutup kemungkinan Arselo akan menuntutnya juga.
"Tidak perlu sekarang Nyonya, saya tahu pasti anda sedang sibukkan?" tanya Erika coba mengalihkan.
"Aku sedang tidak sibuk. Aku bisa menemani mu untuk memeriksakan kandungan mu" jawab Safira.
Arselo sudah menyadari jika Erika sedang membohonginya, ia pun melangkah menuju untuk menggapai tangan Safira.
"Fira, sudahlah. Aku tidak ingin kamu terlalu lelah. Ayo kita pulang sekarang, biar Sofyan yang mengurus wanita itu" ucap Arselo seraya menarik pelan tangan Safira.
Safira pun mulai mengikuti langkah Arselo karena tangannya masih digenggam oleh pria itu, sedangkan tangan Safira yang sebelah lagi menggenggam tangan Qirani.
"El, siapa wanita itu?" tanya Safira saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Dia adalah salah satu staf yang bekerja di kantor ku. Aku tidak tahu apa maksud dirinya berkata seperti tadi" jawab Arselo.
"Hmmm, aku fikir dia menyukai mu. Makanya dia sampai bersikap seperti itu, mungkin dia pikir aku adalah istrimu dan akan membuatku cemburu padanya" ucap Safira.
Arselo terdiam, karena ia menyadari jika Erika bersikap seperti itu mungkin memang karena mengira Safira adalah istrinya, apalagi tadi saat bertemu dia berkata menjemput anaknya yang keluar rumah sakit hari ini.
"Kenapa kamu diam, El?" tanya Safira yang melihat Arselo terdiam.
"Hmmm, sebenarnya aku mau mengakui sesuatu padamu" jawab Arselo.
Safira mengerutkan keningnya ia tidak ngerti dengan jawaban Arselo.
"Mengakui apa, El?" tanya Safira penasaran.
"Sebenarnya aku pernah berkata pada Erika, jika aku ini sudah memiliki istri dan anak" jawab Arselo.
"Lalu apa hubungannya dengan ku?" tanya Safira belum mengerti.
"Mungkin tadi dia mengira jika kamu adalah istriku" jawab Arselo membuat Safira membulatkan matanya.
"Benarkah?" tanya Safira
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk membawamu dalam masalahku hanya saja waktu itu aku tidak mempunyai pikiran lain untuk menolak Erika yang membuatku malu di hadapan klien" jawab Arselo merasa menyesal.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Aku mengerti jika kamu melakukan itu karena terpaksa" ucap Safira.
Setelah mengakui perkataan Arselo, ia pun kembali terdiam dan tidak mengatakan apa-apa lagi. sedangkan Safira kembali sibuk dengan Qirani yang banyak bertanya tentang kedua saudara laki-lakinya.