
Suasana riuh di restoran itu masih berlangsung hingga sore hari, para tamu masih berdatangan silih berganti untuk memberikan selamat pada sepasang pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahannya.
Tiba-tiba saja Abizar seperti menyadari ada seseorang yang memperhatikan mereka dari luar restoran, orang itu menatap tajam kearah mereka.
"Sayang Apa kau lihat seseorang yang berada diluar itu?" tanya Abizar pada Safira sambil menunjukkan arah itu dengan dagunya.
Saat Safira menoleh untuk mengikuti arah yang suaminya tuju, dia tidak menemukan apa-apa hanya para tamu saja yang baru keluar dari tempat itu.
"Di luar gak ada apa-apa bang" jawab Safira setelah melihat ke arah luar.
"Tapi tadi aku melihat jika ada seseorang yang terus memperhatikan kita, orang itu hanya memakai jaket kulit hitam dan juga topi. aku sedikit merasa khawatir" ucap Abizar.
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja, Sudahlah jangan terlalu dipikirkan" ucap Safira untuk menenangkan Abizar.
"Ya mungkin kau benar itu hanya perasaanku saja" jawab Abizar.
Setelah acara resepsi yang digelar di restoran itu selesai, Abizar dan Safira pun kembali ke rumahnya beserta anak-anak. Anak-anak itu tidak mau berjauhan dengan Safira dan Abizar, bahkan saat Bu Resti dan Pak Bambang mengajak ketiga anak itu untuk menginap di apartemen, mereka langsung menolak begitu saja.
"Bagaimana kalau kalian nginep di rumah Oma?" tanya nyonya Sita pada ketiga cucunya.
"Gak mau Oma, kami mau tidur sama mama dan papa" jawab Dayyan yang langsung dianggukki oleh adik-adiknya.
"Kita akan tidur bersama papa El juga" bujuk Arselo.
"Gak mau papa El, kami tetap mau sama papa Abi dan mama" jawab Raiyan.
Dayyan dan Qirani pun menganggukkan kepalanya bersama-sama tanda setuju atas perkataan saudaranya.
"Sudahlah tidak apa-apa, jangan dipaksakan" ucap Abizar menengahi.
"Lalu bagaimana dengan mu? Apa kamu tidak apa-apa?" hanya Arselo.
Abizar pun tertawa atas pertanyaan yang diajukan Arselo padanya.
"Memangnya aku kenapa?" tanya balik Abizar.
Mendapat pertanyaan yang seperti itu Arselo menjadi malu sendiri, tentu saja karena Abizar bukanlah dirinya.
"Baiklah lupakan saja, Aku punya sesuatu untuk kalian-" ucap Arselo sambil mengeluarkan dua tiket liburan. "-Anggap saja ini adalah hadiah atas pernikahan kalian" sambung Arselo menyerahkan kedua tiket itu pada Safira dan Abizar.
Bukan Safira ataupun Abizar yang mengambil tiket itu melainkan kedua anaknya Raiyan dan Qirani, sedangkan Dayyan tidak kebagian karena dia kalah cepat oleh adik-adiknya.
"Yeee....!!! Kita liburan...!!!" ucap kedua anak itu sambil melompat-lompat girang.
Abizar dan Safira tersenyum melihat kedua anak itu.
"Abang juga mau ikut liburan ma, pa" rajuk Dayyan dengan tatapan puppy eyes-nya.
Abizar pun mengangguk untuk menuruti keinginan Dayyan.
"Tentu saja, ayo kita pergi liburan bersama" ucap Abizar kepada ketiga anak itu.
"Aku sungguh minta maaf karena tidak bisa membujuk anak-anak ku sendiri" ucap Arselo dengan nada yang menyesal.
"Tidak apa-apa, santai saja" jawab Abizar.
Setelah berbasa-basi sebentar Arselo pun kembali ke rumah bersama kedua orangtuanya, sedangkan Bu Resti, ni Eti dan Pak Bambang sudah kembali ke apartemen bersama Caca sejak resepsi tadi selesai.
Kini di rumah itu tinggal Abizar, Safira beserta anak-anak. Setelah selesai makan malam bersama, anak-anak itu tidak terlihat mengantuk atau kelelahan sama sekali, justru mereka malah terlihat sangat bersemangat dan segar.
"Papa Abi, apa kami yang boleh tidur bersama mama dan papa? kami sangat ingin tidur bersama, karena hal itu sangat menyenangkan dan ingin melakukannya juga" ucap Raiyan pada Abizar.
Abizar tersenyum atas penuturan Raiyan, dia pun menganggukkan kepalanya sambil mengusap sayang kepala Rayan.
"Tentu saja sayang, ayo kita tidur bersama-sama" ucap Abizar menyetujui permintaan anak sambungnya itu.
"Hore...!!!" teriak ketiga anak itu merasa senang.
Safira yang tengah di dapur pun merasa heran, karena anak-anaknya berteriak kegirangan. Karena penasaran lantas ia pun menemui anak-anak serta suaminya itu yang berada di kamar.
"Ada apa apa? Kenapa ramai sekali?" tanya Safira pada Abizar dan anak-anaknya.
"Kami akan tidur bersama mama dan papa, kami sangat senang" jawab Qirani.
Safira mengerutkan keningnya dan mengangkat sebelah alisnya.
"Iya sayang, mereka ingin tidur bersama kita. Bolehkan?" tanya Abizar pada istrinya.
Safira hendak menolak keinginan anak-anaknya itu, tapi anak-anak itu membujuknya dengan tatapan puppy eyes-nya yang membuat Safira tidak tega untuk menolaknya.
"Boleh ya ma?" tanya Dayyan.
"Sudahlah sayang biarkan mereka tidur bersama kita" ucap Abizar membela anak-anak.
"Kalau abang tidak keberatan, terserah saja" jawab Safira dengan nada yang acuh.
Safira pun berlalu dari kamar itu menuju kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai. Karena besok mereka akan berangkat pagi-pagi sekali, jadilah Safira menyiapkan beberapa keperluannya malam ini.
Setelah selesai, ia pun kembali ke kamar untuk mengajak anak-anaknya menyikat gigi serta cuci tangan kaki dan tangan terlebih dahulu.
"Anak-anak ayo kita cuci tangan dan kaki serta sikat gigi dulu sebelum tidur" ajak Safira pada ketiga anaknya.
"iya, ma" jawab ketiga anak itu bersama-sama.
Mereka pun beriringan menuju kamar mandi yang ada di kamar Safira, Safira, Abizar dan anak-anak menggosok gigi mereka bersama-sama.
"Hal yang hanya pernah ku bayangkan dulu, kini aku alami. Meskipun hanya acara menggosok gigi bersama-sama, tapi jika dilakukan dengan orang yang kita sayangi, hal itu itu menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri, terima kasih kalian sudah mau menerimaku yang awalnya bukan siapa-siapa ini" batin Abizar sambil menatap bayangan keempat orang yang ia cintai lewat cermin yang ada di depannya.
Ini memang malam pertama Abizar dan Safira setelah mereka menikah. Tapi jangan salah, meskipun Abizar tidak bisa tidur berdua dengan Safira yang kini sudah menjadi istrinya, Abizar merasa bahagia dan bersyukur. Bersyukur atas apa yang sudah terjadi padanya. Penantian hampir selama tujuh tahun itu kini sudah terbayar dengan kebahagiaan yang ia rasakan, bahagia karena bisa bersama-sama dengan Safira dan juga anak-anak.
"Tuhan, terima kasih atas semua kebahagiaan yang sudah engkau limpahkan padaku, Meskipun aku harus menunggu lama, tapi aku tidak menyesalinya. Aku harap semoga kebahagiaan yang kini kurasakan akan berlangsung lama hingga waktu yang aku punya habis. Terimakasih untuk mu wanita ku, aku mencintaimu dan anak-anak" batin Abizar seraya bangkit dari tidurnya untuk mengecup kening tiga anak sambungnya dan juga Safira istrinya, yang sudah tertidur lelap. Setelah itu ia pun kembali tidur dan memeluk Safira dari belakang.