Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 45



Kepergian Vivi membuat Arselo geram dan marah, bahkan terus-terusan mengumpat Sofyan karena tidak bisa diandalkan untuk terus menjaga agar Vivi tidak kabur.


Kini Sofyan beserta anak buahnya yang lain tengah mati-matian berusaha untuk menemukan Vivi kembali. Bahkan CCTV yang berada di Rumah Sakit pun hanya bisa menampilkan saat Vivi sedang berhenti untuk menaiki taksi.


"El, kira-kira siapa yang akan menolong Vivi saat keadaannya seperti itu itu?" tanya Nyonya Sita yang ikut membantu mencari Vivi.


Nyonya Sita juga merasa prihatin dengan keadaan bayi perempuan yang Vivi lahirkan, meskipun itu bukan cucu kandungnya tapi dia merasa kasihan dan iba.


"Entahlah ma aku tidak begitu mengenal Vivi, aku akan meminta bantuan pada Frans dan juga Zian" jawab Arselo sambil mengambil telepon genggam di sakunya untuk menelpon kedua sahabatnya itu.


"El, Apa kamu sudah menelpon anak-anak hari ini?" tanya Nyonya Sita.


"Sudah tadi pagi ma, keadaan Raiyan juga sudah membaik, hari ini dia sudah bisa sekolah lagi" jawab Arselo.


"Syukurlah kemarin Mama tidak sempat ke sana, karena mama harus pergi ke rumah tante kamu" ucap Nyonya Sita.


Arselo pun mengangguk mengerti.


***


Safira hari ini mulai mengantarkan ketiga anaknya sendiri ke sekolah, hari ini dia izin lagi pada Abizar untuk tidak ke restoran. Beruntung Caca saat ini sedang libur kuliah jadi dia yang akan ke restoran, mereka pagi ini berangkat bersama.


"Teh, kata bang Abi, anak-anak sudah ketemu sama papa kandungnya ya?" tanya Caca saat mereka berjalan menuju TK tempat anak-anak bersekolah.


"Iya Ca, teteh kira kami gak akan ketemu secepat ini" jawab Safira.


"Gimana reaksi anak-anak saat mereka ketemu sama papanya?" tanya Caca ingin tahu.


"Gak gimana-gimana, Ca. Anak-anak gak terlalu antusias, cuma Rai aja yang keliatan seneng banget, sedangkan Day sama Qiran mereka cuek" jawab Safira.


"Oh, wajar sih kalau anak-anak bersikap kayak gitu karena mereka taunya secara tiba-tiba" ucap Caca yang mendapat anggukan dari Safira.


"Mmmmh, terus gimana sama teteh sendiri?" tanya Caca lagi.


"Maksudnya?" tanya Safira yang tidak mengerti arah pertanyaan Caca.


"Apa teteh sudah memaafkan papanya anak-anak?" tanya Caca.


Safira tidak langsung menjawab, ia diam dan menarik nafasnya panjang sambil melihat anak-anak berjalan bergandengan tangan di depan mereka.


"Aku sedang belajar untuk memaafkannya, Ca" jawab Safira pelan.


"What? Teh, yang bener aja teteh dengan mudahnya memaafkan dia?" tanya Caca ngegas.


"Ca, coba menurutmu teteh harus kaya gimana? Di satu sisi hati teteh sakit dan kecewa dengan dia, tapi di sisi lain ada anak-anak yang menginginkan kasih sayang dari papanya? Bisa saja teteh gak maafin dia, tapi bagaimana dengan anak-anak yang nanti akan berfikir jika kami saling membenci. Itu gak akan bagus buat perkembangan psikologis mereka" terang Safira.


"Tetep aja teh, kalau laki-laki itu gak di kasih pelajaran bisa-bisa dia berbuat hal yang sama untuk ke dua kalinya karena dia fikir akan mudah mendapatkan maaf dari teteh dan anak-anak juga" ucap Caca sambil cemberut yang menyayangkan sikap Safira yang dengan mudah bisa memaafkan Arselo.


"Teteh rasa itu gak akan mungkin deh, Ca. Karena dia juga pasti akan berfikir jika aku kecewa maka anak-anak akan kecewa juga dan akan menjauhinya lagi. sekarang saja Arselo cukup kesulitan untuk bisa dekat dengan Qirani dan Dayyan. Aku juga ingin melihat sampai sejauh mana dia berusaha untuk mendekatkan dirinya dengan anak-anak" terang Safira.


"Aku tidak akan berbuat apa-apa, Jika dia sudah bisa mengambil hati anak-anak, aku bersyukur berarti anak-anak sudah nyaman dengan dia" jawab Safira.


Obrolan mereka terhenti ketika Safira sudah sampai di sekolah anak-anak.


"Teteh bakal nungguin anak-anak sampai pulang. sebaiknya Caca segera ke restoran karena hari ini akan ada pengiriman barang untuk ke dapur, nanti kalau kami sudah pulang, kami akan mampir ke restoran" ucap Safira.


Dengan malas Caca pun menganggukkan kepalanya, sebenarnya ia masih ingin mengobrol lebih banyak lagi dengan Safira. Caca ingin mengetahui perasaan Safira pada Abizar, karena Caca berharap jika Safira dan Abizar untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, singkatnya ia ingin memastikan perasaan Safira agar tidak goyah meskipun sudah ada ayah dari anak-anak.


"Baiklah aku pergi sekarang, aku akan menunggu Teteh dan anak-anak siang nanti" jawab Caca dengan malas.


Safira pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Setelah kepergian Caca, Safira pun melangkah masuk menuju taman biasanya tempat ibu-ibu menunggu anak-anak mereka. Kali ini Safira memilih untuk duduk sendiri lagi ketimbang bergabung dengan ibu-ibu yang lainnya, demi menghindari kejadian yang sudah pernah terjadi sebelumnya.


"Anak-anak, Mama akan tunggu di sini lagi ya. Kalian belajarlah yang tekun" nasihat Safira untuk anak-anaknya.


"Baik Mama, kami akan masuk dulu sekarang" jawab Dayyan mewakili kedua adiknya.


Safira tersenyum mendengar jawaban Dayyan, dia mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala ketiga anak-anaknya.


Dayyan, Raiyan dan Qirani berjalan bersama menuju kelas mereka, mereka juga menyapa beberapa teman yang berjalan searah dengannya.


Saat Safira sedang duduk sendiri di taman itu tiba-tiba teleponnya berdering, iya pun mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menelponnya.


"Sarah, Ada apa dia meneleponku pagi-pagi begini?" gumam Safira pelan saat ia melihat ID pemanggil yang tertera di ponselnya, Safira pun segera mengangkat telpon dari sarah.


"Assalamualaikum, Sar" sapa Safira saat teleponnya telah terhubung.


"Waalaikumsalam Fir, Ada hal gawat" ucap Sarah dengan nada yang panik dan terburu-buru.


"Ada apa Sarah? Kenapa kamu panik begitu?" tanya Safira.


"Ini gawat banget Fira, Aku dapat kabar dari Zian, katanya Vivi kabur tadi pagi" ucap Sarah.


"Zian siapa, Sar? Dan bukannya kemarin dia habis lahiran? Arselo juga tadi pagi telpon anak-anak tapi gak ngomongin itu" jawab Safira.


"Aku juga baru dapat kabar barusan Fir, Zian nanyain Vivi ke aku" terang Sarah.


"Hmmm, terus hal yang gawatnya apa?" tanya Safra karena tidak mengerti.


Sarah menarik nafasnya dalam dia lupa jika Safira tidak mengenal Vivi. Sarah pun menceritakan dengan singkat kepribadian menyimpang Vivi.


"Jadi maksud mu Vivi itu seorang psikopat?" tanya Safira


Sarah menganggukkan kepalanya seakan Safira melihat apa yang dia lakukan.


"Kmu dan anak-anak harus hati-hati Fir, karena Vivi tidak akan segan-segan mencelakai orang yang sudah mengambil apa yang harusnya menjadi miliknya" jelas Sarah.