
Hari terus berganti, tak terasa sudah tiga minggu sejak ke datangan orang tua Abizar dari desa ke kota untuk membantu Abizar menyiapkan resepsi pernikahannya yang tinggal satu minggu lagi.
"Anak-anak, hari ini kalian ke sekolah di antar Mbak Anisa dan Nini ya. Mama gak bisa antar kalian hari ini" ucap Safira pada ketiga anaknya.
"Mama mau kemana?" tanya Dayyan.
"Mama mu harus pergi untuk mencoba baju pengantin yang akan di pakainya nanti saat menikah depan papa Abi" jawab Caca yang saat itu menginap di rumah Safira.
Mulai saat dua minggu yang lalu, Safira sudah meminta anak-anaknya untuk memanggil Abizar dengan sebutan papa, hal itu membuat anak-anak sangat bahagia bahkan sampai melompat-lompat kegirangan.
Tapi Abizar juga menyuruh anak-anak untuk memanggil dan menganggap Arselo sebagai ayah mereka terutama Dayyan dan Qirani yang saat itu masih selalu memanggil Arselo dengan sebutan om.
Dan saat itu pula kedua anak itu mulai membiasakan diri memanggil Arselo dengan sebutan papa, meskipun Dayyan dan Qirani masih memanggilnya dengan kaku, tapi Arselo tidak mempermasalahkannya.
"Baiklah aunty" jawab Dayyan.
"Mama Apakah kami boleh makan siang bersama papa El, hari ini?" tanya Raiyan.
"Tentu saja boleh, asalkan kalian pulang dulu ke rumah untuk mengganti baju" jawab Safira.
"Oke mama" ucap Raiyan dengan senang.
Tak lama kemudian terdengar suara Deru mesin mobil di luar halaman rumah, dari dalam rumah terlihat Nyonya Sita dan Tuan Ardan datang mengunjunginya.
"Teteh sepertinya di luar ada orang tua Mas Arselo yang datang" ucap Caca memberitahukan Safira.
"Benarkah?" tanya Safira memastikan.
Caca mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda jawaban.
"Sebaiknya Teteh temui mereka dulu, siapa tahu ada hal penting yang ingin mereka sampaikan" ucap Caca yang menyuruh Safira untuk menemui kedua orang tua Arselo.
"Ya sudah Teteh ke depan dulu" jawab Safira sambil melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.
"Om, tante ada apa pagi-pagi datang ke sini?" tanya Safira, saat ia sudah berada di hadapan nyonya Sita dan tuan Ardan.
"Tidak ada apa-apa Fira. Kami hanya ingin bertemu dengan anak-anak, apa mereka ada?" tanya nyonya Sita.
Safira pun tersenyum dan mengangguk.
"Mereka dan di dalam tante, sebentar Fira panggilkan dulu" jawab Safira dan seraya bangkit dari duduknya untuk memanggil ketiga anak-anaknya.
"Oma, opa..."
"Oma, opa..."
"Oma, opa..."
Seru ketika anak itu saat mereka sudah ada di depan pintu ruang tamu. Setelah mengantarkan anak-anak pada Tuan Ardan dan nyonya Sita, Safira pun pamit lagi ke belakang untuk meneruskan pekerjaan yang tertunda.
"Oma, Qiran rindu" ucap Qirani saat sudah berada di hadapan nyonya Sita.
"Oma juga rindu Qiran" jawab Nyonya Sita sambil memeluk cucu perempuannya itu.
Sedangkan Dayyan dan Raiyan sudah berada di pangkuan Tuan Ardan.
"Apa kalian mau berangkat ke sekolah bersama Opa?" tanya Tuan Ardan pada ke dua cucunya yang berada di pangkuannya.
"Hari ini kami akan berangkat bersama Nini dan Mbak Anisa, opa" jawab Dayyan.
"Oh gitu ya. Padahal hari ini Oma dan Opa ingin menghabiskan waktu bersama kalian" ucap Nyonya Sita dengan nada yang sedih.
"Benarkah, Apa kami boleh ikut?" tanya Tuan Ardan.
"Tentu saja Opa, Pasti akan sangat menyenangkan jika aunty Sela juga bisa ikut, jadi kita bisa makan siang ramai-ramai" ucap Qirani.
"Baiklah nanti siang kami akan menjemput kalian di sekolah" ucap Tuan Ardan.
"Hore....!"
Seru ketiga anak itu merasa senang.
Tak lama kemudian Safira pun hadir di antara mereka.
"Ada apa ini sepertinya seru sekali?" tanya Safira yang merasa heran karena ketiga anaknya melompat riang.
"Siang ini kami akan makan bersama Oma, Opa, Aunty Sela dan papa El" jawab Raiyan dengan girangnya.
"Oh... Baiklah jika seperti itu. Tapi kalian jangan nakal ya?" tanya Saphira pada ketiga anaknya yang langsung mengangguk dengan semangat.
Setelah selesai berbincang sebentar dengan tuan Ardan dan nyonya Sita, datanglah Abizar dan kedua orang tuanya, Bu Resti dan Pak Bambang.
Mereka berempat bersalaman dan saling menyapa satu sama lain.
"Senangnya ya bu, sebentar lagi Abizar akan menikah dengan Safira" ucap nyonya Sita.
"Alhamdulillah bu, saya sangat senang akan hal itu. Lagipula kami juga sangat menyayangi ketiga anak-anaknya Safira seperti cucu kami sendiri" jawab Ibu Resti.
Sedangkan Pak Bambang dan Tuan Ardan, mereka berbincang di luar mengenai bisnis yang tengah mereka jalin bersama, semenjak mengenal pak Bambang, Tuan Ardan jadi lebih tertarik pada peternakan ikan dan juga bercocok tanam.
"Terima kasih bu Resti, karena sudah menyayangi ketiga cucu kami seperti cucu kalian sendiri" ucap Nyonya Sita yang merasa senang sekaligus terharu, karena ternyata ibu Resti dan juga Pak Bambang tidak mempermasalahkan ketiga cucunya.
"Ibu Sita tidak perlu berterima kasih karena kami memang sudah menyayangi mereka dari dulu" jawab ibu Resti.
"Tetap saja Bu, saya merasa terharu sekaligus senang karena calon nenek mereka adalah orang baik" ucap nyonya Sita sambil menggenggam tangan Bu Resti.
"Alhamdulillah Bu. Kami menyayangi mereka dengan tulus" jawab Bu Resti.
"Syukurlah. Saya merasa tenang sekarang" ucap nyonya Sita tersenyum hangat.
Sejenak para ibu itu mengobrol sebelum akhirnya bu Resti pamit terlebih dahulu untuk mengantarkan anak-anak ke sekolah bersama dengan Anisa.
***
Abizar dan Safira berangkat untuk fitting baju setelah Caca berangkat ke restoran yang Safira kelola.
"Fir, bagaimana perasaan mu, apa bahagia?" tanya Abizar. Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan menuju butik yang sudah mereka siapkan sebelumnya.
"Aku sangat bahagia sekali, bang. Dulu aku tidak pernah berani bermimpi dan berharap jika suatu saat nanti akan menikah, semua ini berkat mu, bang. Terima kasih banyak" jawab Safira sambil menggenggam tangan Abizar yang ada di sebelahnya.
Abizar tersenyum mendengar jawaban Safira.
"Kamu jangan berpikir seperti itu Fira, aku menikahi mu karena aku mencintaimu dan aku juga menyayangi anak-anakmu, aku sungguh tidak ingin kehilangan kalian" ucap Abizar.
Lagi-lagi Safira dibuat tersentuh dengan kata-kata yang Abizar ucapkan.
"Semoga kita selalu mendapatkan kebahagiaan yang berlimpah" jawab Safira.
"Amiiin" ucap Abizar mengamini doa Safira.