Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 74



Siang ini Arselo berniat mengajak ketiga anaknya untuk ikut bersamanya melihat tempat wisata yang ia bangun di desa itu, tadi malam Arselo, Arsela, Nyonya Sita dan Tuan Ardan memilih tidur di cottage milik mereka.


"Abang, dimana kedua adikmu yang lain?" tanya Arselo saat tidak menemukan kedua anaknya yang lain, dan hanya melihat Dayyan yang sedang membaca buku cerita miliknya.


"Rai dan Qiran sedang di sawah, mama minta di ambilkan tutut (sejenis siput sawah), dan nini mengantar mereka. Sedangkan aku diminta untuk menemani mama" jawab Dayyan.


"Oh, apa tempatnya jauh?" tanya Arselo ingin tahu.


"Tidak, mereka ada di sawah belakang pa" jawab Dayyan.


"Lalu, kemana mama mu sekarang?" tanya Arselo yang tidak melihat kehadiran Safira disana.


"Mama baru saja masuk kamar, dari tadi bulak-balik ke WC terus" jawab Dayyan sambil menyimpan buku yang ia baca tadi.


"Mungkin mama mu sedang mabuk. Tadinya papa ingin mengajak kalian ke tempat wisata yang ada di dekat sini" ujar Arselo.


"Maaf pa, aku tidak bisa ikut. Aku mengkhawatirkan mama jika meninggalkannya" jawab Dayyan.


"Tidak apa-apa, papa mengerti sayang" ucap Arselo mengusap kepala Dayyan.


Tak lama kemudian Safira keluar kamar dengan tergopoh-gopoh menuju WC di rumah itu.


"Uek... uek... uek..." Safira kembali berusaha mengeluarkan cairan bening dan pahit dari mulutnya.


Arselo mengikuti Safira ke dapur dan mengetuk-ngetuk pintu WC itu.


"Fira, apa kamu baik-baik saja" tanya Arselo khawatir.


"Pa, apa mama muntah-muntah lagi?" tanya Dayyan yang mengikuti Arselo ke dapur.


"Seperti iya bang. Apa nini punya jahe?" tanya Arselo saat ia mengingat sesuatu.


"Ada pa, di luar ada tanaman jahe" jawab Dayyan sambil menunjukan salah satu tanaman rungkun yang ada di halaman belakang rumah itu.


"Baiklah. Papa akan ambil jahe dulu, kamu temani mama lagi" perintah Arselo yang di angguki Dayyan.


"Iya pa" jawab Dayyan sambil kembali ke depan pintu WC dan menunggu mamanya keluar.


Arselo keluar dari pintu dapur dan mencoba menggali tanaman jahe, meskipun papanya mulai bercocok tanam, tapi ini pengalaman pertamanya menggali jahe. Meskipun sedikit kesulitan dan memakan waktu cukup lama, akhirnya ia berhasil menggali jahe dan mengambilnya.


Dengan telaten Arselo menyiapkan air jahe hangat untuk Safira yang sedang mabuk, saat hendak merebus jahenya, Arselo sedikit kebingungan bagaimana cara menghidupkan api di tungku itu.


"Bagaimana cara menghidupkannya? Tidak mungkin jika tidak di rebus" gumam Arselo sambil menggaruk pelipis yang tidak gatal.


Saat ia sedang kebingungan, ni Eti dan dua anaknya yang lain masuk dari pintu dapur itu.


"Ada nak El?" tanya ni Eti yang melihat Arselo sedang berada di dapurnya dan memegang panci kecil.


"Iya ni, tadi aku kemari" jawab Arselo.


"Nak El mau ngapain? Kenapa pegangin panci?" tanya ni Eti.


"Maaf lancang ni, tadinya saya mau rebus jahe untuk Safira. Tapi saya bingung karena tidak bisa menyalakan api di tungku itu" jawab Arselo sembari menunjuk ke arah tungku yang sudah ia susun kayu bakar penuh.


Ni Eti tersenyum mendengar jawaban Arselo. Dengan sabar, ni Eti menunjukkan cara menghidupkan api di tungku itu.


"Iya ni" jawab Arselo.


"Papa, mama masih mabuk ya?" tanya Qirani sedih, karena sejak pagi ia mengetahui jika mamanya terus-terusan mual dan pusing, sejak pagi juga mamanya belum masuk makan dengan benar.


"Masih sayang, makanya papa mau buat air jahe buat mama. Mudah-mudahan mual-nya sedikit berkurang" jawab Arselo.


"Apa mama sakit karena ada adik bayi di perutnya, pa?" tanya Raiyan yang penasaran.


"Iya sayang, makanya kita harus temani mama. Jangan jauh-jauh dari mama, takutnya mama jatuh dan itu bisa bikin adik bayi dan mama sakit" jawab Arselo sedikit menerangkan, karena ia sendiri pun tidak terlalu mengetahui tentang wanita hamil.


Air jahe yang ia buat pun baru diketahuinya tadi malam.


"Ada untungnya aku searching tentang seputar kehamilan, ilmunya bisa aku terapkan sekarang" batin Arselo bangga.


"Apa mama akan lama sakitnya, pa?" tanya Qirani lagi.


"Tidak akan, mudah-mudahan mama sakitnya tidak lama. Sebaiknya kita doakan saja seperti itu" jawab Arselo pada Qirani.


"Oh ya, mana siput yang tadi kalian ambil?" tanya Arselo saat kedua anaknya tak membawa apa-apa.


"Siputnya kami rendam dulu dengan parutan kelapa, pa. Biar nanti gak rasa lumpur kalau di makan" jawab Raiyan.


Arselo pun menganggukkan kepalanya mengerti. Setelah mendengar jawaban anaknya, ia pun mengecek kembali rebusan air jahe yang ia buatkan untuk Safira.


"Ni, apa ini sudah cukup?" tanya Arselo yang tidak faham dengan rebus merebus.


"Ini sudah cukup, sekarang sudah bisa di tuangkan ke gelas. Nanti berikan jika sudah hangat" ucap ni Eti setelah ia mengecek rebusan jahe itu.


Arselo pun dengan pelan-pelan mulai menuangkan air jahe itu ke dalam gelas dan mendinginkannya sebentar.


"Fira, bagaimana keadaan mu sekarang? Apa masih mual?" tanya Arselo saat menemui Safira yang sedang terbaring di temani Dayyan yang sedang mengusap kepala Safira.


"Masih sedikit pusing El" jawab Safira sambil berusaha duduk dari tidurannya.


Arselo menyimpan air jahe yang bawa dan mendekat ke arah ranjang untuk membantu Safira duduk.


"Aku membawakan air jahe untuk mu, maaf jika rasanya kurang pas. Aku baru pertama kali membuatnya, tapi mudah-mudahan bisa mengurangi rasa mual mu" ucap Arselo sambil menyodorkan gelas yang berisi air jahe yang sudah mulai hangat.


"Terimakasih El" jawab Safira sambil menerima gelas yang Arselo berikan padanya. Safira pun meminumnya sedikit karena masih terlalu panas menurutnya.


"Apa kita perlu berobat Fir?" tanya Arselo yang tidak tega melihat ibu dari anak-anaknya itu terbaring lemah.


"Aku baik-baik saja El, tidak apa-apa" jawab Safira menolak.


Arselo tidak bisa memaksa Safira untuk menurut padanya. Ia sadar, jika hubungannya dengan Safira belum terlalu dekat meskipun ada anak-anak di antara mereka.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Tapi jika ada sesuatu yang kau inginkan, segera hubungi aku. Aku akan berusaha mengabulkan apapun keinginan mu" ucap Arselo hendak meninggalkan Safira dan Dayyan yang masih setia menemani mamanya yang masih terbaring disana.


Safira merasa terharu dengan ucapan Arselo, lagi-lagi ia mengingat almarhum suaminya dulu saat ia masih mengandung ketiga anak pertamanya.


"Terimakasih banyak El, maaf karena sudah merepotkan mu" ucap Safira tersenyum.