
Hari ini, Safira dan Arselo berencana untuk mengunjungi rumah yang sudah Arselo bangun beberapa tahun yang lalu. Mereka berangkat hanya berdua saja, karena anak-anak sedang sekolah, sedangkan Divya tidak diizinkan keluar oleh Nyonya Sita.
Sesampai di sana, Safira cukup terkejut dengan perubahan yang sudah Arselo lakukan pada rumah itu, perubahannya sangat terlihat dari saat terakhir kali ia dan anak-anak berkunjung ke rumah itu.
"El, apa kamu merubah semua susunan rumahnya?" tanya Safira saat dia baru saja keluar dari dalam mobil. Ia cukup takjub melihatnya, tapi juga menyayangkannya.
Arselo mengangguk sambil tersenyum. "Aku hanya ingin membuat kalian nyaman dan betah di rumah ini."
Safira menggeleng pelan, ia tidak habis pikir dengan Arselo, suaminya. "Kenapa kamu merubahnya sampai 60%? Itu sangat pemborosan, padahal uangnya bisa kamu gunakan untuk hal yang lain. Lagipula kami juga menyukai model rumah yang lama," ucap Safira sambil menekuk wajahnya, ia tidak menyukai sifat Arselo yang seperti ini.
"Maaf, aku fikir kamu akan menyukainya. Kita bisa merubahnya kembali seperti semula, jika kamu suka model yang lama." Arselo mengucapkannya dengan mudah, semudah membalikkan telapak tangan.
Safira menatap Arselo dengan tidak percaya. "Apa kamu tidak mengerti dengan maksud ucapanku, El?"
Arselo menggeleng lagi, ia memang tidak mengerti dengan Safira, tapi setelah terdiam beberapa saat, barulah ia paham dan segera meminta maaf dengan benar. Arselo mengambil tangan Safira dan menggenggam tangan istrinya dan memintanya untuk menghadap padanya.
"Baiklah, aku salah ... aku minta maaf ... aku tidak bermaksud apa-apa, hanya saja saat itu aku berfikir jika kalian akan lebih nyaman dengan suasana yang baru, jadi aku memilih untuk merenovasinya," ucap Arselo dengan menatap wajah istrinya yang masih tertekuk kesal.
"Aku tidak ingin jika kamu menjadi boros, El." Safira mencoba memberi pengertian pada suaminya.
Arselo pun mengangguk paham. "Iya, aku mengerti maksudmu, maafkan aku."
"Hmmm." Safira hanya berdehem untuk menjawab ucapan suaminya.
"Baiklah, apa sekarang kamu mau melihat bagian dalam rumahnya?" tanya Arselo saat melihat Safira merileks'kan lagi wajahnya.
"Ya, ayo." Safira berucap sambil sedikit menyunggingkan senyum, biar bagaimanapun Arselo menginginkan yang terbaik untuk semua anggota keluarganya, jadi ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Arselo.
Mereka pun mulai memasuki area dalam rumah itu, perabotan yang asalnya sedikit, kini sudah mulai bervariasi. Bahkan Arselo juga menambahkan beberapa furniture baru yang menurut Safira tidak begitu penting.
"Apa kamu menyukainya, sayang?" tanya Arselo saat mereka sudah berada di bagian dalam ruang tamu.
"Sebenarnya aku tidak terlalu mempermasalahkan tampilannya, yang penting semua barang di sini aman untuk anak-anak," jawab Safira sambil terus melihat setiap sudut rumah itu.
"Hmmm, baiklah. Apa kamu yakin tidak ada hal yang ingin di ubah lagi?"
Safira menggeleng pelan, ia sudah cukup puas dengan tampilan rumah barunya saat ini. "Tidak ada, aku cukup menyukainya."
"Kalau begitu, ayo kita lihat kamar anak-anak!" ajak Arselo sambil menarik pelan tangan istrinya.
Safira cukup terkesan dengan dekorasi kamar anak-anak, yang menurutnya lucu dan cocok untuk keempat anaknya.
Tidak lupa, Arselo juga menambahkan pintu sambung dari kamarnya ke kamar yang akan ditempati Divya untuk memudahkan mereka nantinya.
Kamar bernuansa pink dan peach milik Qirani dan Divya, sedangkan kamar nuansa biru dan merah khusus di request oleh Dayyan dan Raiyan.
"Sayang, apa menurutmu mereka akan menyukainya?" tanya Arselo saat mereka sudah berada di kamar yang terakhir memiliki Divya.
Sebelum Safira menjawabnya, ia melihat setiap sudut kamar itu dengan teliti dan memastikan tidak ada benda tajam ataupun barang-barang yang mungkin akan membahayakan bayi yang baru berumur tiga belas bulan itu.
"Sudah cukup, El. Aku yakin mereka akan menyukainya."
Mendengar pertanyaan Arselo juga melihat tatapannya, Safira mengerti jika sang suami sedang menggodanya. Safira menunduk malu, ia juga beberapa kali mengalihkan tatapannya agar tidak bertatapan langsung dengan Arselo, bahkan wajahnya kini sudah memerah dan terasa panas.
Arselo mengerti dengan body language yang Safira tunjukkan, jika dirinya sedang malu dan juga salah tingkah. Tanpa bicara dan menunggu lama lagi, ia tiba-tiba memangku istrinya dengan bridal style, hal itu tentu saja membuat Safira terkejut dan refleks memeluk leher sang suaminya itu.
"El?!"
"Syut ... diam'lah, aku tidak akan melukaimu," ucap Arselo tepat di telinga Safira.
Safira terpejam, ia menikmati nafas Arselo yang menyentuh kulitnya, yang membuatnya langsung bergidik geli.
"El, bukankah kamu sudah janji libur dulu?" tanya safira untuk mengalihkan perhatian Arselo.
"Aku akan libur jika kamu sedang libur," jawab Arselo yang sudah membaringkan Safira di atas kasur.
Apakah dia akan kembali melakukannya? Apa aku sudah tidak bisa menghindar lagi? batin Safira. Bukan apa-apa, hanya saja dia masih sedikit lelah, tapi meskipun begitu, akhirnya dia juga ikut menikmatinya.
Awalnya mereka berniat sebentar melihat rumah itu, tapi setelah melihat keadaan yang mendukung, Arselo pun tidak tahan jika hanya berdiam diri bersama sang istri maka dari itu dia melakukannya.
Setelah selesai, tanpa sadar mereka pun tertidur hingga hari mulai sore. Mereka baru bangun saat ponsel milik Arselo yang berada di sebelah bantalnya, berdering keras. Dengan mata yang masih mengantuk dan tubuh lelah, Safira memaksa bangun dari tidurnya.
"El, ponselmu bunyi." Safira melepaskan tangan Arselo yang masih melingkar di perutnya.
"Emh, biarkan saja, sayang. Aku masih mengantuk," jawab Arselo sambil kembali memeluk Safira.
"Ish ...!" Safira mencubit tangan Arselo karena kesal, suaminya itu malah kembali memeluknya di area yang lain.
Perbuatan Safira membuat Arselo kesakitan sampai terp*kik. "Aww ...! Sayang apa yang kamu lakukan?" tanya Arselo yang seketika terbangun dan melihat bekas cubitan di tangannya.
"Salah mu, El. Aku hanya melindungi diri saja," jawab Safira tanpa mempedulikan Arselo yang sedang mengusap tangan bekas cubitannya.
"Melindungi diri?" Arselo mulai membenarkan duduknya dan menghadap Safira.
Sedangkan Safira sendiri sudah mengambil ancang-ancang dengan membenarkan letak selimut yang membungkus tubuhnya, Arselo tersenyum misterius melihat istrinya yang berjaga-jaga seperti itu.
Dengan gerakan cepat, Arselo segera menarik selimut Safira dan menggelitiknya.
"Kamu tidak akan bisa melindungi diri kalau seperti ini," ucap Arselo tanpa beruhenti menggelitiknya, sehingga membuat Safira tertawa karena merasa geli.
"Ampun, El, Geli." Safira tidak bisa berhenti tertawa.
Arselo tidak menggubris ucapan istrinya, ia masih terus menggelitiknya.
"El, kumohon ... hentikan ... ampun ...!" ucap Safira sedikit mengiba, Arselo pun menghentikan kegiatannya dan memeluk tubuh polos istrinya itu di dalam selimut.
"I love you, Fira." Arselo mengecup kening istrinya.
Safira tersenyum di antara dekapan suaminya. "I love you too, my hubby."