
Hari yang mereka nanti telah tiba, mereka sudah siap menyambut kedatangan baby boy anak Safira dan Arselo. Dalam kelahiran kali inipun, Arselo kembali merasakan sakit punggung dan pinggangnya terasa panas. Awalnya ia tidak menyadari jika itu adalah bawaan bayinya, tapi setelah Safira mengalami pecah ketuban tanpa merasakan sakit pinggang, barulah orang-orang mengerti jika Arselo lagi yang merasakan kontraksinya.
"Sabar, El. Kamu pasti kuat," ucap Nyonya Sita sambil terus mengusap tulang punggung anaknya, sedangkan Arsela sedang membantu Safira di ruangan operasi.
Safira kembali menjalani operasi sesar karena ukuran bayinya yang cukup besar dan tidak masuk di panggul Safira, jadi dokter kandungan lain beserta Arsela menyarankannya untuk melakukan operasi sesar kembali.
"Ini sakit sekali, Ma." Arselo merintih pelan, kini ia harus kembali merasakan sakit yang pernah dialaminya dulu.
Mungkin ini suatu ujian bagiku karena telah menyakiti Safira dulu, tapi setidaknya aku merasa lebih tenang karena bisa sedikit merasakan apa yang harusnya Safira rasakan, batin Arselo ditengah rasa sakit yang menyelimutinya.
Semua anggota keluarga turut hadir di sana, termasuk Bu Resti dan Pak Bambang yang kebetulan sedang berada di kota, ikut mengantar Safira yang akan melahirkan.
Arselo sendiri sedang berada di ruang rawat dengan ditemani oleh mama dan papanya, begitu juga dengan anak-anak yang tidak ingin berjauhan darinya, turut menemani dirinya.
"Papa, apa masih sakit?" tanya Divya dengan cemas, ia sangat mengkhawatirkannya Papa El-nya.
"Papa baik-baik saja, Kak. Kalian tidak perlu khawatir," ucap Arselo sambil memperlihatkan senyumnya, agar anak-anak mempercayai dirinya.
"Hmmm, semoga Papa cepat sembuh dan bisa kembali bermain bersama kami." Divya berucap sambil terus mengusap wajah Arselo dengan lengan kecilnya, sedangkan anak-anak yang lain ikut mengusap tangan dan kaki Arselo.
Setelah menunggu beberapa saat kemudian, suara tangisan bayi terdengar sangat nyaring dari ruangan operasi itu, semua orang yang hadir di sana menghembuskan nafasnya lega dan sama-sama.
"Bang El, Teh Fira sudah melahirkan," ucap Caca saat ia sudah di persilakan masuk ke dalam ruang rawat Arselo.
"Benarkah? Alhamdulillah, anakku sudah lahir." Arselo langsung memeluk ibunya saking bahagia. "Lalu bagaimana keadaan Safira?" tanyanya.
"Alhamdulillah, Teh Fira juga kondisinya stabil. Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan untuk menjalani observasi," jawab Caca.
"Baiklah. Ayo kita lihat keadaan mereka." Arselo berucap sembari berusaha bangkit dari tidur tengkurap'nya. Melihat sang anak yang berusaha bangkit, Nyonya Sita pun segera membantunya.
"Pelan-pelan, El."
"Terima kasih, Ma."
Setelah Arselo berdiri, mereka pun berjalan perlahan menuju ruang operasi Safira, di sana juga masih ada dokter yang tadi menangani istrinya.
"Dokter, bagaimana keadaan istri dan anak saya?" tanya Arselo saat ia sudah berada di hadapan dokter itu.
"Selamat, Tuan. Nyonya Safira sudah melahirkan anak laki-laki kalian," jawab dokter itu. "Sebentar lagi ia akan dipindahkan ke ruang perawatan, anda bisa menemui mereka di sana."
Tak lama setelah dokter berbicara, ruangan operasi Safira pun terbuka dengan lebar, Safira terbaring lemah di atas brankar pasien, tapi ia masih bisa tersenyum saat melihat orang-orang yang sedang menungguinya. Merekapun berjalan mengikuti brankar pasien yang membawa Safira ke ruang perawatan selanjutnya.
Safira menetap orang-orang yang sedang berkumpul untuk menjenguk dirinya yang baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki.
"Sama-sama, sayang. Maaf, selama hamil aku sudah banyak menyusahkan mu, bahkan kamu juga ikut merasakan sakit," ucap Safira sambil tersenyum. Meskipun ia sendiri masih heran, kenapa suaminya bisa merasakan hal itu.
"Sudahlah, aku tidak apa-apa. Lagipula sekarang sudah lebih baik," jawab Arselo. Ia pun berbalik dan menghampiri bayi mungil yang ada di sebelah kanan ranjang Safira.
"Fira, bagaimana perasaanmu, Nak?" tanya Bu Resti yang berdiri di sebelah kiri ranjang Safira.
"Alhamdulillah, Bu. Aku baik-baik saja. Aku juga senang Ibu dan Bapak sedang berada di sini saat aku melahirkan," jawab Safira sambil tersenyum hangat.
"Syukurlah, semoga kamu cepat sehat dan selalu dilimpahi kebahagiaan." Doa Bu Resti dengan tulus. Meskipun Safira hanya menantu yang pernah ia miliki, tapi Bu Resti dan Pak Bambang sangat menyayanginya, mereka bersyukur karena Safira pernah menjadi bagian dari keluarganya.
"Teh, siapa nama bayinya?" tanya Caca yang sedang berdiri dekat Arselo yang menggendong bayi mereka.
Mendengar pertanyaan dari Caca, Arselo dan Safira saling berpandangan, mereka sama sekali belum memutuskan nama yang akan di berikan pada bayinya.
"Pah, kamu mau kasih nama siapa?" tanya Safira pelan pada suaminya, Arselo.
"Tidak, sayang. Kali ini kamu yang akan memberikan nama untuknya," jawab Arselo seraya melangkah mendekati ranjang Safira dan membawa bayi mereka.
Arselo menyimpan bayi itu di lengan atas Safira, sehingga membuatnya bisa melihat dan menyentuhnya.
Safira menatap bayi mungil yang terbaring di sebelahnya, ia tersenyum kecil saat melihat bayi itu menguap dengan mata tertutup.
"Bolehkah aku menamainya Fathi Gencio?" tanya Safira tanpa mengalihkan perhatiannya dari sosok mungil itu.
"Tentu saja, sayang." jawab Arselo dengan mengangguk pelan.
Anak-anaknya yang lain ikut berkumpul dan menatap adik kecil mereka, Divya juga sangat senang sekali. Ia terus menerus menyentuh pipi bulat milik adiknya.
Safira menatap semua orang-orang yang ada di ruangan itu satu persatu, ia bersyukur bisa berkumpul dengan mereka. Empat orang anak, dua pasang orang yang berstatuskan mertuanya sangat menyayanginya, suami yang mencintainya, sosok nenek yang ia dapatkan dari Ni Eti pun tak luput ia syukuri dan kini kebagian itu semakin lengkap dengan hadirnya bayi mungil di tengah-tengah mereka.
TAMAT
Mampir juga ke karyaku yang lain 🤗🤗
MOHON DUKUNGANNYA 🙏🙏