Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 113



Arselo tidak henti-hentinya tersenyum, ia merasa sangat bahagia hari ini, apalagi jika mengingat dalam kurun waktu tiga minggu lagi, ia akan melangsungkan pernikahannya dengan Safira.


"Semoga tidak ada kendala berarti kedepannya," gumam Arselo. Saat ini ia sudah kembali ke rumah pribadinya sendiri, sesampai di rumah Safira tadi, sebenarnya Arselo merasa berat hati untuk meninggalkan calon istri beserta anak-anak.


FLASHBACK ON


Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu kurang dari satu jam, akhirnya Arselo dan Safira pun sampai ke rumah. Di sana iya melihat Ni Eti beserta Caca sudah sampai terlebih dahulu, sedangkan Bu Resti dan Pak Bambang kembali ke apartemen tempat tinggal Caca.


"Assalamualaikum," sapa Arselo dan Safira.


"Wa'alaikum salam, Nak El. Kalian sudah sampai?" Ni Eti bertanya saat melihat kedatangan Safira dan Arselo beserta anak-anak.


"Baru saja sampai, Ni," jawab Arselo sembari duduk di kursi sofa yang ada di ruangan itu diikuti oleh Safira dan anak-anak.


Mereka pun sempat mengobrol terlebih dahulu sebelum akhirnya Safira pamit untuk menidurkan Divya. "Aku pamit ke kamar dulu, sepertinya Divya sudah mengantuk." Safira bangkit dari duduknya dan berlalu menuju kamar.


Arselo hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, setelah itu ia pun kembali mengobrol bersama Ni Eti dan tiga anak yang lainnya.


"Papa, apa malam ini Papa akan tidur di sini bersama kami?" tanya Qirani.


Arselo tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Tidak, sayang. Malam ini Papa masih akan tidur di rumah Papa sendiri," jawab Arselo.


Qirani cemberut dan menunjukkan raut wajah kecewanya. "Katanya Mama dan Papa akan tinggal bersama, tapi kenapa sekarang tidak boleh?"


"Tentu saja kalau sekarang belum boleh, Kakak," ucap Ni Eti.


Dayyan yang awalnya cuek hanya mendengarkan, kini ikut bertanya juga, "Kenapa belum boleh, Ni? Bukankah tadi mama sudah menerima cincin dari papa?"


"Itu baru pertunangan, sayang," jawab Caca.


"Oh, apa nanti akan ada pesta juga, Aunty?" tanya Raiyan.


Arselo mendapatkan ide untuk nanti resepsi pernikahan mereka, ia akan meminta pendapat dari anak-anaknya. "Kira-kira Abang dan Kakak mau pesta seperti apa?" tanya Arselo pada ketiga anak-anaknya.


Dengan tingkah lucunya, anak-anak itu berkumpul dan membuat sebuah lingkaran. Mereka berunding tanpa membiarkan orang dewasa mengetahui pembicaraan mereka.


Arselo, Ni Eti dan Caca kompak tersenyum dan menggelengkan kepala mereka pelan melihat tingkah ketiga anak itu. "Hey, apa Aunty boleh ikut bergabung?" tanya Caca seraya mendekati ketiga anak yang sedang berunding itu.


"Aunty sudah besar jadi tidak boleh ikut berunding bersama kami!" tolak ketiga anak itu serempak. Membuat Arselo dan Ni Eti tertawa bersama melihat Caca mendapat penolakan dari anak-anak.


"Tapi, kan, Aunty juga ingin tahu apa yang sedang kalian bicarakan." Caca memperlihatkan wajah ibanya.


"No, no, no. Papa hanya meminta pendapat kami bertiga bukan pendapat Aunty," kukuh Raiyan.


"Kalau Aunty memaksa, kami akan mengadukan Aunty pada Om Zian," ancam Dayyan.


Arselo dan Ni Eti serempak menatap Caca dengan tatapan heran. "Om Zian?" tanya Arselo memastikan.


Ketiga anak itu mengangguk, "Iya. Om Zian, teman Papa itu," jawab Qirani.


Caca merasa salah tingkah saat nama Zian disebut oleh ketiga anak kembar itu, "Apa, sih, kalian ini suka ngadu kayak gitu," rajuk Caca dengan wajah yang sudah memerah.


"Wah, aku tidak menyangka jika Zian ternyata sudah mendekati Caca," batin Arselo.


"Sejak kapan kamu dekat dengan Zian, Ca?" tanya Arselo pada Caca.


Caca dengan malu-malu menjawab, "Belum lama ini, Bang. Kami baru mulai pendekatan."


Arselo pun mengangguk mengerti, ia tidak keberatan jika Caca memang dekat dengan Zian, karena ia sangat mengenal Zian dengan baik. Bisa dibilang Zian adalah laki-laki satu-satunya yang paling baik diantara Frans dan dirinya.


"Ya sudah, semoga hubungan kalian lancar kedepannya," ucap Arselo yang langsung diamini oleh Ni Eti dan Caca yang diikuti oleh anak-anak juga.


Tak lama kemudian, Safira pun datang menghampiri mereka dan ikut bergabung duduk bersama, sedangkan Divya sudah terlelap di kamarnya.


"Kalian sedang membicarakan apa? Sepertinya sangat seru, sampai-sampai ada acara Amin bersama?" tanya Safira saat ia sudah duduk di sebelah Arselo.


"Zian? Zian temanmu itu, El?" tanya Safira memastikan.


Arselo pun mengangguk membenarkan pertanyaan Safira, "Iya, Zian temanku," jawab Arselo.


Safira menutup mulutnya terkejut, ia tidak menyangka jika saat ini Caca dekat dengan Zian.


Caca bertambah malu saat Safira juga mengetahui hal itu, "Udah atuh Teh, aku malu."


Arselo dan Ni Eti menertawakan Caca yang sudah sangat malu, begitupun dengan Safira yang ikut menggodanya. Saat mereka sedang asyik menggoda Caca, tiba-tiba Dayyan, Raiyan dan Qirani memberikan sebuah ponsel pada Arselo.


"Papa, bagaimana jika pernikahan kalian nanti seperti ini?" tanya Dayyan meminta pendapat Arselo.


Arselo pun menerima ponsel yang diberikan oleh Dayyan dan melihat foto dengan tema pernikahan, Safira juga ikut menoleh untuk melihatnya.


"Wah bagus itu Teh!" seru Caca, ternyata dia sudah berdiri di belakang sofa yang diduduki Arselo dan Safira.


Arselo dan Safira terkejut dengan suara Caca yang tiba-tiba. "Ya Tuhan, Ca. Kamu membuat kami terkejut saja."


Caca tertawa kecil, "Maaf. Tapi aku penasaran dengan pendapat anak-anak," ucapnya.


Arselo pun mengalihkan perhatiannya pada Safira, "Bagaimana menurut mu, Fira? Apa kamu menyukainya?" tanya Arselo meminta pendapat Safira.


Ibu dari empat anak itu terlihat senang sekaligus bimbang, "Entahlah, El. Aku malu jika acaranya mewah seperti ini. Lagipula, ini kan, bukan pernikahan pertama ku. Aku rasa tidak perlu semewah ini," jawab Safira.


Ni Eti memperhatikan Safira, ia merasa kasihan padanya, ia tidak menyangka jika Safira akan berfikiran seperti itu. Bukankah biasanya jika calon pengantin itu selalu bahagia? Apalagi saat mereka bisa merayakan pernikahan itu dengan meriah?


"Fira, kamu jangan berfikir seperti itu. Aku meminta pendapat mu, agar kamu tidak merasa hanya aku atau mama yang mengatur. Ini pernikahan kita dan aku mau kamu juga menikmati setiap prosesnya. Kalau begitu bagaimana jika pernikahan kita, kamu saja yang rancang? Arsela punya kenalan WO yang bagus, mungkin saja ada salah satu tema yang kamu inginkan?" tanya Arselo.


Safira terlihat berpikir sejenak, daripada tema pernikahan yang dipilihkan oleh anak-anak karena menurutnya itu terlalu mewah, ia akan memilih tema garden party saja. "Apa kamu akan keberatan jika aku memilih tema garden party pada pernikahan kita?" tanya safira mencoba mengutarakan keinginannya pada Arselo.


"Garden party? Apa kamu yakin hanya itu? Kalau kamu mau, kita bisa buat pernikahan ala-ala raja dan ratu. Kamu mau?" tanya Arselo dengan semangat.


Safira menggeleng kuat-kuat, "No, aku nolak yang seperti itu. Lagipula, memangnya kamu gak malu di lihat banyak orang?"


Arselo menggeleng pelan, "Ngga juga, sih. Kan, bagus di lihat banyak orang."


"No, El. Garden party aja, titik. Aku gak mau yang lain," tolak Safira.


Arselo mendesah kasar, "Baiklah. Apapun untukmu, Mama," goda Arselo.


Blush


Safira langsung blushing saat Arselo memanggilnya dengan sebutan "Mama".


Ni Eti, Caca dan anak-anak tertawa saat melihat wajah Safira yang memerah karena digoda oleh Arselo.


"Cie, Tetep nge-blush," goda Caca.


Safira benar-benar merasa malu, ia sudah tidak tahu lagi warna pipinya. "Hey, kenapa kalian menggoda ku seperti ini?" kesal Safira. "Berhentilah!" ucap Safira karena Caca dan anak-anak semakin gencar menggodanya.


Tak kuat menahan malu, Safira pun bangkit dari duduknya dan meninggalkan orang-orang yang masih duduk di sana. Arselo merasa tidak enak hati, ia segera menyusul Safira untuk meminta maaf.


"Fira, aku minta maaf, jangan marah seperti ini." Arselo segera menggenggam tangannya untuk menahan Safira agar tidak semakin menjauhinya.


"Kenapa? Bukankah kamu puas karena sudah menggodaku?" tanya Safira tanpa menatap Arselo.


"Iya, aku salah karena sudah menggodamu, aku minta maaf, ya!" mohon Arselo.


Safira terdiam dengan menatap Arselo yang sedang memohon padanya, ia pun mendesah kasar. "Baiklah, akan ku maafkan," jawab Safira.


Arselo senang karena Safira sudah memaafkannya, ia refleks menarik Safira kedalam pelukannya. "Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu."


FLASHBACK OFF