
Sesaat sebelum Arselo menerima telpon dari Safira...
Setelah kepergian Zian, Arselo tidak bisa langsung tidur. Entah kenapa hatinya merasa tidak tenang, dan terus terbayang wajah anak-anak yang tadi ia tinggalkan saat mereka tidur.
Arselo baru bisa terlelap setelah ia memutar rekaman video anak-anaknya yang sedang bermain.
Baru saja ia tidur sekitar satu, ia bermimpi telponnya berdering nyaring hingga beberapa kali, dan itu membuatnya terbangun.
"Safira?" gumamnya pelan saat ia melihat kontak ID yang masuk, dengan cepat ia menjawab panggilan itu.
Setelah sambungan telepon itu terputus, Arselo bergegas untuk mengambil jaket dan kunci mobilnya.
Di perjalanan ia melihat banyak tukang penjual makanan saat malam hari, karena bingung memilih, ia pun membeli semua makanan yang ia lihat untuk di bawa ke rumah Safira.
Sesampai di rumah Safira, Arselo segera memarkirkan mobilnya di halaman rumah itu dan masuk ke dalam, karena sudah mempunyai kunci cadangan, jadi ia tidak perlu mengetuk pintu lagi.
"Papa"
Qirani langsung menghampiri Arselo yang baru saja masuk, setelah menyimpan semua makanan yang ia bawa, Arselo pun bergegas mengangkat tubuh Qirani.
"Qiran kenapa menangis?" tanya arselo saat sudah menggendong Qirani.
di dalam gendongan Arselo, Kirani kembali menangis pelan sambil memeluk lehernya.
"Kenapa papa pulang? Apa papa juga akan meninggalkan kami seperti papa Abi" tanya gadis kecil itu.
Arselo mengeratkan pelukannya, ia tidak menyangka jika Qirani akan bertanya seperti itu.
"Tidak sayang, papa tidak akan pernah meninggalkan kalian lagi" jawab Arselo dengan cepat.
"Lalu kenapa papa pulang?" tanyanya lagi.
"Rumah papa kan bukan di sini, sayang" jawab Arselo mengusap punggung Qirani.
"Mau papa temani tidurnya?" tanya Arselo.
"Mau, tapi papa jangan pergi lagi" jawab Qirani sambil menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, ayo kita tidur" ajak Arselo kembali mengangkat tubuh Qirani.
Arselo bangun dari duduknya, dan menghampiri Safira yang berada di dapur bersama dengan Ni Eti.
"Fira, aku akan temani Qirani tidur dulu" ucap Arselo.
Safira pun mengangguk.
"El, kenapa kamu beli makanan sebanyak ini?" tanya Safira menunjuk ke semua kantong kresek yang ada di atas meja makan.
Arselo yang baru sampai di pintu dapur pun membalikkan tubuhnya.
"Entahlah. Tadi aku ingin makan sesuatu, tapi aku bingung dengan keinginan ku, jadi aku membeli semuanya. Jika ada yang kau inginkan, makan saja. Nini juga ya" jawab Arselo sebelum meninggalkan ruang makan itu.
Arselo menemani Qirani sampai ia benar-benar tidur, setelah membacakan surat-surat pendek barulah Arselo keluar dari kamar anaknya itu.
Arselo mencari keberadaan Safira di ruang tamu, tapi ia tidak menemukannya. Arselo pun mencari Safira di dapur, ia menemukan Safira yang sudah terlelap di atas meja makannya dengan beberapa makanan yang hampir tandas.
"Apa ***** makan ibu hamil sekuat itu?" gumamnya sambil tersenyum. Ia melihat beberapa bungkus makanan sudah kosong, dan hanya beberapa bungkus lagi dan itupun isinya tinggal sedikit.
"Fira, sebaiknya kamu tidur di kamar" ucap Arselo seraya menepuk bahu Safira pelan.
Hingga beberapa kali Arselo melakukannya, tapi Safira tidak kunjung bangun dari tidurnya. Karena merasa kasihan, Arselo pun memberanikan diri mengangkat tubuh Safira untuk ia pindahkan ke kamar.
"Maaf aku lancang menggendongmu Fira, tapi aku tidak tega jika kamu besok merasa sakit punggung karena tidak tidur dengan posisi yang benar" gumam Arselo pelan.
Setelah selesai memindahkan Safira ke kamar, Arselo pun berjalan ke arah sofa yang ada di ruang tamu, malam ini ia akan menginap di sana saja, matanya sudah terlalu mengantuk, juga badannya terasa sangat letih.
***
Pagi hari Safira bangun dari tidurnya, entah kenapa pagi ini dia tidak merasa mual, tidak seperti biasanya.
"Bau apa ini? Apa Nini masak? Eh, tapikan Nini gak bisa nyalain kompor gas. Lalu siapa yang ada di dapur ku?" tanya Safira pada dirinya sendiri.
Karena penasaran, ia pun keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur. Sejenak ia terdiam menatap seorang pria yang sedang membelakanginya karena fokus dengan pekerjaannya.
"Ini bukan hanya penglihatan ku saja, kan? Mas Abi masih hidupkan? Mas Abi kembali!!!" batin Safira.
Tanpa sadar ia berjalan ke arah pria itu dan memeluknya dari belakang.
"Mas, kamu pulang? Kamu gak benar-benar ninggalin kami, kan?" tanya Safira yang masih memeluk pria itu.
Arselo terkejut saat Safira tiba-tiba memeluknya, dan memanggilnya dengan nama Abizar. Dengan perlahan ia melepaskan tautan tangan Safira yang melingkar di perutnya, dan membalikan tubuhnya.
"Maaf karena membuat mu kecewa, Fira. Tapi aku bukan Abizar, aku Arselo" ucap Arselo seraya memegang pundak Safira untuk memberi jarak di antaranya.
Safira terdiam dengan tatapan kosong, ia sangat sedih karena bukan Abizar, suaminya yang ia peluk. Tanpa berkata apa-apa lagi, Safira membalikan tubuhnya dan berjalan cepat menuju kamarnya, dia mengunci pintu kamarnya dan menangis sendirian di sana.
Arselo yang melihat kepergian Safira, segera mematikan kompor serta melepas celemek dan menyusulnya, tapi ia kalah cepat karena Safira sudah mengunci pintu kamarnya.
"Fira...!"
"Fira, apa kamu baik-baik saja?"
"Fira, buka pintunya...!"
Safira tidak menggubris panggilan Arselo, dia malah membaringkan tubuhnya dan kembali menangis.
"Mas, aku merindukan mu, anak-anak juga merindukan mu. Maaf karena aku masih tidak percaya jika kamu sudah pergi meninggalkan kami" batin Safira.
Arselo yang tidak bisa membujuk Safira untuk membuka pintu kamarnya, ia pun pergi dari sana dan kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.
Tak lama kemudian, anak-anak bangun dan menghampirinya yang sedang menata makanan untuk sarapan mereka.
"Kenapa papa yang masak? Mama mana?" tanya Dayyan.
Sedangkan Raiyan dan Qirani sudah berlalu dari sana dan pergi ke kamar mamanya meninggalkan Dayyan bersama Arselo.
"Mama katanya tadi masih pusing, jadi kembali istirahat ke kamar. Abang tolong panggil Nini untuk sarapan sama-sama ya!" jawab Arselo sambil menyuruh Dayyan untuk memanggil Ni Eti.
"Baik pa".
Dayyan pergi dari dapur menuju kamar Ni Eti, sedangkan Arselo akan kembali melihat keadaan Safira.
Tok... tok... tok...
Arselo mengetuk pintu kamar Safira karena sudah tidak melihat anak-anak di luar kamar.
Ceklek
Raiyan yang membukakan pintu kamar Safira.
"Apa mama baik-baik saja?" tanya Arselo pada Raiyan.
Raiyan tidak menjawab pertanyaan tersebut, ia hanya membukakan pintu itu agar Arselo masuk ke dalam.
Arselo pun mengikuti langkah Raiyan menuju kasur tempat Safira masih berbaring.
"Fira, kamu demam?" tanya Arselo saat ia menyentuh kening Safira yang terasa lebih hangat.
Dengan cepat, ia segara menyiapkan air dan handuk untuk mengompres kening Safira. Sedangkan anak-anak sudah di bantu Anisa untuk bersiap-siap mulai masuk sekolah kembali.
"Nak El, untuk apa bawa air dan handuk kecil itu?" tanya Ni Eti.
"Safira demam, Ni. Saya akan mengompresnya terlebih dahulu, sambil menunggu kedatangan Arsela" jawab Arselo.
"Oh, baiklah. Nini akan minta simbok membuatkan bubur untuk Safira" ucap Ni Eti sebelum berlalu menuju dapur.
Arselo merawat Safira dengan telaten, ia juga tidak meninggalkan Safira sedikit pun, bahkan ia meminta Sofyan untuk membawakan pekerjaan yang harus ia selesaikan di rumah Safira.