
"Heh, anak kecil, apa kamu tidak di ajarkan sopan santun oleh orang tua mu? Apakah mama mu terlalu sibuk mencari papa baru untuk kalian, sehingga tidak mempunyai waktu untuk mendidik anak-anaknya" ucap ibu-ibu yang ternyata tadi sempat membicarakan Safira.
Safira sudah panas hati, ia sudah tidak tahan jika ibu-ibu itu mulai menyerang anaknya dengan kata-kata yang tidak pantas didengar oleh anak kecil.
"Hentikan Nyonya, tidak sepantasnya Anda berbicara seperti itu pada anak kecil yang bahkan belum mengerti apa-apa" ucap Safira pada ibu dari anak di hadapannya.
"Bukankah itu memang kenyataannya? Dan pria yang bersamamu saat ini adalah korban yang sedang kamu incar selanjutnya, kan?" tuduh ibu itu lagi.
"Atas dasar apa anda bisa berbicara seperti itu?" tanya Safira dengan geram.
Saat ini mereka sudah berada di kantor kepala sekolah, bahkan di sana juga ada beberapa guru-guru sedang menenangkan Safira dan ibu-ibu itu.
"Halah, yang namanya wanita mur*h*n mana ada yang mau ngaku?" tudingnya lagi.
Tepat saat itu, Arselo masuk ke dalam ruang kepala sekolah. Ia tadi meninggalkan Qirani bersama beberapa temannya, karena harus menemani Dayyan dan Raiyan untuk lomba.
"Ada apa ini?" tanya Arselo begitu masuk ke dalam.
"Papa, ibu itu mengatakan hal buruk pada mama" ucap Qirani seraya memeluk kaki Arselo erat.
"Tenang ya, sayang. Qiran bisa ceritakan apa yang sudah terjadi sama papa?" tanya Arselo pada Qirani.
"Sam yang memulainya terlebih dahulu, dia terus mengatai ku anak aneh karena warna bola mata kami tidak sama dengan yang lain. Dia juga mengatakan jika kami adalah penyebab papa Abi meninggal. Awalnya aku tidak menggubris perkataannya, tapi dia malah mendorongku terlebih dahulu, aku hanya balas pendorong pelan dia sehingga tidak sengaja kena tumpahan minuman yang dibawanya" jelas Qirani dengan tangisan, Arselo segera menenangkan anak gadisnya itu dengan memeluknya.
"Anda lihat kan, siapa yang tidak bisa mendidik anak dengan benar?" tanya Safira dengan menggebu. Arselo bangkit seraya memangku Qirani di tangannya untuk menenangkan Safira.
"Fira, sudah. Kamu harus tenang, ingat kandungan mu" ucap Arselo sembari menyentuh bahu Safira.
"Huh, dasar pasangan h****, bisa-bisanya kalian bersikap romantis seperti itu di depan banyak orang" celetuk ibu itu.
"Nyonya, apa alasan anda berbicara seperti itu? Bukankah seharusnya anda meminta maaf atas perbuatan anak anda yang sudah melukai hati anak saya?" tanya Arselo. Ia pun memandang pria yang dari tadi hanya diam di belakang ibu itu seraya memegang pundak anak laki-lakinya.
"Pa Basir? Apa nyonya ini istri anda?" tanya Arselo pada pria yang berdiri di belakang tubuh istrinya itu.
"I–iya, pa. Di–dia i–istri saya" jawab laki-laki itu terbata yang di panggil Arselo tadi.
Ibu yang berbadan besar itu pun menoleh ke belakang pada suaminya.
"Bapak kenapa ngomongnya kayak gitu? Mereka itu cuma pasangan h****. Kita gak perlu takut" bisik ibu itu pada suaminya
"Bu, sudah, hentikan. Lagian anak kita yang salah. Sam ayo minta maaf pada nak Qirani" ucap pak Basir pada anaknya.
"Ya tuhan, bisa gawat kalau pak Arselo marah" batin pak Basir.
"Bapak apa-apaan, sih? Wajar Sam ngatain dia seperti itu. Kita gak perlu minta maaf padanya" ucap ibu itu lagi.
"Bu, sudah cukup. Beliau adalah atasan ku" jawab pak Basir.
"Hah? Gak mungkin pak. Bukankah atasan bapak itu tuan Sofyan?" tanya ibu itu.
"Tuan Sofyan itu adalah tangan kanan tuan Arselo, bu" jawab pak Basir.
"A–apa? Ya–yang benar pak?" tanyanya lagi yang langsung di angguki oleh pak Basir.
"Dan asal bapak, ibu tahu saja. Dayyan, Raiyan, dan Qirani adalah anak-anak ku. Lagi pula, bukankah hal wajar jika saya sebagai ayah kandungnya mendampingi mereka saat mereka sedang berduka? Kami bukan pasangan h**** seperti yang anda perkirakan" ucap Arselo.
"Mohon maafkan saya dan istri beserta anak saya tuan" ucap pak Basir sambil menangkupkan kedua tangannya.
Arselo tidak menjawab ucapan pak Basir, sebaliknya dia mengajaknya untuk berbicara empat mata. sepeninggalan pak Basir dan Arselo, ibu itu menghampiri Safira dan Qirani.
"Sam, cepatlah minta maaf padahal gadis kecil itu" perintah sang Ibu pada anaknya yang bernama Sam,
dengan malas Sam pun meminta maaf pada Qirani.
"Qiran, aku minta maaf" ucap Sam.
Belum sempat Qirani dan Safira menjawab ucapan Sam, ibu itu kembali berbicara.
Safira terheran dengan ucapan ibu itu, begitupun guru-guru dan kepala sekolah yang ada di sana, semua mata menatap heran pada ibu itu.
"Kenapa kalian malah menatapku seperti itu?"
"Anda tidak meminta maaf dengan benar?"
"Tadi anak saya sudah meminta maaf pada anakmu, sekarang giliran kamu yang meminta maaf kepada saya. Apa itu sulit?"
"Bu, harusnya anda sadar, ucapan andalah yang kasar. Kenapa ibu Fira yang harus meminta maaf kepada anda?" tanya bu Dewi yang merupakan wali kelas anak-anaknya.
"Saya tidak merasa bersalah atas apapun, yang saya katakan itu ada benarnya. Kenapa saya masih harus meminta maaf dengan perkataan yang benar adanya?"
Semua guru-guru di sana menggelengkan kepalanya melihat kelakuan ibu itu. Safira yang sudah tidak tahan emosi pun langsung menghampiri ibu itu, meminta maaf pada seseorang tidak akan membuatnya lebih tinggi ataupun lebih rendah.
"Saya minta maaf jika sudah membuat anda tidak nyaman. Tapi bisakah anda lebih memperhatikan anak anda? Dia tidak akan bersikap seperti itu jika tidak melihat dari sikap orang tuanya"
"Jadi maksudnya anda tetap menyalahkan saya atas apa yang dikatakan oleh anak saya?"
"Tentu saja, dia tidak akan mempunyai kata-kata buruk jika anda memperhatikannya dengan benar"
Setelah Safira mengatakan itu pak Basir dan Arselo pun datang kembali masuk ke ruang kepala sekolah,
pak Basir langsung menghampiri istri dan anaknya untuk menarik tangan mereka.
"Bapak apa-apaan, sih? Kenapa narik-narik tangan ibu?"
"Cukup bu, kamu sudah keterlaluan. Ibu tahu apa yang sudah di lakukan tuan Arselo pada bapak?"
"Apa pak?"
"Dia memindahkan pekerjaan bapak ke pelosok, dia masih berbaik hati untuk tidak melaporkan perlakuan ibu atas pencemaran nama baik. Kalau ibu sampai di tuntut seperti itu, ibu bisa di penjara"
"A–apa benar, pa?"
"Iya, masih untung tuan Arselo tidak memecat bapak, kalau tidak, kita tidak akan bisa membiayai pengobatan adik"
"Terus, terus apa yang harus kita lakukan sekarang, pak?"
"Ya minta maaf dengan benarlah, bu"
"Ta–tapi pak?"
"Kalau ibu gak mau minta maaf dengan benar, siap-siap di tuntut, dan kita gak akan bisa ngobatin adik dengan layak"
"Jangan bicara begitu, pak. Iya, iya, ibu akan minta maaf"
.
.
.
.
.
.
.
.
Mohon maaf di gantung dlu 🙏🙏🙏