
Safira mulai menarik kesadarannya, ia terbangun saat malam hari, dimana orang-orang tengah tertidur lelap. Dia melihat Arselo yang sedang tertidur di atas sofa tunggu rumah sakit, Safira juga melihat selang infus yang terpasang di tangan kanannya.
"Rumah sakit? Sejak kapan aku berada di sini?" batinnya.
Ia mulai mengingat sesuatu sebelum ia kehilangan kesadarannya.
"Bayi ku, apa dia baik-baik saja?" tanya Safira pada dirinya sendiri, seraya tangan mengusap perut ratanya.
"Nak, mama harap kamu baik-baik saja di dalam sana. Maaf karena mama tidak menjaga mu dengan baik" gumam Safira sambil terus mengusap perut itu.
"Kenapa dia ada di sini? Dimana perawat Mia? Aku ingin buang air kecil. Tidak mungkin aku membangunkannya" batin Safira bingung.
Ia merasa sudah sangat tidak tahan lagi, perlahan Safira bangun dari tidurnya dan hendak turun dari ranjang, sebelum akhirnya Arselo tersadar karena mendengar suara tiang infus yang bendenting.
"Fira, kamu mau kemana?" tanya Arselo saat melihat Safira yang hendak turun dari ranjangnya.
"Maaf jika aku mengganggu istirahat mu, El. Aku hanya ingin pergi ke kamar mandi saja sebentar" jawab Safira.
"Tunggu, aku akan panggilkan suster untuk membantu mu. Kamu belum boleh beranjak dari tempat tidur" cegah Arselo sebelum Safira turun.
"Tapi, El–"
"Tunggu atau aku yang membantu mu?" tanya Arselo sungguh-sungguh.
Safira terdiam, tidak mungkin ia akan membiarkan Arselo untuk membantunya.
"Baiklah, cepat karena aku sudah tidak tahan lagi" jawab Safira mengalah.
Arselo keluar dari ruangan Safira untuk memanggil salah satu suster yang sedang berjaga, sedangkan Safira menunggu kedatangan Arselo dan suster dengan hanya berdiam diri sambil menahan buang air kecilnya.
Tak lama kemudian Arselo pun masuk bersama salah satu suster yang akan membantunya.
"Maaf merepotkan sus" ucap Safira pada suster itu.
"Tidak apa-apa Bu" jawab suster itu.
"Pak, bisa tolong keluar sebentar?" tanya suster itu pada Arselo.
"Kenapa saya harus pergi?"
"Pasien ingin buang air kecil, dan untuk bed rest tidak di sarankan turun dari ranjang dan cukup menggunakan pispot. Jika bapak suaminya silahkan tetap di sini. Tapi kalau bukan, tolong keluar dari ruangan ini sebentar"
Arselo pun mengerti, dia keluar dari ruangan itu dan membiarkan suster itu membantu Safira. Menunggu sekitar tujuh menit, akhirnya perawat yang membantu Safira pun keluar dari kamar rawat itu.
"Silahkan kembali masuk, pak. Kami sudah selesai" ucap perawat itu sambil melangkah keluar.
"Baik suster, terima kasih banyak sudah membantu" ucap Arselo pada suster itu.
"Sama-sama, pak. Jika ada sesuatu yang perlu dibantu lagi, silakan katakan saja" jawab suster lagi.
"Baiklah. Sekali lagi, terima kasih banyak" ucap Arselo.
Suster itu pun menganggukkan kepalanya sebelum pergi dari hadapan Arselo untuk kembali ke tempat ia bersama teman-teman perawat yang lain. Setelah kepergian suster itu, Arselo pun masuk ke dalam ruang rawat Safira.
"Kenapa belum tidur lagi?" tanya Arselo yang melihat Safira masih duduk di atas ranjang.
"Tidak apa-apa, aku belum mengantuk lagi" jawab Safira yang mendapat anggukan dari Arselo.
Hening di antara keduanya, tidak ada yang kembali membuka suara.
"Tidak masalah, Fira. Aku bersyukur bisa membawamu tepat waktu kemari, sehingga kalian masih baik-baik saja. Aku minta maaf karena sudah mempertemukan kalian, aku menyesali perbuatan ku itu" ucap Arselo yang merasa bersalah atas apa yang sudah menimpa Safira dan janinnya.
"Tidak apa-apa, El. Itu semua bukan salah mu. Aku berterima kasih pada mu karena sudah mempertemukan kami" jawab Safira.
Dia juga merasa bersalah karena tidak bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik.
"Tapi gara-gara aku, kalian hampir saja–"
"Bukan salah mu, El. Aku yang memaksa untuk ikut" ucap Safira menghentikan perkataan Arselo.
"Semoga kejadian seperti ini tidak terulang kembali" ujar Arselo, ia sangat takut terjadi sesuatu pada Safira dan bayi yang masih ada dalam perutnya.
"Iya, amin" jawab Safira sambil tersenyum.
Arselo menatap senyuman Safira yang entah kenapa membuat hatinya berdebar, ia merasa canggung sendiri. Sedangkan Safira hanya bersikap biasa saja.
"El, sebenarnya ada yang aku inginkan" pinta Safira tiba-tiba.
Arselo langsung memfokuskan kembali perhatiannya pada Safira.
"Katakanlah" ucap Arselo.
"Aku... Aku ingin bubur ayam saat ini, apa kamu bisa mencarikannya?" tanya Safira dengan ragu.
Arselo menatap jam yang ada di pergelangannya.
"Sekarang pukul satu dini hari, apa ada yang masih menjualnya?" batin Arselo ragu.
"Akan kami carikan, kamu tunggulah dulu" jawab Arselo dengan yakin.
"Kami?" tanya Safira tidak mengerti.
"Iya, kami. Aku dan Sofyan akan mencarikan apa yang kamu mau" jawab Arselo seraya menganggukkan kepalanya.
"Oh... Aku kira siapa" ucap Safira tertawa geli.
"Apa ada hal lain yang kamu inginkan lagi?" hanya Arselo sebelum ia pergi meninggalkan Safira.
"Tidak ada, aku hanya ingin bubur ayam saja" jawab Safira.
"Baiklah, aku akan meminta salah satu suster untuk menemani mu" ucap Arselo sambil keluar dari ruangan itu.
Sepeninggalan Arselo, Safira kembali tercenung. Ia mengingat semua kejadian dulu yang hampir merenggut nyawanya, hingga seseorang datang dan menolong Safira. Tapi nahas kejadian itu malah merenggut nyawanya.
"Ka Deril, terimakasih karena dulu pernah menjadi penyelamat ku. Mas Abi, terimakasih karena kamu sudah melindungi anak ku. Kalian mempertaruhkan nyawa untuk melindungi ku dan juga keluarga ku. Semoga semua kebaikan kalian akan membuahkan hasil yang manis, maaf karena aku sudah membuat kalian berkorban untuk ku" batin Safira sedih, hingga ia tidak sadar jika sudah ada suster yang menemaninya.
"Bu... Bu Fira baik-baik saja kan?" tanya suster itu khawatir karena melihat Safira yang melamun.
Safira pun tersadar dari lamunannya saat suster itu memanggil namanya.
"Maaf suster, saya hanya sedang tidak fokus. Saya juga baik-baik saja" jawab Safira.
Suster itu pun mengangguk paham, suster itu juga mulai mengajak Safira untuk bercengkrama dan tidak membiarkan Safira asik dengan lamunannya, ia mengingat perkataan Arselo yang tidak memperbolehkan Safira melamun.
Mereka pun mengobrol layaknya teman, Safira juga sangat senang saat ia mempunyai teman bicara.