
Sepulang dari taman sore tadi arselo terlihat murung dan banyak diam. Bahkan dia juga mengabaikan keberadaan Sofyan.
"Tuan apa sudah terjadi sesuatu saat di taman tadi, Kenapa anda terlihat sedih dan murung seperti ini?" tanya Sofyan.
"Aku bertemu dengan anak-anak dan juga Safira yang sedang bersama dengan pria yang bernama Abizar itu di taman tadi" jawab Arselo dengan sedih.
"Lalu kenapa anda bersedih? Bukankah seharusnya anda bahagia karena bisa bertemu dengan anak-anak secara langsung?" tanya Sofyan lagi.
Arselo menggelengkan kepalanya lemah, dia mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangannya, dia merasa sangat sedih melihat tatapan kedua anaknya yang merasa takut padanya.
"Hanya Raiyan yang datang menghampiriku sedangkan Dayyan dan Qirani menatap takut padaku" jawab Arselo dengan lemah.
Mendengar jawaban Arselo, Sofyan pun mengangguk tanda mengerti.
"Bersabarlah tuan, anda jangan menyerah hanya karena hal seperti itu" ucap Sofyan.
Setelah mengatakan hal itu Sofyan pun pamit undur diri menuju ruang kerja milik Arselo, karena dia harus mengambil beberapa berkas yang ada di sana.
Saat arselo masih terdiam, tiba-tiba dari luar kamar ia mendengar ada kegaduhan yang terjadi di rumahnya, dengan malas arselo bangkit dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar itu.
"Ada apa ini?" hanya Arselo pada seorang petugas yang biasa berjaga di sana.
"Maaf tuan atas keributan yang sudah terjadi, tapi di luar ada seorang wanita yang tengah hamil besar sedang mengamuk dan memaksa ingin masuk ke rumah ini" ucap petugas keamanan itu.
"Wanita hamil besar? Siapa maksud kamu?" tanya Arselo, karena setahu dia Vivi tidak mengetahui tentang rumah Arselo yang ia tempati kini.
Saat Arselo dan petugas itu masih berbicara, tiba-tiba terdengar lagi suara seorang wanita yang berteriak histeris dari luar.
"Arselo, keluar kamu" ucap wanita itu setengah sadar karena ada dalam pengaruh minuman beralkohol yang ia konsumsi.
"Vivi? Kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Arselo yang merasa heran dengan kedatangan Vivi.
"Tentu saja karena aku pintar, aku bisa mengetahui dengan mudah di mana kamu tinggal selama ini" ucap Vivi dengan Sombongnya.
Rupanya dia sudah mengetahui rumah Arselo karena dia mengikuti kemanapun Arselo pergi. Bahkan dia juga tahu apa yang terjadi di taman sore tadi, dan hal itulah yang membuatnya arah sampai dia mabuk dan datang ke rumah Arselo saat ini.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Arselo dengan kesal.
"Aku ingin tinggal di rumah ini, karena sepertinya rumah ini lebih nyaman dari apartemen yang saat ini aku tinggali" ucap Vivi didepan wajah Arselo.
"Apa kamu yakin akan betah di rumah ini?" tanya Arselo dengan nada yang meremehkan.
"Tentu saja. Kenapa tidak, rumah ini cukup bagus dan besar untukku dan juga bayiku" jawab Vivi semakin menantang.
Arselo yang sudah kesal masih berusaha untuk meredam amarahnya karena dia tidak mungkin memukul seorang wanita yang tengah hamil besar apalagi wanita itu sedang dalam keadaan mabuk, jadi sebisa mungkin dia bersabar untuk menghadapinya.
"Sofyan.....!!!" Panggil Arselo pada Sofyan yang masih berada di ruang kerjanya.
"Ya tuan ada yang bisa saya bantu?" tanya Sofyan yang masih belum menyadari kehadiran Vivi di sana.
"Bawa wanita itu pergi dari hadapanku sekarang" perintah Arselo dengan menggedikkan dagunya ke arah Vivi.
Sofyan pun mengikuti pandangan Arselo, dia cukup terkejut dengan kehadiran Vivi di sana yang setengah sadar dengan dipegangi oleh dua maid.
"Aku juga tidak tahu. Sudahlah bawa dia pergi dari hadapanku sekarang" perintah Arselo lagi.
Sofyan yang mengerti dengan perintah Arselo pun segera membawa Vivi keluar dari rumah itu dan masuk ke mobilnya. Sofyan akan membawa Vivi kembali ke apartemennya, dengan dibantu oleh dua orang maid yang tadi memegangi Vivi, perlahan mereka memasukkan Vivi ke dalam mobil.
Setelah kepergian Sofyan dan Vivi, Arselo kembali masuk ke kamarnya untuk beristirahat, karena pikiran dan hatinya sudah sangat lelah.
Arselo membaringkan tubuhnya di kasur sambil melihat layar ponsel yang ada foto ketiga anaknya tengah bermain saat di taman tadi, Arselo dengan sengaja mencuri foto anak-anaknya itu untuk mengobati rasa rindu yang ada di hatinya dan juga untuk menyemangati dirinya lagi supaya tidak menyerah dan berhenti untuk mendapatkan maaf dari Safira dan anak-anaknya. setelah cukup lama memandangi foto itu akhirnya Arselo pun tertidur.
***
Pagi hari telah menyapa, sinar mentari yang hangat perlahan membangunkan seorang pria dewasa dari tidurnya. Arselo pagi ini terlihat segar, dia terlihat lebih bersemangat karena hari ini adalah hati minggu, jadi dia akan menemui Safira dan anak-anaknya lagi. Tapi sebelum itu, dia akan kembali ke rumah orang tuanya dahulu untuk meminta doa restu agar urusannya di permudahkan.
Setelah selesai dengan sarapannya, Arselo meminta Sofyan untuk menemaninya pergi ke rumah orang tuanya. Mereka pun berangkat berdua.
"Bagaimana wanita itu? Apa yang semalam kamu lakukan padanya?" tanya Arselo pada Sofyan.
"Saya membawa nyonya Vivi kembali ke apartemennya dan saya juga menelpon pihak rumah sakit jiwa untuk mengirimkan seorang perawat untuk menjaga dan mengawasi nyonya Vivi" jawab Sofyan
"Ya untuk sementara kita hanya bisa melakukan itu sampai saat nanti dia melahirkan, baru kita bisa membawa nya ke pengadilan" ucap Arselo.
Hening beberapa saat.
"Tuan selanjutnya apa yang akan anda lakukan?" tanya Sofyan.
"Entahlah, aku belum mempunyai rencana apa-apa selain meminta maaf pada Safira dan juga anak-anak Karena itulah yang menjadi tujuan awal ku. Kalau kamu bertanya tentang Vivi sudah tentu aku akan menceraikan dia dan juga menuntutnya karena sudah menipu ku" jawab Arselo.
Sofyan pun mengangguk anggukkan kepalanya kecil. Hingga tak berapa lama mereka pun sampai di kediaman nyonya Sita dan tuan Ardan.
Memasuki rumah itu dia menemukan Arsela yang tengah bersantai dengan mamanya mana.
"El? Kapan datang" tanya nyonya Sita saat melihat melihat Arselo melangkahkan kakinya bersama Sofyan.
"Barusan ma, papa dimana?" tanya Arselo yang tidak melihat keberadaan papanya di sana.
"Papa sedang berada di taman belakang sama pak Bram" jawab nyonya Sita.
"Oh, ternyata papa sedang ada tamu ya?" gumam Arselo.
"Ada apa? Apa ada hal penting yang ingin kamu bicarakan dengan papa?" tanya nyonya Sita.
"Tidak ada hal penting ma" jawab Arselo.
Nyonya Sita pun mengangguk mengerti.
"Abang sudah bertemu dengan anak-anak belum Aku merindukan keponakanku itu" tanya Arsela.
"Belum karena aku baru akan menemui mereka hari ini" jawab Arselo.
"Benarkah? Boleh aku ikut denganmu?" tanya Arsela dengan semangat.
"El, mama juga ingin ikut, mama merindukan cucu cucu mama itu" pinta nyonya Sita.