
Tak terasa waktu terus berlalu, hari ini Abizar dan Caca akan kembali ke kota. Anak-anak juga sangat senang dengan kabar yang ia dengar dari mamanya pagi ini, lain halnya dengan Arselo yang merasa kedatangan Abizar hanya akan membuat dirinya dan anak-anak berjarak kembali. Padahal selama Abizar tidak berada bersama mereka, Arselo merasa anak-anak mulai membuka diri padanya.
"Sofyan, menurut mu bagaimana cara menjauhkan Abizar dari anak-anak?" tanya Arselo pada Sofyan. Saat ini mereka tengah berada di kantor, dan pagi tadi Arselo mendengar pembicaraan Safira dan anak-anak jika Abizar akan kembali hari ini.
"Tuan, jika anda mempunyai niat seperti itu, lebih baik buang jauh-jauh saat ini juga" jawab Sofyan dengan nada dingin.
"Kenapa kau malah memihak-nya seperti itu? Lagipula aku hanya meminta pendapat mu saja"
"Tuan, tidakkah anda berfikir jika bukan karena tuan Abizar dan keluarganya yang menolong nona Safira saat itu, mungkinkah nona Safira akan mampu melewati hari-harinya untuk mengurus anak-anak anda yang saat itu masih anda terlantarkan?"
Arselo tidak menjawab pertanyaan dari asistennya itu, sejenak ia berpikir apa yang dikatakan oleh Sofyan itu ada benarnya. Tapi hatinya tidak ingin jika anak-anaknya lebih dekat pada Abizar, sedangkan dia sendiri tidak memiliki cara untuk mendekatkan dirinya, tanpa menyingkirkan Abizar dari anak-anaknya.
"Lalu Menurutmu aku harus bagaimana?"
"Bukankah anda orang yang pandai mengambil hati orang lain? Kenapa sekarang anda tidak bisa mengambil hati ke tiga anak-anak anda sendiri?"
"Aku memang pandai mengambil hati serta perhatian dari para wanita, tapi kali ini yang aku ingin ambil hatinya itu bukan wanita, melainkan anak-anak. Jadi menurutmu aku harus bagaimana?"
Sofyan tidak langsung menjawab pertanyaan Arselo, dia menjadi kesal sendiri terhadap tuannya itu.
"Tuan, anda kan ayah kandungnya, seharusnya anda bisa lebih mendekatkan diri dan banyak meluangkan waktu bersama anak-anak, bukan malah sibuk berfikir untuk menjauhkan orang lain yang sudah terlebih dahulu bersama dengan mereka. Karena hal itu hanya akan membuat mereka menjauh dan mungkin bisa membenci anda"
"Tapi bukankah dengan tidak adanya Abizar, anak-anak akan otomatis bisa mendekat padaku?"
"Tidak akan selamanya mereka merasa dekat pada anda. Bisa diartikan jika itu hanya sebuah pelampiasan saja dan bukan sebuah ketulusan"
Arselo menarik nafasnya dalam, saat ini ia merasa sangat kesal, marah dan juga bingung. Dia hanya ingin anak-anaknya nya bisa dekat dengannya saja tanpa ada orang lain.
Tanpa membalas perkataan Sofyan, Arselo bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari ruangan itu. Saat melewati ruangan yang biasanya sepi, kini terdengar seperti ada keributan yang terjadi di sana.
"Ada apa ini?" tanya Arselo saat ia melihat beberapa satpam tengah berusaha menghalangi seseorang itu untuk masuk ke ruangan milik Arselo.
"Maaf tuan nona ini memaksa ingin menemui anda" jawab petugas keamanan itu.
Arselo mendekati kerumunan itu dan melihat Devi tengah duduk di lantai dengan keadaan yang berantakan,
Arselo pun mendekati Devi dan membantunya untuk bangun.
"Ada apa Dev?"
"El, please tolongin gue. Vivi ngamuk dan memanggil-manggil nama loe!" ucap Devi saat ia sudah bangun dari duduknya dan berhadapan dengan Arselo.
"Kenapa Vivi bisa ngamuk? Dan selama ini kalian tinggal di mana?" tanya Arselo lagi.
"Gue tinggal di pinggir kota, usaha orang tua gue bangkrut dan kami semua pindah ke ke pinggir kota" jawab Devi.
Arselo terdiam sejenak dia tidak menyangka jika usaha milik keluarga Devi bisa bangkrut, padahal usaha milik keluarga Devi itu cukup besar dan cukup terpandang di kota. Tapi sejauh ini Arselo sendiri tidak mendengar kabar kebangkrutan perusahaan itu.
"Vivi ada di kosan. Gue tinggalin dia sendirian di sana"
"Cepet loe tunjukkin jalannya, kita ke sana sekarang"
Devi dan Arselo pun berlalu dari sana dan bergegas menuju tempat di mana Vivi berada saat ini.
Sofyan yang tidak mengetahui kemana tuannya pergi, langsung bertanya pada salah satu satpam yang tadi berkumpul di sana.
"Pak, tuan Arselo tadi pergi ke mana dan bersama siapa?"
"Tuan bilang itu tadi temannya, sekarang mau ke tempat temannya itu karena saya dengar nyonya Vivi sedang mengamuk di tempat temannya itu, jadi mereka akan berangkat ke sana sekarang"
"Apa bapak tahu kemana mereka akan pergi?"
"Maaf tuan, saya tidak tahu kemana mereka akan pergi. Yang pasti tadi mereka sangat terburu-buru"
"Ya sudah, terimakasih atas infonya. Selamat bekerja kembali"
"Baik tuan"
Setelah bertanya pada petugas keamanan itu, Sofyan pun kembali ke dalam ruangannya untuk mengambil ponselnya dan akan melacak keberadaan mobil yang Arselo bawa.
Setelah menemukan lokasi Arselo yang akurat, Sofyan merasa bingung karena di dalam GPS itu menandakan jika Arselo akan pergi ke sebuah gudang tua yang sudah lama tidak terpakai.
"Kenapa lokasi tuan ada di dekat gudang tua itu?" gumam Sofyan.
"sepertinya ada yang tidak beres, aku harus mencari tahu apa yang sedang terjadi saat ini"
Setelah mengatakan itu, Sofyan pun bergegas menyambar kunci mobil miliknya dan menuju titik GPS mobil milik Arselo.
"Stop di sini dulu, El" perintah Devi.
Arselo merasa heran karena Devi menghentikan mobilnya di dekat gudang tua.
"Lho, kita kenapa berhenti di sini Dev" tanya Arselo yang mulai curiga.
Tiba-tiba saja Devi menodongkan pisau kecil ke arah leher Arselo.
"Kamu ngapain Dev?" tanya Arselo dengan khawatir karena pisau itu sudah mengenai lehernya sedikit.
"Turun dan jangan banyak tanya!" perintah Devi."
Karena merasa terancam, Arselo pun menuruti perintah Devi yang menyuruhnya untuk turun dari mobil itu, namun saat ia menapakkan kakinya di tanah, tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang memukul pundaknya hingga Arselo tersungkur jatuh dan tidak sadarkan diri.