
Safira pergi ke taman belakang, dia menangis sendirian di sana menumpahkan semua emosi yang Safira pendam selama ini. Dulu dia sangat ingin melihat laki-laki itu bertekuk lutut minta maaf di depannya seperti tadi, tapi saat semua itu terjadi, kenapa Safira tidak tega untuk melihatnya? Kenapa ia malah merasa sakit hati? Bukankah hal itu yang ia inginkan?
Abizar mendekati tempat duduk Safira dan ikut duduk di sebelahnya.
"Fira, kamu tahu? Hatiku sangat sakit saat melihat kamu menangis seperti ini, aku merasa menjadi orang yang tidak berguna di saat orang yang paling berharga tengah bersedih tapi aku gak mampu berbuat apa-apa" ucap Abizar.
Safira yang mendengar penuturan Abizar pun mengerti, ia lalu menyenderkan kepalanya di bahu Abizar, dan melanjutkan tangisannya di situ. Untuk saat ini mereka tak ada yang mengatakan apa pun, hanya sayup-sayup suara tangis Safira yang masih terdengar.
Cukup lama menunggu hingga akhirnya Safira berhenti menangis, setelah menangis Safira merasa hatinya sudah lebih baik dan pikirannya pun sudah bisa berpikir dengan jernih kembali.
"Maaf karena aku mendiamkan mu bang!" ucap Safira setelah membenarkan posisi duduknya.
"Tidak apa-apa. Jangan pikirkan aku. Apa kamu sekarang sudah merasa lebih baik?" tanya Abizar dengan penuh perhatian.
Safira pun menganggukkan kepalanya dia kembali membersihkan sisa air mata yang masih membasahi wajahnya, Abizar mengambil sapu tangan yang ada di saku bajunya lalu membantu mengeringkan sisa-sisa air mata Safira.
"Kamu tidak seharusnya menangis seperti itu sendirian karena aku selalu siap mendengar semua keluhan mu, Fira" ucap Abizar sambil membingkai wajah Safira dengan kedua tangannya.
"Terima kasih untuk semuanya, Abang" jawab Safira tersenyum manis.
"Apa kamu sudah lebih baik? Sepertinya kita harus segera menemui orang-orang dan juga anak-anak yang sekarang berada di dalam restoran" tanya Abizar.
Safira pun mengangguk mengerti.
"Iya. ayo bang kita masuk kembali" ajak Safira.
Mereka pun berjalan beriringan masuk kembali ke dalam restoran, anak-anak yang melihat kedatangan Safira langsung berlari ke arahnya dan memeluk mamanya itu.
Nyonya Sita pun yang melihat kedatangan Safira segera menghampirinya.
"Safira, aku sebagai seorang ibu meminta maaf atas perbuatan yang telah dilakukan Arselo padamu, Aku benar-benar tidak menyangka jika anakku seb*****k itu pada mu, aku juga menyesal karena tidak menyadari bahwa cucu-cucuku sangat mirip dengan anakku" ucap nyonya Sita menangis seraya menggenggam tangan Safira.
"Sudahlah nyonya Sita, anda tidak bersalah dalam hal ini" ucap Safira sambil menyenangkan Nyonya Sita.
Arsela pun ikut menghampiri Safira.
"Safira, aku juga minta maaf untuk semuanya. aku tidak menyadari jika anak-anakmu itu adalah keponakan ku. Tolong biarkan kami menebus semua kesalahan-kesalahan yang sudah kami perbuat selama ini" ucap Arsela.
Safira yang tidak tega melihat nyonya Sita dan Arsela menangis pun segera memeluk mereka dan menenangkannya.
"Aku sudah sudah memaafkan kalian. Aku harap kalian akan menyayangi ketiga anak ku, dan tidak mengambil mereka dari sisiku" ucap Safira tiba-tiba.
"Tidak Fira. Kami tidak akan pernah mengambil mereka dari sisimu karena kamu adalah ibunya kamu adalah orang yang paling berhak atas mereka semua" ucapnya Sita yang mendengar penuturan Safira.
Semua orang yang ada di sana pun menangis bahagia mendengar ucapan Safira terutama Arselo dia juga ikut menangis karena Safira sudah bersedia untuk memaafkannya.
Bahkan Arselo sampai bersujud dan menggumamkan kata terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Safira.
"Terimakasih, terimakasih banyak Atas kemurahan hatimu, Fira" ucap Arselo.
Raiyan yang melihat papanya menangis pun segera memeluknya untuk menenangkan perasaan Arselo.
Sedangkan Dayyan dan Qirani hanya diam di dekat tubuh Safira. Arselo masih terlalu asing dengan mereka.
"Day, Qiran, Kalian kenapa diam saja? gak mau peluk papa kalian?" tanya Safira pada ke dua anak yang masih enggan beranjak dari sisi tubuhnya.
"Qiran juga mau sama mama dan om Abi aja" sambung Qirani.
Mendengar penuturan kedua anaknya itu Safira mengangguk mengerti. Iya pun menundukkan badannya untuk mensejajarkan tingginya dengan kedua anak itu.
"Abang, Qiran, kalian nggak akan pernah ninggalin mama jadi kalian tidak perlu takut, karena mereka adalah keluarga kita juga sekarang" ucap Safira memberi pengertian kepada kedua anaknya.
Arselo tidak dapat menggambarkan lagi rasa sakit hatinya akan penolakan yang dilakukan Dayyan dan Qirani.
"Sudah Fir, jangan terlalu menekan mereka untuk langsung menerimaku. aku sudah cukup senang mereka sudah mengetahui ku sebagai papa mereka" ucap Arselo yang mengerti keadaan anak-anaknya.
"Aku minta maaf karena sikap mereka terhadap mu, perlahan-lahan aku akan membantu untuk bisa dekat dengan mereka" ucap Safira.
"Kamu tidak perlu meminta maaf Fir. Semua ini karena salahku wajar mereka merasa takut padaku, dan terima kasih atas niatmu" ucap Arselo pada Safira.
Setelah semuanya selesai, Nyonya Sita meminta izin pada Safira agar bisa mengajak cucu-cucunya untuk bermain di taman kota.
"Safira, bolehkah aku mengajak anak-anak untuk bermain ke taman?" tanya nyonya Sita.
Mendengar kata taman ketiga anak itu pun kembali ceria, meskipun Dayyan dan Qirani masih tidak mau untuk berdekatan dengan Arselo, tapi mereka bertiga sudah kompak kembali.
"Abang ikut, tapi mau sama mama dan om Abi perginya" ucap Dayyan.
"Qiran juga mau sama mama dan om" timpal Qirani.
"Oma, apa kita akan pergi bersama mama, om Abi dan papa?" tanya Raiyan pada nyonya Sita.
Sedangkan Raiyan, dia sudah bisa dekat dengan Arselo, bahkan sudah memanggilnya dengan sebutan papa.
Arselo yang mendengar panggilan papa dari Raiyan merasa tersentuh hatinya, dia memeluk anak laki-laki yang berada di dekatnya. Hatinya seakan lega, tubuhnya pun terasa ringan seperi beban yang ia pikul sudah hilang.
"Tentu saja kita akan pergi bersama" jawab nyonya Sita sambil mengulurkan tangannya pada Raiyan untuk mengusap kepalanya pelan.
"Fira dan...?" panggil nyonya Sita menggantung karena tidak tahu nama laki-laki yang dari tadi berdiri di sebelah Safira.
"Abizar, tante" ucap Abizar yang menyadari jika nyonya Sita tidak mengetahui namanya.
"Maafkan aku yang tidak mengetahui nama mu, sedangkan kamu mengetahui siapa aku" ucap nyonya Sita.
"Tidak apa-apa nyonya, saya juga baru mengetahui anda adalah ibunya Arselo dari Safira kemarin malam" jawab Abizar.
Ya, Safira sudah menceritakan semua tentang Arselo pada Abizar saat mereka makan malam berdua kemarin.
Nyonya Sita mengangguk mengerti dan tersenyum hangat.
"Apa kalian sibuk, maukah kalian ikut bersama kami ke taman?" tanya nyonya Sita pada Safira dan Abizar.
Safira pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum untuk menyetujui ajakan nyonya Sita.
Maaf kalo ceritanya gak jelas 🙏🙏
Saya hanya penulis amatir yang mencoba untuk menuangkan imaginasi lewat cerita ini.
Semoga kalian suka, and Happy reading 🤗🤗🤗