Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 57



Waktu terus berlalu, tiga bulan setelah kejadian yang menimpa Safira dan Arselo, kini mereka semua telah sama-sama sehat kembali dan sudah bisa beraktifitas seperti semula. Benar apa kata Sofyan, Arselo tidak harus menyingkirkan Abizar dari kehidupan anak-anaknya. Karena tanpa Abizar pergi pun anak-anak sudah mulai membuka hati mereka untuknya.


Meskipun belum sepenuhnya, tapi dalam jangka waktu seperti itu termasuk kemajuan yang pesat. Bahkan kini anak-anak sudah mau diajak menginap di rumah kakek dan neneknya.


Seperti saat ini Dayyan, Raiyan dan Qirani sedang berada di rumah nyonya Sita dan tuan Ardan, ini adalah acara menginap mereka yang ketiga kalinya dalam tiga bulan terakhir.


"Anak-anak, ayo kita makan malam dulu" ajak nyonya Sita seraya menyiapkan beberapa hidangan makanan di atas meja.


Sekarang nyonya Sita dan tuan Ardan tidak terlalu merasa kesepian lagi karena cucu-cucunya sudah mau bermain atau menginap di rumahnya.


"Iya, oma. Kami datang" jawab Dayyan yang saat itu sedang berada di ruang keluarga bersama adik-adik dan juga opa mereka.


"Oma, kapan papa pulang?" tanya Raiyan yang sudah sangat merindukan Arselo.


"Sepertinya sebentar lagi akan tiba, Apa kalian mau menunggu papa El pulang?" tanya nyonya Sita pada ketiga cucunya itu.


Raiyan-lah yang paling antusias mengangguk, sedangkan Dayyan dan Qirani tidak bereaksi apa-apa dan hanya menatap Raiyan saja, tapi nyonya Sita mengerti jika mungkin kedua anak itu masih merasa segan terhadapnya yang notabennya adalah anggota keluarga baru.


"Ya sudah kita tunggu papa kalian sebentar lagi" ucap tuan Ardan.


Dan benar saja, tanpa menunggu lama mobil yang ditumpangi Arselo pun tiba di rumah itu.


Arselo turun dari mobil dan disambut oleh Raiyan yang berlari ke arahnya.


"Papa...!" teriak Raiyan sangat antusias dengan kedatangan Arselo.


"Apa Sayang?" tanya Arselo sambil mengangkat tubuh Raiyan dan menggendongnya.


Sedangkan Qirani dan Dayyan, hanya menatap Arselo dan Raiyan.


Arselo tersenyum hangat saat melihat kedua anaknya yang lain sedang menunggu kedatangannya di luar pintu masuk rumah, Arselo bergegas menghampiri mereka berdua dengan Raiyan masih berada di tangan sebelah kirinya.


"Apa kalian juga sedang menunggu papa?" tanya Arselo pada kedua anaknya.


"Enggak tuh om, kami hanya melihat Raiyan saja" jawab Dayyan. Qirani sendiri tidak menjawab pertanyaan Arselo.


Ya, Dayyan dan Qirani masih memanggilnya dengan sebutan "Om", tapi Arselo juga tidak mempermasalahkan hal itu karena ia mengerti mungkin anak-anak itu masih sungkan atau malu terhadapnya, artinya anak-anak itu masih menjaga jarak dengannya, dan itu membuat Arselo harus lebih sabar menghadapi Dayyan dan Qirani.


"Baiklah. Ayo kita masuk ke dalam" ajak Arselo pada anak-anaknya.


Mereka pun masuk ke dalam rumah bersama-sama, nyonya Sita dan tuan Ardan melihat hal itu merasa bahagia. Abizar benar-benar bisa membujuk cucu cucunya itu untuk lebih menerima Arselo sebagai ayah mereka.


***


Di rumah Safira sendiri merasa kesepian karena anak-anak sedang menginap di rumah Oma dan Opanya.


"Apa mereka baik-baik saja?" gumam Safira saat mengingat anak-anaknya.


Tak lama berselang, ponsel yang ia simpan di meja bergetar, menandakan jika ada panggilan yang masuk.


Safira senang dan langsung menjawab panggilan dari nyonya Sita itu.


"Halo mama" ucap ke tiga anaknya bersamaan, saat ini mereka tengah melakukan panggilan video.


"Halo juga sayang, kalian sedang apa?" tanya Safira.


"Kami sedang bermain susunan blok sama opa dan om Arselo, mama sedang apa?" tanya Qirani sambil mengarahkan kameranya pada tuan Ardan dan Arselo juga blok yang mereka mainkan.


"Iya ma, apa mama sedang sendirian di rumah?" tanya Dayyan yang memperhatikan sudut ruangan rumah Safira dari ponsel itu.


"Iya bang, mama sedang sendirian saat ini" jawab Safira tersenyum bahagia karena anaknya sangat memperhatikannya.


"Aunty Caca dan om Abi belum pulang, ma?" tanya Raiyan.


"Engga sayang, kan kalian gak ada di rumah, jadi om Abi gak akan pulang ke rumah ini" jawab Safira.


Arselo yang sedari tadi terus mencuri pendengaran, tersenyum samar saat mengetahui jika Abizar tidak pernah datang ke rumah Safira saat tidak ada anak-anak.


Tuan Ardan yang melihat senyuman tipis Arselo langsung memukul paha atasnya.


"Kenapa kamu senyam-senyum seperti itu, bikin merinding saja" ucap tuan Ardan.


"Apa sih pa, mana ada aku senyam-senyum?" kilah Arselo saat kepergok tuan Ardan.


"Gak ngaku kamu?" tanya tuan Ardan lagi.


"Beneran ngga pa" jawab Arselo masih tidak mengakuinya.


Tuan Ardan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Arselo yang seperti sedang tertangkap basah itu.


"El, Bagaimana dengan proses perceraian dengan Vivi?" tanya nyonya Sita tiba-tiba.


Saat itu anak-anak masih menelpon Safira dan membawa ponsel nyonya Sita ke kamar yang sudah Arselo siapkan untuk mereka jika ke tiga anaknya sedang menginap di sana.


"Surat pengajuan nya baru di kirim seminggu yang lalu, ma" jawab Arselo pada mamanya.


"Bagaimana dengan Vivi sendiri, Apa kamu sudah mengetahui di mana dia sekarang?" tanya nyonya Sita lagi.


"Iya ma, Vivi dan Devi sekarang mereka sedang berada di luar kota, mereka masih berpindah-pindah tempat untuk tinggal. Karena sepertinya tuan Pras dan nyonya Tia sudah tidak pada menanggung kebutuhan biaya hidup mereka, jadi mereka juga mencari kerja dengan berpindah-pindah tempat" jawab Arselo.


"Kenapa kamu tidak menangkap mereka saja El? Bagaimana jika nanti kamu sedang lengah dam mereka memanfaatkan itu untu balik menyerang mu bahkan mungkin mencelakai anak-anak juga Safira" tanya tuan Ardan.


"Itu tidak akan terjadi pa, aku sudah menugaskan mata-mata untuk terus mengawasi mereka ,setelah proses perceraian ku selesai, aku akan segera menyerahkan mereka ke pihak berwajib" jawab Arselo yakin.


"Baiklah. Tapi, apa kamu masih menempatkan bodyguard di sekitar Safira? Karena tidak menutup kemungkinan jika Vivi atau Devi akan mencelakai Safira lagi" tanya nyonya Sita


"Tentu saja ma, aku juga sudah menugaskan tiga orang lagi untuk menjaganya, aku tidak mau kejadian hal yang sama terulang lagi" jawab Arselo kala mengingat kejadian hampir empat bulan yang lalu saat Safira menjadi korban tabrak lari dari seseorang yang masih tidak di ketahui siapa pelakunya.


"Baguslah jika seperti itu, terus awasi Vivi dan Devi jangan sampai mereka berulah lagi. Mama sangat khawatir terjadi sesuatu yang buruk lagi" ucap nyonya Sita dengan raut wajah yang sedih.


"Iya ma, aku janji hal itu tidak akan terulang lagi" jawab Arselo menenangkan mamanya.


Tak lama kemudian anak-anak pun kembali menghampiri mereka dan memberikan ponsel milik nyonya Sita yang layarnya sudang menghitam.


"Oma, kami sudah mengantuk" ucap Qirani sambil meletakkan kepalanya di pangkuan nyonya Sita.


"Mau oma bacakan cerita?" tanya nyonya Sita pada ke tiga cucunya.


"Iya oma, kami mau" jawab Raiyan merasa senang.


"Kalau begitu, ayo kita ke kamar terlebih dahulu" ajak nyonya Sita. Mereka pun berjalan beriringan menuju kamar anak-anak itu bersama nyonya Sita yang akan membacakan cerita untuk cucu-cucunya.