Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 100



Setelah Arselo mengantar Safira memeriksakan kandungannya, mereka pun pulang kembali ke rumah Safira. Sebenarnya Arselo merasa sedikit penasaran dengan bayi yang masih ada di perut Safira, apalagi saat ia melihat janin itu bergerak-gerak di dalam perutnya.


"El, kamu kenapa?" tanya Safira saat menyadari tatapan mata Arselo yang terus-menerus tertuju pada perutnya.


Saat ini mereka baru saja sampai di depan halaman rumah Safira, mereka belum masuk ke dalam rumahnya dan masih berada di dalam mobil.


"Sebenarnya, aku–" Arselo merasa sedikit malu untuk mengutarakan keinginannya yang sangat ingin menyentuh perut Safira.


"Kamu kenapa, El?" tanya Safira lagi lantaran Arselo tidak meneruskan ucapannya.


"Aku tau, kamu pasti tidak mengizinkannya. Sebenarnya aku begitu penasaran dan ingin menyentuh perut mu" jawab Arselo.


Safira tersenyum mendengar jawaban Arselo.


"Kenapa kamu berfikir seperti itu? Aku mengizinkannya" ucap Safira.


"Be–benarkah?" tanya Arselo tidak percaya dengan ucapan Safira.


"Tentu saja, kamu boleh menyentuhnya" jawab Safira seraya mengambil tangan Arselo untuk di tempatkan di atas perut buncitnya.


Dan secara tidak terduga, bayi yang di dalam perut Safira pun merespon keberadaan tangan Arselo dengan sedikit tendangan. Arselo merasa sedikit terkejut saat ia merasakan sentuhan lain pada telapak tangannya.


"Lihat, dia merespon mu" ucap Safira seraya tersenyum.


Arselo tidak kalah girang, ini pertama kalinya ia menyentuh perut ibu hamil dan langsung mendapatkan respon dari bayinya.


"Di–dia bergerak, Fira?" tanya Arselo.


"Tentu saja, El. Sepertinya dia menyukaimu" jawab Safira.


Setelah menyentuh perut Safira, Arselo juga mengajak janin itu berbicara dan berkali-kali mendapat tendangan kecil darinya yang membuat Arselo terharu.


"El, sepertinya kamu harus segera kembali ke kantor" ucap Safira saat melihat ponsel milik Arselo yang berada di atas dasbor mobilnya menampilkan panggilan dari Sofyan.


"Mengganggu saja" gumam Arselo pelan yang masih terdengar oleh Safira.


"Sudahlah, El. Sepertinya sore ini kamu akan sibuk dengan pekerjaan" ucap Safira.


Arselo pun menganggukkan kepalanya dengan lesu.


"Ya, kemungkinan aku akan bekerja lembur malam ini" jawab Arselo pelan.


"Aku mengerti, El. Tidak apa-apa, pergilah" ucap Safira segera turun dari mobil Arselo.


Setelah Safira turun dari mobilnya, Arselo pun berlalu meninggalkan halaman rumah Safira dengan berat hati. sedangkan Safira baru masuk kedalam rumahnya setelah melihat mobil Arselo menyatu bersama mobil-mobil yang lain.


"Oke, sayang. Sekarang kita masuk ke dalam rumah" ucap Safira pada janinnya seraya mengelus lembut perutnya itu.


***


Di kantor Arselo, ia tidak berhenti tersenyum saat mengingat gerakan janin yang ada di dalam perut Safira, sehingga membuat beberapa orang staf yang bekerja di sana merasa heran. Arselo memang terkenal ramah, karena selalu tersenyum dan tidak menampilkan wajah galaknya walaupun saat ia sedang tidak kesal.


Tapi kali ini lain ceritanya, lantaran Arselo tetap tersenyum meskipun sudah berada di ruangannya sendiri. Sofyan yang merasa penasaran pun segera menghampirinya untuk bertanya.


"Apa maksud mu bertanya seperti itu? Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?" tanya Arselo pada Sofyan.


"Saya hanya sedikit khawatir, karena sejak ada sampai di lobby hingga saat ini, anda terus menyunggingkan senyuman" jawab Sofyan.


"Hei, apa maksud mu aku ini sudah g***?" tanya Arselo dengan kesal.


"Maksud saya bukan seperti itu, tuan–"


"Sudahlah. Kau pergi dari sini dan siapkan berkas-berkas yang akan kita perlukan saat meeting nanti" ucap Arselo memutuskan perkataan Sofyan.


"Baik, tuan. Tapi maaf sebelumnya, saya tidak bisa ikut bersama anda" ucap Sofyan, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya yang lain.


"Apa maksud mu tidak bisa ikut meeting bersama ku?" tanya Arselo.


"Iya tuan, karena saya harus meninjau beberapa tempat yang belum sempat anda datangi" jawab Sofyan. Sebenarnya itu semua adalah tugas Arselo, hanya saja tiga hari yang lalu Arselo tidak datang ke tempat itu karena malah membuat kejutan untuk Safira yang gagal.


"Baiklah. Carikan orang untuk menggantikan mu dengan kualitas kerja yang bagus" perintah Arselo.


"Baik, tuan. Saya sudah menyiapkan orang itu, sebentar lagi dia akan ke sini untuk membawa perlengkapan berkas-berkasnya" jawab Sofyan.


Tak lama kemudian pintu ruang Arselo pun diketuk seseorang, Sofyan segera menghampiri pintu itu dan membukanya.


"Selamat siang, tuan. Saya sudah membawa semua perlengkapan data-data yang kita perlukan untuk meeting nanti" ucap Erika seraya menunjukkan beberapa map yang tengah ia bawa.


"Akh, lihat, betapa tampannya tuan Arselo. Aku akan menjadi wanita yang beruntung jika bisa bersanding dengannya" batin Erika tanpa melepaskan tatapannya dari Arselo.


Arselo merasa risih karena Erika menatapnya seperti singa lapar yang sedang mengincar mangsanya, ia pun sedikit berdehem untuk menyadarkan Erika. Dan benar saja, wanita di hadapannya itu segera sadar untuk mengedipkan matanya.


"Baiklah, sekarang kamu bisa keluar terlebih dulu, akan saya panggil jika sudah waktunya" ucap Arselo pada Erika.


"Baik, tuan" jawab Erika dengan lesu, tadinya ia fikir Arselo akan menyuruhnya untuk menunggu di dalam ruangannya, tapi ternyata ia di suruh menunggu di luar.


"Padahal aku sudah berdandan cantik untuk bisa berhadapan dengan tuan Arselo" batin Erika sedikit kesal dengan sikap dingin yang Arselo tunjukkan padanya.


Setelah Erika pergi dari ruangannya, Arselo menatap kesal pada Sofyan.


"Apa maksud mu menyuruh dia menemani ku meeting hari ini?" tanyanya pada Sofyan.


"Maaf, tuan. Tapi menurut saya, cara kerja Nona Erika lebih bagus daripada yang lain. Maka dari itu saya merekomendasikannya pada anda" jawab Sofyan.


Arselo menarik nafas panjang, jika saja waktunya tidak mepet, dia ingin mencari staf yang lain.


"Apa kau tidak melihat tatapannya padaku? Seperti singa lapar yang sedang mengincar makanannya saja" gerutu Arselo kesal.


Sofyan pun membungkukkan tubuhnya sedikit.


"Saya minta maaf jika anda merasa tidak nyaman, tuan" ucap Sofyan.


"Sudahlah. Lain kali jangan Erika lagi yang mendampingiku" ucap Arselo. Setelah itu ia pun kembali menyelesaikan pekerjaan sebelum waktu meeting tiba.