
Abizar sudah kembali dari kamarnya sendirian, sebelum menemui Safira di ruang tamunya, dia melangkahkan kakinya terlebih dahulu ke dapur untuk mengambil cemilan dan membuatkan minuman untuk mereka.
Tak lama kemudian ia pun selesai dengan kegiatan di dapur dan segera menemui Safira yang masih duduk sendirian di sofa ruangan itu.
"Fira kau melamun?" tanya Abizar saat melihat Safira yang hanya diam saja dengan tatapan lurus ke depan, tanpa memperhatikan kedatangannya.
Mendengar suara Abizar yang berada duduk di sampingnya membuat Safira terkejut.
"Abang kebiasaan selalu mengejutkanku" ucap Safira sambil memegangi dadanya yang berdetak cepat.
Abizar tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu ini selalu saja tidak mengenal waktu dan tempat untuk melamun" ucap Abizar sambil duduk menyamping menghadap Safira yang ada di depannya.
"Aku nggak ngelamun Abang. Cuma lagi mikirin kenapa seharian kemarin Abang tidak mengabari ku dan juga selalu berkata jika Abang sedang sibuk, padahal selama ini biasanya juga abang selalu menyempatkan waktu untuk menelpon ku dan berbicara dengan anak-anak. Tapi seharian kemarin Abang benar-benar mendiamkan ku sehingga membuat aku dan anak-anak merasa sedih dan merasa sudah dibuang" ucap Safira sambil menundukkan kepalanya dan memainkan jari-jari tangan yang ada di pangkuannya.
Mendengar penuturan Safira, Abizar sangat merasa bersalah. Dia sama sekali tidak bermaksud untuk menjauhi mereka dan membuat mereka bersedih, dia hanya sedang belajar untuk menjauh perlahan agar ia tidak merasa terlalu sakit hati nantinya saat mengetahui Safira lebih memilih pria lain nantinya dibandingkan dengan dirinya.
"Maafkan aku Fira, aku tidak bermaksud membuat kalian bersedih. Aku hanya tidak ingin menghancurkan kebahagiaan kalian" jawab Abizar.
"Apa maksud Abang dengan menghancurkan kebahagiaan kami? Apa selama ini Abang tidak merasakan jika kebahagiaan kami ada saat bersama dengan mu?" tanya Safira sambil menatap Abizar yang ada di depannya.
"Kemarin aku melihat kalian sedang makan siang bersama dengan penuh kebahagiaan dan canda tawa. Saat itu aku berfikir jika kalian sudah menemukan kebahagiaan yang kalian cari selama ini. Aku juga melihat Arselo yang menatapmu dengan pandangan yang memuja. Jujur saja selama ini aku sangat ketakutan jika hal ini akan terjadi, aku tidak siap jika harus kehilangan kalian secara tiba-tiba. kalian sangat berarti dalam hidupku, aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan kalian, meskipun harus dengan mengorbankan semua perasaanku" terang Abizar.
Safira mendengarkan penuturan Abizar dengan penuh haru, bahkan ya sampai meneteskan air matanya saking bahagia. Abizar selalu mendahulukan kebahagiaan untuk Safira dan anak-anaknya.
"Abang salah paham, kami hanya makan siang bersama, itu pun karena keinginan Raiyan. Kami tidak pernah benar-benar bahagia tanpa kehadiran mu. Aku berharap Abang tidak pernah berbuat hal seperti ini lagi. Karena aku... aku..." jawab Safira dengan perkataan yang menggantung.
Abizar menautkan kedua alisnya, ia merasa bingung dengan perkataan Safira yang menggantung.
"Kamu kenapa?" tanya Abizar lembut dengan penuh perhatian, tangannya pun sudah menggapai tangan Safira untuk digenggamnya, yang mana hal itu membuat jantung Safira semakin berdebar kuat.
Safira tidak berani menatap mata Abizar yang sedang memandangnya dengan tatapan bingung.
"Aku... Aku... Aku merasa sedih dan kehilangan" ucap Safira dengan cepat.
Sebenarnya dia sendiri tidak berani mengungkapkan perasaannya secara langsung, selama ini dia hanya mengucapkan hal itu dengan mengatasnamakan anak-anaknya.
Abizar yang mengerti kebiasaan Safira, dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan. sebenarnya Abizar juga tahu jika Safira juga mempunyai perasaan yang sama terhadapnya.
"Baiklah Maafkan aku jika sudah membuatmu bersedih, mulai hari ini aku tidak akan membuat kalian bersedih lagi. Aku janji..." ucap Abizar sambil menyodorkan jari kelingkingnya.
"Kenapa kamu tertawa seperti itu?" tanya Abizar yang melihat Safira tertawa kecil saat dia menyodorkan kelingkingnya.
"Tidak ada bang, aku hanya merasa lucu saja. Kamu berjanji kelingking denganku seperti ini" jawab Safira sambil menautkan kelingkingnya dengan kelingking Abizar.
Abizar tersenyum senang saat Safira mau membalas tautan jari kelingkingnya.
"Aku sangat bahagia melihatmu tersenyum seperti ini, bisakah aku menikmati senyuman indah mu yang seperti ini setiap hari?" tanya Abizar dalam hatinya.
"Fira, ada sesuatu hal yang ingin aku ucapkan padamu dari dulu, tapi aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya saat itu dan hanya bisa mengungkapkannya lewat perlakuan. Kau tahu kan kalau aku sangat menyukaimu dari awal kita bertemu sebelum naik bis?" tanya Abizar sambil menggenggam tangan Safira dan menatap matanya dengan dalam.
Safira tidak menjawab pertanyaan Abizar, tapi dia menganggukkan kepalanya satu kali tanda membenarkan perkataan Abizar.
"Apa kau tahu sampai saat ini perasaanku padamu tidak pernah berubah walau sedikit pun, bahkan jika kamu percaya perasaanku padamu semakin dalam dan aku sangat-sangat tidak bisa menerima jika kenyataannya ada pria lain yang kamu pilih. Maka dari itu kemarin aku memutuskan untuk mulai menjauhi kalian, tapi setelah mendengar penuturan mu ternyata aku hanya salah paham dan aku minta maaf akan hal itu" ucap Abizar.
"Aku tidak tahu ini sudah saatnya atau belum, aku juga bukan seseorang yang bisa berkata manis ataupun romantis. Tapi kamu harus percaya dengan apa yang aku katakan-" ucapnya lagi.
Abizar turun dari duduknya tanpa melepaskan genggaman tangan mereka, dia menekuk salah satu lututnya di hadapan Safira yang masih duduk di tempatnya.
"-Aku sangat menyayangimu dan anak-anak, aku menginginkan kamu untuk jadi istriku, dan Aku juga ingin menjadi Ayah untuk anak-anak mu. are you willing to be my wife, Safira Almayra?" tanya Abizar dengan penuh perasaan.
Safira terharu dengan pernyataan Abizar, ia menitikkan air mata bahagianya karena ternyata laki-laki yang selalu bersamanya selama ini memang mempunyai perasaan yang tulus dari dalam hatinya.
"Apa abang yakin dengan perasaan mu selama ini? Dan apakah kamu tidak akan menyesal di kemudian hari karena memilihku yang sudah mempunyai tiga orang anak?" tanya Safira untuk memastikan perasaan Abizar terhadapnya bukanlah main-main.
"Fira, percayalah padaku. Aku tidak ingin kehilangan kalian, Aku juga bahagia berada di tengah-tengah kalian. Jadi aku putuskan untuk meminang mu dan menjadikanmu sebagai istriku, apa kamu bersedia?" tanya Abizar lagi.
Air mata Safira keluar makin deras setelah pernyataan Abizar barusan.
"Iya, aku mau Bang" jawab Safira sambil mengangguk pelan.
Jawaban Safira seketika membuat hati Abizar merasa sangat gembira dan bahagia, Abizar membawa Safira ke dalam pelukannya sebagai ungkapan tanda ia sangat bahagia.
"Terima kasih... Terima kasih karena kamu sudah menerima ku untuk menjadi anggota keluarga kalian, aku sangat bahagia dan bersyukur bisa bersatu dengan kalian" ucap Abizar masih dengan memeluk Safira.
Safira juga membalas pelukan Abizar, dia juga tidak kalah bahagianya dengan Abizar.
"Ya Tuhan terima kasih sudah menghadirkan seseorang yang sangat berarti bagiku dan anak-anak, kini aku merasa seperti orang yang sangat beruntung karena dicintai dan disayangi oleh laki-laki sepertinya. Terima kasih banyak" batin Safira.
"Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan untukku karena dapat meminang wanita yang selama ini aku cintai dan sayangi, aku berjanji tidak akan pernah membuat kalian bersedih lagi, Safira kamu adalah wanita yang benar-benar bisa membuatku selalu bahagia saat bersama denganmu" batin Abizar.