Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 124



Setelah menunggu beberapa hari kemudian, Arselo dan Safira mengajak semua anak-anaknya untuk pindah ke rumah baru mereka. Tidak ketinggalan juga, Nyonya Sita, Tuan Ardan, Arsela, Caca, Bu Resti dan Pak Bambang beserta Ni Eti mengantarkan mereka ke rumah baru itu.


"Nini jadi, kan tinggal bersama kami di sini?" tanya Safira penuh harap.


Nini Eti menatap tiga keluarganya, Bu Resti dan Pak Bambang yang mengerti tatapan matanya, langsung mengangguk dan menyetujui keinginan sang ibu.


"Iya, Fira. Nini akan tinggal di sini bersama kalian," jawab Ni Eti sambil mengusap lengan Safira dengan lembut.


"Ye ...! Nini tinggal bersama kita ...!" seru ketiga anak-anak Safira dengan gembira, mereka sangat senang sekali mendengarnya. Bahkan Divya pun ikut bertepuk tangan sambil berceloteh riang.


"Terima kasih, Ni. Aku senang mendengarnya," ucap Safira sambil menggenggam tangan Ni Eti.


Bu Resti dan Pak Bambang tersenyum, mereka sudah menganggap Safira seperti anaknya sendiri. "Maaf jika kami merepotkan mu, Fira. Mengingat Ibu sudah semakin tua, mungkin akan semakin merepotkanmu," ucap Bu Resti yang merasa tidak enak hati terhadap Safira dan juga keluarga barunya.


Safira segera menggeleng dengan cepat, ia sama sekali tidak keberatan untuk mengurus Ni Eti. Bahkan ia sangat senang jika Ni Eti berkenan untuk tinggal bersamanya. "Tidak apa-apa, Bu. Aku tidak keberatan dengan hal itu."


"Iya, Bu. Ibu dan Bapak tidak perlu mengkhawatirkan Nini di sini, kami sudah menganggap Nini seperti keluarga kami sendiri," jawab Arselo yang menyetujui ucapan Safira, istrinya.


Begitupun dengan Tuan Ardan dan Nyonya Sita yang tidak mempermasalahkan keinginan anak dan menantunya. "Iya, Mbak. Kalian tidak perlu menghawatirkan tentang itu," ucap Nyonya Sita pada Bu Resti.


"Terima kasih, semuanya. Saya sangat lega dan bersyukur karena sudah dipertemukan dengan orang-orang sebaik kalian," ucap Bu Resti sambil menatap haru pada ibunya.


Setelah berbincang sebentar, mereka pun melanjutkannya dengan acara makan siang bersama, dan malam hari akan ada para tetangga yang datang untuk mengadakan acara syukuran di rumah baru Safira dan Arselo.


Mereka semua menikmati acara makan siang itu dengan penuh canda tawa juga keseruan yang dilakukan oleh anak-anak.


***


Tiga tahun kemudian ...


Tak terasa waktu sudah berlalu, begitu saja dengan cepat. Entah kenapa sudah beberapa hari ini Arselo tidak seperti biasanya, ia lebih nyaman diam di tempat tidurnya dengan ditemani Divya yang kini sudah berusia empat tahun. Sedangkan kakak-kakaknya yang lain, mereka sudah sibuk sekolah bersekolah.


"Sayang, mau sampai kapan kamu tiduran seperti itu?" tanya Safira pada suaminya sambil berkacak pinggang di depan pintu.


"Maaf, sayang. Hari ini aku sangat lesu, badanku merasa tidak bertenaga sama sekali," jawab Arselo sambil kembali memeluk guling dan meminta Divya untuk menjambak kecil rambutnya, ia merasa nyaman saat Divya melakukan hal itu.


"Mama, Papah sedang sakit. Tadi habis muntah-muntah di kamar mandi," Lapor Divya pada Safira saat melihat mamanya sedang memarahi sang papa.


"Oh, ya? Benarkah? Apa kalian sedang bersekongkol untuk mengerjai ku lagi?" tanya Safira bernada kesal, ini bukan yang pertama kalinya Arselo lakukan.


"Tidak, sayang. Kepalaku benar-benar sakit saat ini," jawab Arselo sambil memegang kepalanya dan berusaha duduk di atas tempat tidur.


Kali ini Safira mencoba percaya pada suaminya, ia melangkah dan mendekati suaminya. Safira mencoba untuk mengukur suhu tubuh Arselo dengan punggung tangannya.


"Tidak panas," gumamnya pelan.


Tak lama kemudian, Arselo tiba-tiba berdiri dari duduknya dan segera berlari menuju kamar mandi.


"Huek ... huek ..."


Arselo kembali memuntahkan cairan bening yang rasanya sangat pahit di lidah, Safira khawatir dan segera menghampirinya untuk membantu memijat dengan minyak angin.


"Pah, sebenarnya kamu sakit apa? Jangan membuatku khawatir seperti ini ...!" ucap Safira dengan masih terus memijat pundak sang suami.


Arselo menggeleng lemah, ia juga tidak tahu apa yang sedang terjadi pada tubuhnya. "Aku juga tidak tahu, Ma."


Divya terus memperhatikan kedua orang tuanya yang sedang berjalan dengan Arselo yang di bopong Safira. "Ma, apa Papa baik-baik saja?"


"Benar kata mu Dek, Papa sedang sakit saat ini."


Divya pun mengikuti langkah Safira dan ikut duduk di atas kasur bersama mereka. "Ma, Papa sakit apa?"


Safira dan Arselo lirik putri bungsu mereka. "Mama belum tahu, sayang. Tapi, nanti kita akan tahu jika Aunty Sela sudah memeriksa Papa."


Setelah Safira memastikan Arselo berbaring dengan benar, ia pun segera turun ke bawah untuk membuatkannya bubur dan menelpon Arsela.


"Kamu sedang apa, Fira? Apa El belum bangun?" tanya Ni Eti yang melihat Safira sedang sibuk di dapur, padahal semua makanan sudah ada di atas meja. Beliau tahu jika Arselo belum turun dari kamarnya.


"El sakit, Ni. Dia muntah-muntah dari tadi, sekarang aku akan membuatkan bubur untuknya," jawab Safira yang masih berkutat dengan panci.


"Sakit apa?" tanya Ni Eti khawatir sambil berjalan pelan ke arah Safira.


"Fira kurang tahu, Ni. Nanti akan diperiksa oleh Dokter Sela," jawab Safira menghentikan dulu pekerjaannya.


"Hmmm, mudah-mudahan dia cepat sembuh lagi," Doa Ni Eti yang langsung diamini oleh Safira.


"Amin, Ni. Mudah-mudahan saja."


Setelah buburnya matang, ia pun segera menelepon Arsela dan membawanya ke kamar serta membangunkan Arselo yang sudah tertidur lagi.


"Pah, kamu kenapa tidur terus?" tanya Safira yang merasa heran karena suaminya itu tidak bisa ditinggalkan sendiri dan selalu saja tertidur begitu saja.


"Hmmm, aku mengantuk sekali, sayang. Rasanya mataku sangat lengket dan perih jika terbuka," jawab Arselo tanpa membuka matanya.


Safira hanya menggeleng pelan, ia tidak mengerti dengan apa yang sedang suaminya rasakan saat ini. "Sudahlah, sekarang kamu bangun dulu. Ini aku bawakan bubur untukmu."


Setelah Arselo memakan buburnya, Arsela beserta kedua orang tuanya datang berkunjung ke rumah mereka.


"Mama, Papa, Kalian juga datang?" tanya Safira yang melihat kedatangan mertuanya.


"Iya, kami dengar dari Sela, katanya El sedang sakit. Apa sakitnya parah?" tanya Nyonya Sita khawatir.


"Fira jaga gak tahu, Ma. Sudah tiga hari El seperti ini terus."


Nyonya sita mengangguk pelan. "Sela, lebih baik sekarang periksa dulu Kakakmu." perintah Nyonya Sita Arsela.


"Iya, Ma," jawab Arsela sembari mulai memeriksa pada sang kakak.


Mulai dari mata, lambung, denyut jantung hingga suhu tubuh, semuanya normal.


"Ma, Abang gak sakit apa-apa," ucap Arsela setelah ia selesai memeriksa keadaan Arselo.


Semua orang yang ada di sana cukup terkejut dan heran, saat mendengar penuturan Arsela yang mengatakan jika Arselo tidak sedang sakit.


"Apa maksudmu, Sel?" tanya Tuan Ardan tidak mengerti.


Arsela tersenyum penuh arti dan menatap Safira. "Sepertinya pasienku kali ini sebenarnya adalah Kak Fira, bukan Bang El."


"Aku?"