
Arselo benar-benar menggantikan peran Abizar Semenjak pulang dari desa, dia yang membantu Safira mengurus keperluan anak-anaknya. Mulai dari memindahkan anak-anak ke kamarnya, sampai membuatkan susu ibu hamil untuk Safira. Ni Eti menyaksikan itu merasa sedikit lega, karena ada yang memperhatikan semua kebutuhan Safira dan anak-anak.
"Nak El, terimakasih karena sudah banyak membantu kami" ucap Ni Eti saat mengantarkan Arselo yang akan pulang ke rumahnya.
Sejak tadi sore mereka sampai di kota, Arselo belum pulang ke rumah ataupun menemui orangtuanya, dia juga hanya mengabari nyonya Sita melalui telepon.
"Tidak apa-apa, Ni. Itu sudah menjadi tugas saya, dan saya juga tidak merasa keberatan–" jawab Arselo.
Safira tidak ikut mengantar kepergian Arselo karena ia merasa sangat lelah, anak-anak pun sudah terlelap dalam tidurnya, setelah sebelumnya mereka bermain bersama, dan Arselo pun memahami itu.
"–Kalau begitu saya pamit undur diri dulu, jika nanti Safira membutuhkan sesuatu, silakan segera hubungi saya" lanjut Arselo sebelum ia beranjak dari depan pintu rumah.
Ni Eti pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
"Terimakasih banyak, nak El" jawab Ni Eti.
Arselo pun berlalu pergi dari sana, tidak lupa kali ini ia meminta kunci cadangan pintu rumah pada Ni Eti. Hanya untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang darurat.
Baru saja Arselo menepikan mobilnya di depan pagar rumah, ia melihat ada seseorang yang tengah menunggu kedatangannya. Setelah arselo memarkirkan mobilnya, ia pun segera menghampiri orang yang sudah menunggunya.
"Kenapa loe baliknya malem banget?" tanya Zian.
Zian sudah menunggu kedatangan Arselo selama hampir tiga jam lamanya, setelah ia mendapat kabar jika Arselo akan pulang hari itu, ia pun segera menghampiri rumahnya karena ada sesuatu hal yang harus dibicarakan secara langsung.
"Anak-anak minta gue temenin mereka dulu sampai tidur, loe udah lama nunggu disini?" tanya balik Arselo setelah mereka masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa yang tersedia di ruang tamu.
"Udah hampir tiga jam gue nungguin loe. Nomor loe juga gak aktif, kenapa?"
"Sorry, hp gue mati. Ada kabar apa?"
"Loe bener-bener gak ada basa-basinya, ya? Ada oleh-oleh gak buat gue?"
"Gue capek, pengen cepat istirahat. Kalau loe gak bawa kabar apa-apa mending pulang sana!"
"Iya, iya, sorry. Nih gue bawa sesuatu" tunjuk Zian seraya memberikan amplop coklat yang ia bawa.
"Apaan, nih?"
"Buka aja. Oh, ya, gue hampir lupa. Ternyata nenek lampir mantan istri loe itu ada yang bebasin" ucap Zian yang menghentikan pergerakan tangan Arselo yang sedang membuka amplop coklat itu.
"A–apa? Bagaimana bisa? Bukankah saat itu hakim sudah menjatuhkan hukuman sepuluh tahun penjara? Kenapa sekarang tiba-tiba dia bisa bebas? Siapa orang yang sudah menebusnya?" tanya Arselo yang terkejut dengan pernyataan Zian.
Zian hanya mengangkat bahunya, ia sendiri pun tidak mengetahui sosok dibalik bebasnya Vivi.
"Gue juga gak tahu, El. Tadi pas gue ke kantor polisi untuk mencari tahu informasi terkait penembakan waktu itu, kepala lapas mengatakan jika Vivi sudah dibebaskan" jawab Zian.
Arselo merasa kesal dengan berita kebebasan Vivi.
"Terus sekarang, apa loe tahu Vivi ada di mana?" tanya Arselo lagi.
"Gue masih mencari jejak terbaru keberadaan Vivi, kemarin malam gue udah nemuin tempat itu, tapi s***. Belum sempat gue ketemu, dia malah udah kabur lagi" jawab Zian.
"Terus gimana dengan Devi? Apa dia juga sudah dibebaskan?"
"Devi masih ada di sana, orang itu hanya membebaskan Vivi saja"
Arselo di buat bingung dengan jawaban Zian, karena setahunya Devi dan Vivi itu mereka sangat dekat.
"Apa Devi tahu tentang orang yang sudah mengeluarkan Vivi dari penjara?"
Arselo mendesah kecewa.
"Ya udah, thanks loe dah bantuin gue. Sekarang gue mau istirahat dulu, loe bisa pulang sekarang. Dan tolong pantau terus perkembangannya" ucap Arselo sebelum ia berlalu meninggalkan Zian yang masih duduk manis di kursinya. Bahkan Arselo juga lupa untuk membawa amplop yang berisi data seseorang yang dulunya pernah ada di kehidupan Safira.
"Ya ampun, El. Ini informasi penting yang gue dapet dengan susah payah dan malah loe tinggalin" gumam Zian sambil mengambil amplop yang ia bawa tadi.
***
Di rumah Safira, ia sedang menenangkan Qirani yang tiba-tiba menangis tak karuan dan terus menerus memanggil papa. Safira sampai di buat kewalahan olehnya, hingga dua anak laki-lakinya yang lain terbangun dan menyaksikan Qirani yang sedang mengamuk. Ini pertama kalinya Qirani bersikap seperti itu.
"Sayang, tenanglah, Nak. Kamu kenapa?" tanya Safira.
"Papa– papa– papa!!! Aku mau sama papa, ma!!!" teriak Qirani dengan nada tinggi.
"Abang, tolong ambilkan ponsel mama ya" ucap Safira pada Dayyan.
Dayyan mengangguk dan dengan sigap segera memberikan ponsel itu pada mamanya.
"Kita telpon papa, ya. Tapi Qiran berhenti dulu nangisnya" ucap Safira sambil memeluk Qirani.
Setelah anak gadisnya itu lebih tenang, barulah Safira menelpon Arselo. Nada sambung telah terdengar di seberang sana, tapi Arselo belum juga menjawabnya.
Hingga pada deringan ke tiga, barulah Arselo menjawab panggilan darinya.
"Halo, El. Maaf aku mengganggu istirahat mu" ucap Safira.
"Iya tidak apa-apa Fir, ada hal apa? Apa kamu dan anak-anak baik-baik saja?" tanya Arselo dengan suara yang serak khas orang bangun tidur.
"Sebenarnya Qirani menangis dan mencari mu, bisakah kamu datang kemari? Aku dan Nini sudah mencoba untuk menenangkannya, tapi dia tetap mencari keberadaan mu" jawab Safira.
"Baiklah, aku akan segera datang ke sana. Apa ada hal yang kau inginkan? Biar sekalian aku mencarinya" tanya Arselo.
"Tidak perlu, El. Kamu cepatlah datang kemari" jawab Safira.
Setelah mengatakan itu, Safira pun menutup telponnya.
"Tunggu ya sayang, sebentar lagi papa akan segera datang" ucap Safira pada Qirani yang masih sesenggukan.
"Iya ma" jawab Qirani sambil mengangguk.
Sedangkan Dayyan dan Raiyan sudah kembali ke kamar mereka, hanya Ni Eti yang masih menemani Safira dan Qirani.
"Nini, istirahatlah. Aku akan menunggu sampai Arselo datang" ucap Safira karena melihat Ni Eti yang sudah mulai mengantuk.
"Tidak apa-apa Fir, Nini akan menemani mu" jawab Ni Eti.
Safira akhirnya membiarkan Ni Eti untuk menemaninya, hingga beberapa saat kemudian Arselo pun datang sambil membawa beberapa makanan yang ia temukan saat di perjalanan tadi.
"Papa!!!" seru Qirani yang melihat kedatangan Arselo.
Arselo pun menyimpan makan yang ia bawa, dan segera memeluk putri kecilnya yang sudah menghampirinya.
"Qiran kenapa menangis?" tanya Arselo saat sudah mengangkat tubuh Qirani.
"Kenapa papa pulang? Apa papa juga akan meninggalkan kami seperti papa Abi"