Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 49



Selama hampir sepuluh hari Safira di rawat di rumah sakit akhirnya kini ia sudah di perbolehkan pulang ke rumahnya sendiri. Safira kira ia hanya akan berada di rumah sakit itu selama tiga hari, namun semuanya berubah saat dokter melakukan pemeriksaan total pada tubuhnya dan menemukan gumpalan darah kecil menghambat peredaran darah di otaknya itu yang menyebabkan ia muntah-muntah.


Dan setelah menjalani proses kemoterapi dan pemberian obat lain, akhirnya Safira bisa kembali tenang dan bisa berkumpul dengan anak-anaknya lagi.


"Fir, sebaiknya kamu istirahat saja, jangan mengerjakan apa-apa dulu saat ini. Aku akan membayar perawat yang akan menjaga mu dan jika perlu aku akan mempekerjakan pengasuh satu lagi untuk membantu Anisa menjaga anak-anak" ujar Arselo saat membantu Safira untuk berbaring di kamarnya.


Abizar tidak bisa menjemput Safira kala itu karena ia, ni Eti dan Caca sedang pulang ke kampung halaman karena mendapat kabar jika pak Bambang terkena musibah, beliau jatuh dari motor dan terserempet mobil tiga hari yang lalu, jadi selama tiga hari itu Arselo dan Arsela lah yang membantu dan menemaninya.


Anak-anak Safira juga sudah mulai membuka diri pada nyonya Sita dan tuan Ardan sebagai kakek dan neneknya, itu merupakan suatu kemajuan yang pesat bagi mereka. Meskipun Dayyan dan Qirani masih sedikit menjaga jarak dengannya.


"Tidak apa-apa El, aku bisa sendiri. Terima kasih banyak atas bantuan mu selama ini" ucap Safira yang bermaksud untuk menolak saran dari Arselo.


"Aku melakukan ini supaya kamu cepat sembuh Fira, kasihan anak-anak jika melihat mamanya masih sakit seperti ini" jawab Arselo mencoba membujuk Safira.


"Tapi El, aku sudah terlalu banyak merepotkan mu" tolak Safira lagi.


"Sampai kapan pun kamu gak akan aku anggap merepotkan ku, Fir. Percayalah, aku ikhlas membantu semua ini" jawab Arselo lagi.


"Baiklah, aku mengerti. Terima kasih banyak" ucap Safira tersenyum tulus.


Arselo yang melihat senyuman Safira yang manis itu sempat terpana sesaat, hingga membuatnya gugup dan salah tingkah.


"Ah... emh... baik... baiklah... aku...aku pergi dulu ke depan, sepertinya perawat yang aku pesan sudah datang" jawab Arselo dengan gugupnya.


Safira yang melihat tingkah Arselo yang sepeti itu merasa heran, tapi ia hanya mengangguk untuk menyetujui kepergian Arselo.


"Oh... ayolah jantung... kenapa kau berdetak kencang seperti ini.." gumam Arselo saat ia sudah keluar kamar Safira, Arselo masih terus memegangi dadanya yang berdetak kencang.


"El?" tanya nyonya Sita yang kala itu mengantarkan anak-anak untuk menemui Safira.


Arselo yang mendengar sang mama yang memanggilnya dengan tiba-tiba membuatnya terkejut hingga hampir menjatuhkan vas bungan yang ada di atas meja dekat pintu kamar Safira.


"Kamu kenapa El? Mama panggil sampai terkejut seperti itu?" tanya nyonya Sita yang melihat reaksi anaknya.


"Gak apa-apa ma, aku kira tadi perawat yang ku suruh untuk menyusul ke sini. Mana anak-anak?" tanya Arselo mengalihkan perhatian mamanya.


Nyonya Sita yang mengerti jika Arselo sedang mengalihkan pembicaraan langsung memicingkan matanya.


"Apa terjadi sesuatu antara kamu dan Safira?" tanya nyonya Sita tiba-tiba.


"Terjadi sesuatu apa mama?" tanya Arselo pura-pura tidak mengerti.


"Sudahlah, gak usah di bahas lagi. Anak-anak sedang pergi ke minimarket depan gang sama papa" jawab nyonya Sita dengan gaya judesnya.


"Oh, ya sudah kalo gitu El mau ke luar dulu" ujar Arselo berniat untuk keluar rumah.


"Mau kemana El?" tanya nyonya Sita.


"Ketemu Zian, ma. Dia bilang ada yang mau di sampaikan penting, tapi El gak tau ada apa" jawab Arselo sambil mencium punggung tangan mamanya, sebuah kebiasaan baru untuk El yang gak pernah melakukan hal itu sebelumnya.


"Iya ma, El berangkat. Assalamu'alaikum" ucap Arselo sebelum berlalu meninggalkan mamanya.


"Wa'alaikum salam" jawab nyonya Sita.


Arselo pun pergi dari rumah Safira untuk bertemu dengan Zian setelah sebelumnya mereka janjian di sebuah kafe terkenal di tempat itu.


Tak lama setelah kepergian Arselo, tuan Ardan beserta anak-anak pun sampai ke rumah.


"Oma, mama di mana?" tanya Dayyan pada nyonya Sita yang sedang memasak makan siang untuk keluarganya di dapur rumah Safira.


"Mama mu sedang istirahat di kamar bang, Rai sama Qiran mana?" tanya balik nyonya Sita saat tak melihat dua cucunya yang lain.


"Rai sama Qiran sedang bersama Opa di ruang depan" jawab Dayyan.


Setelah menjawab pertanyaan Oma nya, Dayan pun berlalu menuju kamar sang mama. Sebelum masuk dia mengetuk pintu kamar Safira terlebih dahulu.


Tok... tok... tok...


Suara pintu kamar Safira diketuk.


"Masuk" ucap Safira dari dalam kamarnya.


"Mama apa Day ganggu?" tanya Dayyan begitu dia masuk kamar Safira.


"Enggak sayang, mama baru selesai menghubungi Om Abi, dia titip salam buat kalian, dia juga kangen sama kalian" jawab Safira sambil meletakan kembali ponselnya di atas nakas dekat tempat tidurnya.


Dayyan menghampiri Safira dan memeluknya.


"Day juga kangen sama Om Abi, sama aunty Caca, dan Nini. Kapan mereka ke sini lagi, ma?" tanya Dayyan dengan manjanya.


"Om Abi bilang kemungkinan minggu depan baru akan kembali ke sini, om Abi kan harus bantuin Aki dulu ngurus tambak sebelum Aki sehat lagi" jelas Safira pada anak sulungnya itu.


"Ma, boleh gak kalau om Abi aja yang jadi papa kami?" tanya Dayyan tiba-tiba.


Safira yang mendengar pertanyaan Dayyan sampai tersedak air liurnya sendiri.


"Uhuk. Kenapa bang Day tanya gitu?" tanya Safira yang ingin tahu alasan kenapa Dayyan bertanya seperti itu.


"Abang lebih nyaman sama om Abi, abang juga sayang sama om Abi, jadi Abang pinginnya om Abi yang jadi papa abang, bukan om El" terang Dayyan pada Safira.


"Abang gak boleh ngomong seperti itu lagi ya, biar bagaimana pun om El tetap papanya abang dan adik-adik. Abang harus bisa kasih contoh yang baik buat adik-adiknya.


Meskipun sekarang Abang belum sayang sama om El, tapi abang sudah harus belajar panggil dia dengan sebutan papa" ujar Safira sambil mengelus sayang kepala Dayyan yang sedang duduk di sisi ranjangnya.


Tanpa mereka ketahui, nyonya Sita sedang berada di depan pintu kamar Safira, tadinya ia berniat untuk memberikan makanan yang baru selesai dia hidangkan untuk Safira, tapi ia urungkan karena mendengar pembicaraan Dayyan yang menginginkan Abizar untuk menjadi papanya.


"Ternyata kamu belum berarti apa-apa di mata anak mu El" gumam nyonya Sita yang merasa kasihan pada anaknya