
Arselo menghubungi Sofyan untuk meminta bantuannya supaya mencarikan bubur ayam yang Safira inginkan.
"Tuan, ini masih dini hari, kemungkinan tidak akan ada yang berjualan bubur ayam saat ini" ucap Sofyan.
"Sudahlah, kita cari saja dulu. Aku tidak mau jika nanti anak Safira ngeces karena keinginannya tidak terpenuhi" jawab Arselo.
Mereka pun kembali melajukan mobilnya untuk mencari bubur ayam itu. Setelah sekitar satu jam kemudian saat Arselo dan Sofyan hampir menyerah, mereka pun menemukan gerobak bubur ayam dan juga makanan lain yang berada di kawasan pasar tradisional.
"Tuan, untung saja kita datang kemari. Saya ingat waktu Nyonya Vivi minta di carikan jajanan pasar dini hari" ucap Sofyan yang merasa bersyukur karena mereka bisa memenuhi keinginan ibu hamil.
"Sudahlah, kau jangan membicarakan wanita itu lagi. Sekarang kita pulang saja, kasihan jika Safira menunggu terlalu lama" jawab Arselo.
Mereka pun kembali menuju rumah sakit. Sesampainya di sana, ternyata Safira sudah tidur kembali dan suster yang menemaninya pun sudah tidak ada di ruangan itu.
"Harus ku apakan semua makanan ini?" tanya Arselo pada dirinya sendiri. Ia menyesal karena sudah mengusir Sofyan tadi, dengan alasan jika besok ada meeting yang harus di handle-nya.
"Lebih baik aku membangunkannya, dia belum makan dari sore tadi" gumam Arselo sembari melangkah menuju tempat tidur Safira.
"Fira, aku sudah membawakan pesananmu. sebaiknya kamu makannya dulu" ucap Arselo seraya membangunkan Safira perlahan.
"Engh, kamu sudah datang, El?" tanya Safira yang melihat Arselo sedang berdiri di sampingnya.
Safira pun bangun dan duduk di atas tempat tidurnya.
"Kenapa banyak sekali, El?" tanya Safira karena ia melihat ada beberapa kantong plastik yang ada di atas meja.
"Aku membeli makanan lain, khawatir jika kamu menginginkan hal lain" jawab Arselo sambil membuka satu persatu kantong plastik makanan yang ia bawa.
"Apa ada ketoprak?" tanya Safira dengan antusias.
"Ada, apa kamu mau?" tanya Arselo lagi.
Safira menjawabnya dengan anggukan kepala, lantas Arselo pun memberikan ketoprak itu untuknya.
"Padahal tadinya ketoprak itu untuk ku.Tak apalah, toh aku sedang tidak mengidam" gumam hati Arselo sambil menatap Safira yang sedang memakan ketoprak itu dengan lahap.
"El, apa kamu mau mencobanya?" tanya Safira saat ia menyadari jika Arselo terus menatap makanannya.
Arselo merasa malu karena kepergok sedang memperhatikan Safira yang masih memakan makanannya.
"Tidak perlu, Fir. Kamu habiskan saja, aku masih ada yang lain" jawab Arselo dengan cepat.
Ia pun mulai menyuapkan bubur ayam yang tadinya untuk Safira. Namun, baru beberapa suap bubur ayam itu masuk ke dalam mulutnya, tiba-tiba terdengar suara Safira yang sedang terisak di atas tempat tidurnya. Dengan segera Arselo menghampiri Safira.
"Fira, kamu kenapa? Apa makanan itu terlalu pedas?" tanya Arselo khawatir.
"Kenapa... kenapa kamu makan bubur ayam yang harusnya untuk ku?" tanya Safira dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
Arselo langsung terdiam seketika.
"Ja... jadi ini gara-gara aku memakan bubur ayamnya? Tapikan dia sudah memakan ketoprak yang harusnya menjadi makanan ku" gumam Arselo dalam hatinya.
"Maafkan aku, Fira. Ku fikir kamu sudah tidak menginginkannya lagi, jadi aku memakannya" jawab Arselo lirih.
"Kembalikan bubur ayam milik ku" pinta Safira dengan menodongkan tangannya.
"Tapi itu sudah bekas makan ku, Fira. Biar aku minta Sofyan untuk membawakan yang baru" ucap Arselo sambil mencoba menghubungi nomor Sofyan.
"Tidak perlu, aku ingin makan yang itu saja" pinta Safira lagi.
"Ya?" tanya Arselo yang merasa heran.
"Bukan tidak boleh, Fira. Tapi itu bekas ku, kamu akan segera mendapatkan bubur ayam yang baru" tolak Arselo untuk memberikan bubur ayam bekasnya.
"Aku bilang tidak mau, El. Aku hanya ingin memakan yang itu saja" ucap Safira menunjuk ke arah bubur ayam yang berada di atas meja.
Arselo mengalah, akhirnya ia memberikan sisa bubur yang ia makan untuk Safira.
"Terimakasih, El" ucap Safira senang karena bubur ayamnya sudah kembali, meskipun tinggal hanya setengahnya lagi.
"Hmmm" jawab Arselo.
"Apa semua ibu hamil memang suka aneh seperti ini!?" batin Arselo bertanya-tanya.
Setelah selesai dengan semua makanannya, Safira pun kembali untuk beristirahat. Sedangkan Arselo tidak kembali tidur karena hari sudah mulai pagi. Ia pun menelpon Sofyan untuk membawakan pakaian ganti juga sarapannya untuknya.
Sembari menunggu kedatangan Sofyan, Arselo memilih untuk mengecek pekerjaannya lewat email. Hingga beberapa saat kemudian ia tak sadar tertidur karena merasa lelah.
"Tuan, apa tuan butuh istirahat?" tanya Sofyan yang ternyata sudah datang dengan membawa semua yang Arselo minta.
"Kau sudah datang?" tanya Arselo yang terbangun karena terganggu oleh sapaan Sofyan.
"Iya tuan. Saya sudah membawa semua yang anda butuhkan" ucap Sofyan sembari menunjuk ke atas meja.
"Terimakasih, bagaimana dengan anak-anak?" tanya Arselo karena pagi ini ia tidak bisa datang mengunjungi mereka.
"Mereka baik-baik saja, tuan. Siang nanti Nyonya Sita akan membawa mereka kemari" jawab Sofyan.
"Baiklah. Terimakasih" ucap Arselo. Ia pun pergi ke dalam kamar mandi yang ada di ruangan tersebut.
Saat Arselo sedang berada di kamar mandi, Safira terbangun dan melihat keberadaan Sofyan.
"Tuan, anda di sini?" tanya Safira.
"Maaf jika keberadaan saya sudah mengganggu anda Nyonya, saya akan segera keluar" ucap Sofyan hendak beranjak dari tempat duduknya.
"Tidak perlu, tuan. Dimana El? Apa dia sudah pergi? Kenapa dia tidak berpamitan pada ku?" tanya Safira merasa sedih.
"Nyonya, tuan Arselo sedang berada di kamar mandi" jawab Sofyan dengan segera.
Safira pun mulai menajamkan pendengarannya untuk mendengar air yang bergemericik di kamar mandi itu, dan benar saja di dalam sana seperti ada orang yang sedang memakai kamar mandi. Safira pun merasa malu karena sudah bertanya seperti tadi.
"Maaf, kupikir Arselo sudah pergi dari sini" ucap Safira pelan.
"Tidak apa-apa Nyonya, saya mengerti" jawab Sofyan.
Tak lama kemudian, datanglah dokter yang akan memeriksa Safira hari ini.
"Selamat pagi Bu, bagaimana perasaan Ibu hari ini?" tanya dokter itu pada Safira.
"Pagi juga dok. Pagi ini saya merasa baik-baik saja" jawab Safira.
"Apa anda merasa mual" tanya dokter lagi.
Safira seperti sedang mengingat sesuatu, ia merasa heran karena sudah dua pagi ini dia tidak merasakan mual seperti biasanya, bahkan porsi makannya pun sangat banyak.
"Saya tidak merasakan mual dokter, malahan porsi makan saya bertambah" jawab Safira
"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. saya ikut senang karena mendengarnya" ucap dokter itu lagi.
setelah bertanya beberapa hal dokter itu pun pamit undur diri dari hadapan Safira