
Hari ini Safira akan memeriksa keadaan kandungannya, setelah kemarin pagi dia terkena demam dan saat malam hari ia merasa perutnya terus menerus kram, meskipun ia sudah tidak banyak melakukan kegiatan di rumah, tapi sakit itu masih berlangsung. Kemarin Arselo yang merawatnya hingga ia merasa lebih baik, dan dia baru pulang saat sore hari sebelum kram di perutnya itu muncul.
"Fir, sebaiknya kamu minta Arselo untuk mengantarkan mu ke rumah sakit, Nini khawatir dengan keadaan mu" ucap Ni Eti yang saat itu masih menemani Safira di kamarnya.
"Iya Ni, nanti aku akan minta tolong padanya" jawab Safira.
Safira pun mengambil ponselnya yang ia letakkan di lemari nakas samping tempat tidurnya dan segera mencari nomor Arselo, tidak menunggu lama hingga Arselo menjawab panggilan darinya.
"Halo El"
"Iya Fira? Ada apa?"
"Apa kau sibuk?"
"Tidak terlalu, apa ada yang kamu butuhkan?"
"Kalau bisa, aku ingin meminta mu mengantarkan ku untuk periksa kandungan. Karena dari semalam perutku terasa kram terus menerus"
"Kenapa kamu baru bicara sekarang? Tunggu saja di sana, aku akan suruh Arsela dan perawat Mia untuk datang ke rumah mu, kamu istirahat saja tidak perlu keluar rumah"
"Tapi El, bukankah itu berlebihan? Aku masih kuat ko' untuk pergi ke rumah sakit"
"Tidak berlebihan, Fira. Tunggulah sampai Arsela datang ke sana, aku hanya takut terjadi sesuatu padamu dan kandungan mu jika kamu memaksa untuk pergi. Apa ada hal lain yang kamu inginkan?"
"Tidak ada El. Baiklah, aku akan menunggu dokter Sela kemari" jawab Safira akhirnya.
Setelah memutuskan sambungan telpon itu, Safira kembali tiduran. Dia tidak melakukan apa-apa, karena takut terjadi sesuatu pada kandungannya. Hingga tak lama kemudian, Dokter Arsela pun datang dan segera memeriksakan Safira.
"Bagaimana keadaan kandungan ku dok?"
"Sepertinya kamu terlalu banyak fikiran, Fir. Hal itu yang menyebabkan perut mu selalu kram, dan jika terus seperti ini kemungkinan akan terjadi hal yang lebih buruk. Aku sarankan untuk bed rest dan jangan terlalu banyak fikiran, aku akan membuatkan resep obat untuk mu, biar perawat Mia yang membawanya"
"Apakah separah itu dok?"
"Ya seperti itulah. Maaf ya Fira jika aku ikut campur dalam urusan pribadi mu, tapi aku minta kamu untuk bisa menjaga kesehatan dan mengurangi fikiran mu. Aku mengerti dengan keadaanmu, aku juga pasti akan merasa terpuruk jika berada di posisi mu. Tapi kamu harus lebih bersabar dan mencoba menghadapi kenyataan, kamu jangan merasa sendirian, karena kami semua adalah keluargamu, kami peduli padamu"
Safira tersentuh dengan perkataan dokter Sela, dia merasa terpuruk setelah kejadian kemarin. Safira memang dari dulu sudah terbiasa sendiri, tapi semenjak kedatangan Abizar, dia mulai merasa memiliki tempat berlindung dan kini tempat berlindung itupun sudah tiada.
"Terimakasih, dokter. Saya akan mengingat semua perkataan dokter, sekali lagi terima kasih banyak"
"Jangan terus menerus berterima kasih, sebenarnya aku juga merasa bersalah padamu atas perlakuan Arselo dulu"
"Tidak apa-apa dokter, itu semua sudah berlalu"
"Aku yakin kamu adalah wanita yang kuat Fira, kamu pasti bisa menghadapi semua ini. Aku dan keluarga ku akan selalu mendampingi mu, jadi jangan pernah segan-segan pada kami" ucap Arsela.
Safira pun memeluk dokter Sela dengan terus menerus mengucapkan kata terima kasih. Ni Eti yang melihat kejadian itu merasa bersyukur, karena meskipun cucunya sudah tiada, tapi banyak orang yang peduli terhadap istrinya.
Tok... tok... **tok**...
Ni Eti mengetuk pintu kamar Safira yang terbuka sedikit, setelah mengetuk pintu itu beliau pun masuk.
"Apa Nini mengganggu kalian?" tanya Ni Eti ada Safira dan dokter Arsela.
Dokter Arsela pun melepaskan pelukan Safira.
"Akh, Nini tidak mengganggu kami. Saya juga sudah selesai memeriksa Safira"
"Kandungan Safira sekarang sudah lebih baik, hanya saja perlu melakukan bed rest karena itu adalah efek dari terlalu banyaknya pikiran. Saya sarankan agar Safira lebih banyak di ajak berbincang supaya pikiran negatifnya bisa teralihkan"
Ni Eti pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Baiklah dokter, saya paham. Terimakasih banyak atas bantuannya"
"Sama-sama Ni, kalau begitu saya pamit undur diri dulu. Nanti perawat Mia akan kemari untuk membantu merawat Safira dan juga membawakan obat untuknya" ucap dokter Arsela sebelum ia pergi.
Setelah berpamitan, Arsela pun keluar meninggalkan rumah yang Safira Dan Ni Eti tempati. Saat baru sampai halaman, ia bertemu dengan Caca adik iparnya Safira. Mereka sempat saling menyapa dan mengobrol sebentar, sebelum akhirnya dokter Arsela pamit undur diri dari hadapannya.
Caca sendiri masuk ke dalam rumah Safira.
"Assalamualaikum, Nini, teh Fira" sapa Caca yang masih berdiri di depan pintu kamar Safira.
"Waalaikum salam, Ca. Kamu sudah datang?"
"Iya Ni, gimana keadaan teh Fira sekarang?"
"Alhamdulillah sudah lebih baik"
"Syukurlah kalau begitu, aku merasa cemas saat mendengar teteh terus menerus merasa kram. makanya aku datang ke sini"
Ni Eti meninggalkan Caca dan Safira di kamarnya, beliau sendiri ingin beristirahat karena merasa badannya lelah.
"Gimana dengan keadaan kamu, Ca?"
"Aku baik teh, restoran yang aku pegang sekarang juga alhamdulillah sudah semakin maju"
"Syukurlah kamu bisa menanganinya. Maaf karena sekarang teteh tidak bisa membantumu"
"Tidak apa-apa Teh, yang penting sekarang Teteh jaga kesehatan dan juga jaga calon keponakanku yang masih dalam perut teteh" jawab Caca sambil mengusap perut Safira yang masih rata.
***
Di sebuah tempat lain, Arselo sedang menghadapi seorang pria yang mengaku sebagai ayah dari anak yang pernah Vivi kandung.
"Ada perlu apa anda datang kemari?" tanya Arselo menetap dingin pria yang berada di hadapannya.
"Wah, sepertinya sekarang kau sudah banyak berubah? Apa kamu tidak penasaran dengan kedatanganku kali ini?" tanya pria yang dulu pernah menjadi salah satu sahabatnya itu.
"Untuk apa? Bukankah sudah jelas jika kau datang kemari hanya untuk menanyakan keberadaan wanita itu?"
"Tidak, wanita itu sudah ada dalam genggaman ku. Kupikir bukan kau yang menjebloskannya ke penjara"
"Tentu saja, dia sudah berani menyakiti anak-anakku"
"Heh, apa kau sendiri tidak sadar? anak ku juga mati gara-gara kau" jawa pria itu mulai emosi.
"Sudahlah, Axle. Harus ku katakan berapa kali? Bukan aku yang menyebabkan bayi itu meninggal! Vivi-lah yang tidak bisa menjaga kandungannya. Bahkan dia juga menipuku untuk menikahinya, dan kenapa baru sekarang kau datang untuk mencari anak itu padaku"
"Vivi berkata jika kalian yang menggugurkan kandungannya, dan memaksa bayi itu untuk keluar sebelum waktunya"
"Itu semua tidak benar. Adikku memang dokter, tapi dia juga mengerti keadaan pasien yang harus segera dia tangani, dan kami pun sudah melakukan hal itu sesuai dengan prosedur yang berlaku. Asal kau tahu saja, Vivi selama hamil tidak pernah sekalipun absen meminum alkohol, bahkan dia juga merokok dan keluar masuk klub malam. Apa hal itu pantas di lakukan oleh ibu hamil? Aku sudah berusaha untuk menjaganya, aku juga memberikan perawat untuk mendampinginya, tapi dia malah melakukan kekerasan terhadap perawat itu" terang Arselo panjang lebar.