Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 118



Hari yang mendebarkan bagi Arselo dan Safira pun tiba, mereka berdua sudah siap untuk mengucap janji sehidup semati lagi. Hari ini mereka berdua akan kembali bertemu setelah hampir seminggu tidak saling bertemu.


Sesuai keinginan Safira, tema pernikahan kali ini adalah garden party, yang mana itu dilakukan di luar ruangan.


"El, apa kamu sudah siap?" tanya Tuan Ardan yang menyusul Arselo ke ruangannya, sedangkan ruangan Safira sendiri berada tidak jauh dari ruangannya, hanya saja mereka tetap belum boleh bertemu.


Arselo yang melihat kedatangan papanya, segera terbalik dari cermin dan menghampirinya. "Iya, Pa. Aku sudah siap," jawabnya dengan yakin.


"Baiklah. Ayo kita segera ke depan, semua tamu dan penghulu sudah berada di sana," ucap Tuan Ardan memberitahunya.


"Iya, Pa."


Sebenarnya Arselo sangat gugup, iya bahkan tadi sempat beberapa kali ke kamar kecil saking nervous-nya, hanya saja Tuan Ardan tidak mengetahui hal itu.


"El, sepertinya kamu sama sekali tidak gugup?" tanya papanya yang melihat sang anak terlihat rileks dan biasa saja.


Arselo menghentikan langkahnya, ia pun menatap sang papa dan bertanya, "Apa papa melihatku seperti biasa?"


Tuan Ardan mengangguk dan membenarkan pertanyaannya. "Ya, yang Papa lihat sekarang kamu lebih santai dan rileks."


Arselo menggeleng pelan, ia tidak membenarkan perkataan sang papa. "Papa salah, kali ini aku benar-benar gugup dan sangat tersiksa. Bahkan berkali-kali aku ke kamar kecil hanya untuk menghilangkan rasa gugupku ini."


"Benarkah?" tanya Tuan Ardan tidak percaya.


"Hmmm... Kali ini adalah pernikahan yang paling aku impikan, Pa. Kali ini aku sama sekali tidak merasa terpaksa menjalaninya. Kali ini aku benar-benar sudah siap untuk membangun rumah tangga bersama Safira, wanita yang paling aku cintai setelah Mama," jawab Arselo dengan lirih.


Ya, pernikahan kali ini ia yang meminta, berbeda dengan pernikahan-pernikahan sebelumnya yang hanya ada perasaan terpaksa.


Tuan Ardan menitikkan air matanya, ia tidak menyangka jika Arselo akan berbicara seperti itu. Selama ini ia sudah sangat berharap jika Arselo bisa berubah menjadi lebih baik dan sekarang doa itu sudah menjadi kenyataan, ia sangat terharu sekaligus bahagia.


"Papa bangga padamu, El. Meskipun dulu perilakumu sangat buruk, tapi sekarang kamu sudah berubah. Papa sangat bahagia, Papa bangga kamu bisa membuang semua perilaku buruk itu," ucap Tuan Ardan sembari memeluk anak sulungnya itu.


Arselo pun mengangguk, ia membenarkan perkataan papanya tentang dirinya. "Ini semua berkat doa kalian yang tidak pernah bosan untuk mendoakan ku."


Saat mereka masih sedang berpelukan, tiba-tiba pintu ruangan Safira terbuka dan menampilkan Nyonya Sita yang baru saja keluar dari kamar itu.


"Kalian sedang membicarakan apa? Sepertinya sangat serius sehingga membuat kalian menangis seperti itu?" tanya Nyonya Sita dengan penasaran.


Tuan Ardan segera melepaskan pelukannya dari sang anak dan menghampiri istrinya.


"Papa sedang bangga terhadap Arselo, sekarang dia benar-benar sudah menjadi pria yang bisa bersikap dan berpikir dewasa. Jika suatu saat nanti papa dipanggil terlebih dahulu, Papa tidak akan pernah menyesalinya," ucap Tuan Ardan setelah ia berada di hadapan Nyonya Sita.


"Papa ini bicara apa? Ingat, tuh, anak kita masih ada satu lagi yang belum menikah! Jangan berpikir macam-macam dulu," ucap Nyonya Sita sambil mengingatkan tentang Arsela yang masih setia dengan status jomblonya.


Tuan Ardan tidak menjawab ucapan istrinya dia hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Ma, apakah Safira akan keluar dari kamarnya sekarang?" tanya Arselo yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sang pujaan hati.


Nyonya Sita dan Tuan Ardan kompak menggeleng saat mereka mengetahui jika Arselo sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Safira.


Seketika itu juga, wajah kecewa Arselo langsung menghilang dan berganti dengan senyuman manis yang merekah.


"Cie yang bakal jadi pengantin baru lagi...! Cuit, cuit, cuit...!" Arsela tiba-tiba datang dari arah belakang mamanya, lebih tepatnya baru saja keluar dari ruangan Safira, langsung menggoda Arselo yang sudah siap di depan ruangannya.


"Apa sih, Sel. Biasa aja kali," ucap Arselo sembari menekan setiap perkataannya agar tidak terdengar gugup, apalagi saat di depan Arsela.


Arsela semakin gencar menggoda kakak kembarnya saat ia menyadari jika saudaranya itu sedang gugup. "Cie yang gugup. Ukh, lucunya Abangku ini," godanya lagi.


Wajah Arselo langsung memerah, ia sampai tidak sadar jika sudah mengumpat, "S***."


"El, apa, sih? Kamu ini baru digoda seperti itu sudah kesal," tegur Nyonya Sita yang mendengar anaknya baru saja mengumpat.


"Maaf, Ma. Aku tidak sengaja. Lagipula Arsela yang memulainya." Arselo tidak terima jika dirinya disalahkan oleh sang mama.


"Sudahlah, El. Ayo, kita segera ke depan, acaranya akan segera di mulai," ajak Tuan Ardan pada Arselo.


"Baik, Pa."


Arselo pun mulai melangkah dengan di apit kedua orang tuanya, sedangkan Arsela akan ke depan nanti bersama Safira dan anak-anak.


Safira sendiri di temani oleh Bu Resti dan Pak Bambang yang mewakili orang tua Safira yang sudah meninggal. Suasana yang terasa sakral menyambut kedatangan mempelai pria, Arselo semakin mengeratkan genggaman tangannya pada kedua orang tuanya.


"Rileks, El," ucap Tuan Ardan yang menyadari jika anaknya sedang gugup berat.


Perlahan Arselo menarik nafasnya panjang dan mengeluarkannya perlahan, setelah tiga kali ia menarik nafas panjangnya, ia pun mulai merasa tenang.


"Aku sudah baik-baik saja, Pa," ucap Arselo yang memberitahukan perasaannya pada Tuan Ardan.


"Hmmm, baiklah, ayo."


Mereka pun melanjutkan langkahnya perlahan hingga ia sampai di meja yang berhadapan dengan penghulu, sedangkan kedua orang tuanya sudah duduk di kursi lain yang berada tepat dibelakangnya.


Setelah beberapa rangkaian prosesi, kini mulailah acara puncaknya. Arselo akan kembali mengucapkan janji suci, susah senang, dan sehidup semati bersama Safira.


"Sudah siap, Nak?" tanya penghulu itu sebelum ia menjabat tangan Arselo.


"Insyaallah, siap, Pak," jawab Arselo dengan lugas, meskipun masih terasa gugup di sana.


"Baiklah, mari kita mulai saja. Silakan jabat tangan saya," pinta penghulu itu yang langsung diangguki oleh Arselo.


"Jangan tegang, Nak. Rileks," ucap penghulu itu saat menyadari jika Arselo sedang gugup hingga membuat tangannya terasa basah karena keringat.


"Maaf, Pak." Arselo berucap sambil tersenyum kaku.


Sedangkan Nyonya Sita dan Tuan Ardan yang berada di belakangnya sudah tertawa kecil, menertawakan sang anak yang masih saja gugup.


Setelah beberapa saat, Arselo pun mulai kembali rileks dan pengubah itu pun mulai melaksanakan tugasnya untuk menikahkan Arselo dan Safira.