
Siang ini Abizar pergi untuk mengantarkan Safira dan Dayyan pulang ke rumahnya, Dayyan sudah terlihat lebih baik-baik saja ketimbang tadi saat mereka berangkat. Dayyan duduk di pangkuan Safira, ia Tina ingin berjauhan dengan Abizar.
Sepanjang perjalanan pulang, Dayyan terus memegangi tangan Abizar, bahkan pada saat menyetir mobil Safira harus benar-benar membujuk anak itu agar mau melepaskan tangannya dari Abizar.
Abizar sendiri merasa bahagia dan terus tersenyum sepanjang perjalanan pulang mereka, lain halnya dengan Safira yang terlihat malu-malu saat Abizar menatapnya. Sebelum pulang ke rumah mereka mampir untuk menjemput Raiyan, Qirani dan Anisa di sekolahan mereka.
"Mama... Om Abi...!!!"
"Mama... Om Abi...!!!"
Teriak kedua anak itu memanggil Safira dan Abizar sambil berlarian ke arah mereka. Abizar berjongkok dan merentangkan tangannya siap menerima pelukan dari dua anak yang sedang berlari kearahnya itu.
"Om Abi, Qiran rindu" ucap Qirani saat ia sudah dalam pelukan Abizar.
"Rai juga rindu Om" timpal Raiyan yang sama dalam pelukan Abizar.
Abizar tidak menyangka jika ia akan sangat dirindukan oleh anak-anak itu.
"Om Abi juga rindu kalian, Maafkan Om yang terlalu sibuk sehingga membuat kalian bersedih" ucap Abizar sambil memeluk kedua anak itu.
"Jangan tinggalkan kami lagi ya, kami sayang Om" ucap Qirani.
"Iya Om janji tidak akan meninggalkan kalian lagi" jawab Abizar.
Anisa dan Safira yang melihat itu merasa terharu dengan perlakuan Abizar terhadap anak-anaknya.
Mereka berpelukan di depan gerbang sekolah TK itu, orang-orang yang lewat mengira jika itu adalah adegan ayah dan anak yang sudah lama tidak bertemu.
"Abang sebaiknya ayo kita pergi dari sini, malu banyak orang-orang yang lihat" ucap Safira pada Abizar sambil menatap sekeliling mereka.
"Baiklah, ayo kita masuk ke mobil. Kita ke restoran dulu ya untuk makan siang" ajak Abizar pada Safira, anak-anak dan Anisa.
Mereka pun menaiki mobil yang Abizar bawa dan berlalu meninggalkan tempat itu, menuju restoran yang ada di seberang sana.
Tanpa mereka sadari ada dua sosok lain yang memperhatikan kebersamaan Abizar dan Safira beserta anak-anak.
***
Arselo berniat untuk mengajak anak-anak kembali makan siang bersamanya dengan Safira, niat hati ia ingin mencoba mendekati Safira dan anak-anaknya, tapi iya lupa jika ada sosok pria lain yang sangat berharga bagi kehidupan Safira dan juga anak-anaknya.
"Apa aku terlalu egois jika menginginkan anak-anak dan Safira menjadi milikku?" tanya Arselo yang entah pada dirinya atau pada Sofyan.
Arselo menatap ke lima orang yang ada di depannya dengan perasaan yang entah bagaimana dan sulit untuk di jelaskan, tapi satu hal yang pasti ia merasa sangat iri dengan sosok pria yang sedang memeluk erat dua anaknya.
"Tuan apa anda baik-baik saja?" tanya Sofyan yang khawatir pada Arselo, karena dia hanya memandangi Safira, Abizar dan ketiga anak-anaknya.
"Bagaimana perasaanku akan baik-baik saja, jika melihat ketiga anak ku sangat menyayangi pria lain selain aku yang Ayahnya?" tanya Arselo dengan ambigu.
"Ya tuan, saya mengerti dengan perasaan anda. Maaf karena sudah menanyakan hal itu, saya hanya khawatir terhadap anda, tuan" jawab Sofyan.
Arselo tidak menanggapi perkataan Sofyan, dia masih tetap diam sambil melihat ke keluar jendela mobil.
"Sebaiknya kita pergi dari sini, perasaanku sudah tidak baik-baik saja" ucap Arselo sambil memakai kembali kacamata hitamnya.
Sofyan pun menuruti perkataan Arselo untuk pergi meninggalkan pelataran sekolah TK itu sebelum Abizar dan Safira menyadari keberadaannya.
"El, tumben kamu mau makan siang di rumah?" tanya sang mama.
"Gak apa-apa ma. Cuma lagi pengen aja" jawab Arselo sambil memainkan sendok yang ada di tangannya.
"Kamu baik-baik aja kan?" tanya nyonya Sita pada anaknya yang hanya memainkan makanannya tanpa memakannya.
"Aku gak tahu ma" jawab Arselo yang semakin membuat nyonya Sita yakin jika Arselo sedang tidak baik-baik saja.
Nyonya Sita menggelengkan kepalanya pelan dan menatap kasihan pada anak sulungnya, ia sebagai orang tua merasa kasihan dan sedih terhadap anaknya, tapi ia juga seorang wanita dan ia mengerti dengan kesedihan dan kepedihan yang di alami oleh Safira.
Nyonya Sita tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya mendoakan yang terbaik untuk semuanya. Tentu saja Nyonya Sita juga ingin melihat anaknya bahagia.
"El, mama memang tidak mengetahui sesakit apa yang kamu rasakan, tapi mama mengerti semua kesakitan itu. Mama harap kamu bisa menerima semua kenyataan ini dan berlapang dada untuk menerimanya. Mama yakin suatu saat kamu akan dipersatukan dengan anak-anak mu meskipun kamu dan Safira tidak bersatu" ucap nyonya Sita sambil mengusap bahu Arselo.
Arselo mendengar semua yang dikatakan oleh mamanya itu ada benarnya juga, meskipun dia merasa sedih dan sakit hati, dia tidak ingin menjadi lebih egois untuk mendapatkan Safira dan anak-anaknya.
"Terima kasih karena mama selalu ada buat El" ucap Arselo sambil menatap mamanya.
Nyonya Sita tersenyum atas ungkapan Arselo.
"Mama berharap suatu saat kamu akan bertemu dengan seseorang yang akan membuat hidupmu lebih baik dan bahagia" ucap nyonya Sita.
Arselo menganggukkan kepalanya.
"Amin, semoga saja ya ma..." jawab Arselo.
Ibu dan anak itu pun meneruskan makan siang mereka bersama, sedangkan Sofyan memilih untuk tidak ikut makan siang bersama Arselo. Sofyan lebih memilih untuk makan siang di luar bersama dengan teman-temanya yang lain dan akan kembali menjemput Arselo saat tuannya itu menelpon.
***
Abizar mengabari orang tuanya tentang hubungannya dengan Safira dan orang tuanya pun akan kembali ke kota untuk meresmikan hubungan Abizar dan Safira.
"Ibu harap kamu, Safira dan anak-anak selalu hidup bahagia, Ibu sama Bapak dan ini di sini benar-benar bahagia saat mendengar kabar ini" ucap Ibu Resti di seberang telepon sana.
"Iya Bu, Amin. Kapan ibu dan bapak akan ke sini?" tanya Abizar.
"Mungkin akhir minggu ini, kamu tunggu lah di sana. Awas kalau kamu macam-macam dengan Safira" ucap Ibu Resti pada Abizar.
"Abi gak macam-macam bu, cuma satu macam aja" jawab Abizar dengan jenaka.
"Kalau kamu berani macam-macam dengan Safira, Ibu nggak akan segan-segan buat pecat kamu jadi anak ibu" ucap Bu Resti dengan ancamannya.
"Lho, kok ancamannya begitu banget, bu?" tanya Abizar dengan nada merajuk.
"Makanya kamu jangan berani macam-macam" jawab Bu Resti.
"Iya Bu, Abi akan jaga Safira Dan anak-anak baik-baik" ucap Abizar.
"Baguslah kalau kamu mengerti, Ibu bangga sama kamu" ujar Bu Resti sebelum ia mematikan teleponnya.
Setelah selesai dengan percakapannya, Abizar kembali ke ruang keluarga untuk berbincang dan bercanda dengan Safira dan anak-anak.