Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 54



Arselo tersadar dengan suasana asing, nuansa yang serba putih dan bau khas obat-obatan. Ia menatap langit-langit yang putih dengan pandangan kosong, hingga ia mendengar seseorang membuka pintu.


"Tuan anda sudah sadar?" tanya Sofyan.


Arselo tidak menjawab pertanyaan Sofyan, dia hanya meliriknya sekilas dan kembali menata langit-langit ruangan itu lagi.


"Tuan apa anda baik-baik saja? tunggu biar saya panggilkan dokter dulu untuk memeriksa anda" ucap Sofian sambil menekan tombol darurat yang ada di samping kepala ranjang pasien.


Tak Berapa lama dokter pun datang bersama dengan salah satu perawat.


"Permisi tuan saya akan mengecek kesehatan anda dulu" ucap dokter itu sambil menekankan stetoskop bagian dada Arselo. Dokter juga memeriksa bagian retina dan pupil mata Arselo.


setelah mengecek semua bagian tubuh Arselo, dokter itu pun pamit dan mengatakan jika Arselo sudah melewati masa kritisnya.


"Air" gumam Arselo lemah.


Sofyan dengan sigap langsung memberikan air minum dengan menggunakan sedotan dan diarahkan ke mulut Arselo.


"Silakan tuan" ucap Sofyan.


Setelah minum, Arselo menatap sekeliling ruangan seakan bertanya apakah tidak ada orang lain selain dia dan Sofyan di ruangan itu, dan Sofyan yang mengerti dengan arti tatapan Arselo padanya pun langsung menjawab.


"Tuan besar dan nyonya besar baru saja pulang sekitar lima belas menit sebelum anda sadar, dan dokter Arsela sendiri sedang ada operasi jadi di dia belum datang kemari hari ini" jawab Sofyan.


"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?"


"Anda berada dalam masa kritis sekitar tiga hari, tuan. maaf saat itu saya datang terlambat karena nyonya Safira dan tuan Abizar memaksa untuk ikut ke lokasi tempat anda disekap"


"Maksudmu Safira dan Abidzar ikut ke gudang itu?"


"Iya tuan"


"Bukankah hari itu Abizar baru sampai ke kota?"


"Ya, tapi saat dia tahu jika anda sedang berada dalam kesusahan, ia segera meminta saya untuk mengirimkan alamat keberadaan anda. Meskipun sebelumnya saya sudah menolak dibantu olehnya, tapi beliau tetap memaksa untuk ikut" jawab Sofyan


Flashback on


Saat Abizar sedang beristirahat di kamarnya, sayup-sayup ia mendengar Safira yang tengah menelpon seseorang dengan nada yang cemas. Saat itu Safira ingin menghubungi Arselo karena Raiyan memaksa untuk menelpon papanya, tapi Arselo tidak menjawab panggilannya, lantas Safira pun menghubungi Sofyan untuk menanyakan keberadaan Arselo.


Dan dengan terpaksa Sofyan pun mengatakan jika Arselo dalam keadaan yang bahaya.


"Fir, kamu kenapa?"


"Bang ini gawat, Arselo sedang berada dalam kesusahan. Tadi Sofyan bilang jika ia menangkap sinyal GPS dari mobil yang dinaiki Arselo berada di daerah XXX dekat gudang tua yang sudah lama tidak terpakai"


"Apa? Untuk apa dia ada di sana? Di sana adalah tempat berbahaya, banyak preman dan napi yang kabur dari penjara berkumpul di sana"


"Aku juga nggak tahu bang. Sofyan tidak mengatakan apa-apa lagi"


"Aku harus segera ke sana, kamu tunggu lah di sini"


"Gak bang, aku mau ikut"


"Aku janji hanya akan menunggu di mobil saja, aku mohon izinkan aku untuk ikut ke sana" pinta Safira dengan memohon.


Abizar tidak bisa menolak keinginan Safira jika sudah seperti itu, meskipun dengan berat hati, Abizar akhirnya mengalah dan membawa Safira bersamanya untuk menolong Arselo.


Butuh waktu hampir dua jam untuk bisa sampai ke tempat itu, di sana ia bertemu Sofyan yang bersama anak buahnya yang berjumlah sekitar enam orang. Tapi ternyata benar kata Abizar, di sana adalah tempatnya para penjahat berkumpul.


Sekitar tujuh orang pria berbadan kekar yang sedang berada di luar gudang.


"Siapa kalian? Ada perlu apa kalian kemari?" tanya salah satu pria yang ada di sana.


"Di mana kalian menyembunyikan tuan Arselo?" tanya Sofyan.


"Oh jadi kalian datang kemari untuk mencari c******k s****n itu? Dia sedang bersama nyonya kami" jawab pria berbadan besar itu.


"Siapa nyonya kalian?" tanya Sofyan lagi.


''Tentu saja hanya Nyonya Vivi yang bisa membayar kami dengan harga tinggi" jawabnya.


Sofyan, Abizar dan Safira terkejut dengan pengakuan preman itu. Mereka tidak menyangka jika Vivi bisa sampai melakukan hal seperti itu.


"Biarkan kami masuk!" perintah Sofyan yang tidak didengar oleh para preman yang menjaga pintu gudang.


"Tidak akan mudah, karena kami tidak akan membiarkan kalian masuk ke dalam" jawabnya lagi.


Safira khawatir pada Abizar yang sedang di luar mobil, sedangkan dirinya masih berada di dalam mobil karena Abizar melarangnya untuk keluar. Dan tanpa sepengetahuan orang-orang Safira sudah menelpon pihak kepolisian dan melaporkan kasus penyekapan Arselo.


Saat para preman itu akan menghajar orang-orang yang Sofyan bawa, tiba-tiba sirine polisi terdengar samar-samar.


"Polisi...! Ayo cepat kita kabur sebelum mereka menangkap kita lagi" teriak preman itu kepada teman-temannya.


"Awas kau suatu saat kami akan membalas perbuatan...! Tunggu saja pembalasan dari kami" teriak salah satu preman itu pada Sofyan dan juga Abizar.


Setelah para polisi itu sampai, sebagian dari mereka mengejar para buronan yang sudah kabur. dan yang sebagiannya lagi membantu Sofyan untuk mencari Arselo yang disekap di dalam gudang itu.


Kawanan polisi, Sofyan, dan Abizar berpencar untuk mencari keberadaan Arselo yang masih di sekap di dalam. Abizar menemukan Arselo terlebih dahulu dan membantu untuk melawan para preman yang sedang mengeroyok Arselo.


"Arselo...?" teriak Abizar saat salah satu preman itu menodongkan pistol ke arah kepala Arselo yang sudah tergeletak lemah, dan dengan sigap Abizar segera menendang tangan preman itu hingga tembakannya meleset jauh.


Setelah mendengar suara tembakan, barulah orang-orang dari kepolisian juga Sofyan datang dan segera menghampiri mereka untuk menangkap preman yang masih ada di sana juga menolong Arselo yang sudah tidak sadarkan diri.


Flashback off


Arselo duduk termenung setelah mendengar cerita Sofyan, Arselo kira Abizar hanya peduli pada anak-anaknya saja, tapi ternyata Abizar juga peduli padanya.


"Bagaimana tuan? Apa anda masih berniat untuk menyingkirkan tuan Abizar setelah semua kebaikan yang ia lakukan terhadap anak-anak dan juga anda?" tanya Sofyan sinis.


Arselo tidak menjawab pertanyaan Sofyan, ia masih diam termenung.


"Jika anda masih tetap dengan keinginan anda, silahkan cari asisten lain. Karena saya akan mengundurkan diri, saya tidak mau terus bekerja dengan atasan yang mempunyai sifat egois berlebih seperti anda" ujar Sofyan berani saat ia hanya melihat Arselo yang diam saja.


Saat Sofyan selesai berkata seperti itu, Arselo langsung menatap tajam mata Sofyan dan yang di tatap hanya acuh dan berbalik duduk di kursi sofa yang tersedia di ruangan itu.