
Kedatangan Arselo dan Safira disambut ramai oleh orang tua serta anak-anaknya, mereka bahkan membuat kartu ucapan yang dipasang di pagar balkon lantai atas dengan tulisan 'HAPPY WEDDING MAMA DAN PAPA'. Bahkan Safira sampai menutup mulutnya saat melihat spanduk yang sudah mereka siapkan.
"Apa ini buatan kalian bertiga?" tanya Safira pada ketiga anaknya itu. Anak-anak itu pun langsung menggeleng serempak, karena memang bukan mereka yang khusus membuatkan itu semua.
"Tentu saja semua itu bukan buatan kami, Ma. Aunty Sela dan Aunty Caca yang membuatnya," jawab Qirani tersenyum sambil memperlihatkan gigi kecilnya.
Arselo menggeleng pelan saat mendengar jawaban Qirani. "Anak-anak Papa memang sangat pintar dalam membuat kejutan, ya," puji Arselo yang membuat ketiga anaknya itu malu.
"Terima kasih, Pa. Kami sayang kalian," ucap Raiyan yang langsung memeluk Safira dan Arselo disusul oleh Dayyan dan Qirani. Sedangkan Divya hanya melihat sambil tertawa senang, ia juga bertepuk tangan.
Terima kasih, Tuhan. Engkau memang maha adil. Dulu aku pernah berada dititik terendah dan merasa diri paling hina, tapi sekarang engkau menggantikannya dengan semua kebahagiaan yang aku dapatkan sekarang. Terima kasih karena memberikan kesempatan pada anak-anakku untuk merasakan kasih sayang yang tulus dari orang tuanya, serta kakek-neneknya, batin Safira.
Ia merasa beruntung, meskipun awalnya sangat menyakitkan dan memalukan, tapi kini semua itu terbayar dengan kebahagiaan yang kini tengah ia rasakan.
Arselo terus memperhatikan istrinya yang sedang menatapnya tanpa berkedip, dengan pandangan yang sedih. ia pun segera menghampirinya karena khawatir.
"Sayang, are you okay?" tanya Arselo saat ia sudah berada di samping Safira dan ikut duduk bersamanya.
Safira menoleh pada Arselo dan tersenyum. "Aku baik-baik saja, El. Kamu tidak perlu khawatir."
"Benarkah? Lalu kenapa kamu terlihat bersedih atau ada yang kamu rasakan? Mungkinkah 'Itu' mu masih sakit?" tanya Arselo pelan sambil berbisik tepat di telinga Safira.
Safira membulatkan matanya ia tidak percaya jika Arselo sampai bertanya seperti itu di depan orang tuanya, meskipun hanya berbisik dan mungkin hanya mereka saja yang mendengar, tapi tetap saja itu membuatnya malu.
Dengan gerakan refleks, ia pun memukul tangan Arselo sambil berbisik, "El, apa maksudmu bertanya seperti itu? membuatku malu saja." Bahkan kini wajahnya sudah merah padam dan ia pun menjadi salah tingkah akibat pertanyaan suaminya itu.
Perlakuan mereka berdua itupun menjadi pusat perhatian orang-orang yang sedang berkumpul di sana, hingga akhirnya keluarganya itu menggoda mereka berdua.
"Ehemm, kalau pengantin baru, beda, ya? Wajahnya suka bersemu merah tiba-tiba," ucap Arsela yang mulai menggoda Safira.
"Apa, Sih, Sel."
"Ehemm, sudahlah, Sel. Kamu jangan mulai mengganggu Kakak iparmu," tegur Arselo yang juga sedang gugup karenanya.
Tuan Ardan dan Nyonya Sita pun terkekeh pelan saat menyadari kedua pengantin itu sedang dilanda kegugupan, mereka memang tidak mengatakan apa-apa, tapi hal itu semakin membuat Arselo dan Safira malu.
"Oma, kenapa pipi Mama dan Papa jadi merah seperti itu?" tanya Qirani yang menyadari jika wajah Safira dan Arselo sedang memerah.
Semua keluarga yang ada di sana pun, kompak langsung menatap wajah pasangan pengantin baru itu dan saat itulah tawa mereka pun pecah semua.
Arselo yang sudah merasa malu pun kini menjadi salah tingkah seperti Safira, tapi dia masih bisa mengatasinya dan hanya membuang muka dengan wajah kesal. Dengan segera ia pun menarik tangan Safira untuk dibawa ke kamarnya untuk menghindari godaan dari keluarganya itu.
"El, apa tidak masalah jika kita langsung pergi meninggalkan mereka begitu saja?" tanya Safira yang merasa tidak enak hati pada keluarga suaminya.
Arselo pun menghentikan langkahnya dan membalikkan badan Safira untuk menatap keluarga besarnya yang masih terkekeh dan berkumpul, di sana tidak terlihat raut kesal atau pun kecewa.
"See? Mereka bahkan tidak menyadari kepergian kita. Kamu tidak perlu merasa tidak enak hati, mereka pasti akan memaklumi kita yang masih pengantin baru," jawab Arselo sambil menyentuh pundak Safira dari belakang.
Safira pun mengangguk pelan setelah mendengar ucapan suaminya. "Ya, tetap saja aku merasa malu."
"Tidak apa-apa, sebaiknya kamu istirahat lah nanti akan aku bangunkan saat makan siang tiba," ucap Arselo yang saat ia mengingat jika Safira sedang kurang istirahat.
"Hmmm, baiklah. Kamu benar sebaiknya aku istirahat saja," jawab Safira membenarkan ucapan suaminya.
Mereka pun masuk ke kamar lama Arselo yang kini sudah menjadi kamarnya juga. Rencananya setelah beberapa hari menginap di rumah orang tuanya, Arselo akan memboyong keluarga barunya untuk tinggal di rumah yang sudah ia siapkan sejak lama.
Saat ini ia belum bisa mengajaknya ke sana, karena ada beberapa hal yang harus diubah dan ditata ulang, termasuk kamar untuk anak-anak yang belum ia lengkapi semuanya.
Arselo juga akan meminta pendapat Safira tentang rumahnya, ia ingin anak dan istrinya merasa betah di sana. Maka dari itu, ia akan meminta Safira yang mendekorasinya sendiri sesuai dengan rumah impiannya.
"El, kita akan berapa lama tinggal di sini?" tanya Safira. Sebenarnya ia bukan tidak betah tinggal di sana, hanya saja ia merasa sedikit sungkan pada mertuanya itu dan tidak ingin merepotkan mereka atas anak-anaknya.
"Terserah kamu saja, sayang. Aku akan mengikutimu, lagipula rumah kita yang ada di sana belum begitu lengkap untuk kebutuhan semua anak-anak. Besok kita bisa melihatnya dan kamu bisa mulai menata ulang rumah itu," jawab Arselo sambil menutup pintu kamarnya dan membiarkan Safira untuk beristirahat, sedangkan ia sendiri kembali lagi ke ruang keluarga untuk kembali bergabung bersama yang lain.
"Lho, menantu Mama mana, El?" tanya Nyonya Sita yang baru sadar, saat ia sudah tidak melihat Safira bersama Arselo.
"Fira aku suruh untuk istirahat, Ma," jawab Arselo.
"Oh, baiklah."