
Hari ini Safira beserta baby Divya sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, tidak terasa waktu sudah seminggu berlalu sejak ia kembali siuman dan selama itu pula Arselo terus menemani dan membantunya untuk mengurus baby Divya.
"Fira, biar aku saja yang memangku Divya. Kamu gak perlu bawa apa-apa, nanti Sofyan akan ku suruh untuk menyusul kemari," ucap Arselo saat Safira hendak menggendong Baby Divya.
"Tidak apa, El. Aku sudah cukup kuat untuk menggendongnya," tolak Safira.
"Aku ingin kamu cepat pulih dan sehat kembali, Fira." Arselo mengambil alih baby Divya yang sudah dipangku Safira.
Safira kesal, ia cemberut di hadapan Arselo sembari membuang mukanya saat baby Divya sudah berada di dekapan Arselo.
"Aku benar-benar sudah lebih baik, El," mohon Safira. Ia hanya tidak ingin terlalu merepotkan Arselo.
"Dan aku tahu pikiranmu, Fira. Pasti kamu sedang berpikir untuk tidak merepotkanku, iya, kan?" tebak Arselo.
Safira menatap heran Arselo, "Sejak kapan dia bisa membaca pikiranku?" lirih Safira.
"Sejak kamu selalu berpikir untuk tidak merepotkanku dalam hal apa pun," jawab Arselo.
Safira bergidik ngeri karena menurutnya Arselo sangat aneh, sedangkan Arselo sendiri hanya tersenyum kecil melihat tingkah Safira.
Kini mereka berdua sudah dalam perjalanan pulang menuju rumah Safira. Arselo mengembalikan baby Divya ke pangkuan Safira saat mereka sudah masuk ke dalam mobil tadi. Sepanjang perjalanan, Safira tidak henti-hentinya terus mengganggu bayi merah yang berada di pelukannya, hingga membuat Arselo menggelengkan kepala.
"Fira, sudahlah jangan mengganggu Divya. Kasihan, biarkan dia istirahat," tegur Arselo.
"Aku suka melihat wajah lucunya, El," jawab Safira gemas pada bayinya sendiri.
"Kamu ini, giliran aku yang menggodanya, kamu larang," rajuk Arselo.
Safira menanggapi rajukkan Arselo dengan tertawa kecil.
"Baby, lihat Papa El sedang merajuk," ucap Safira pada bayinya.
Arselo tidak menanggapi candaan Safira, dia kembali fokus pada kemudi mobilnya. Tanpa terasa mereka kini sudah sampai di halaman pagar rumah Safira, di sana terlihat anak-anak, Ni Eti, Nyonya Sita dan Tuan Ardan sudah berkumpul untuk menyambut kedatangan Safira juga baby Divya.
"Mama!" panggil anak-anak itu secara bersamaan dan menghampiri Safira yang baru saja keluar dari mobil.
"Mama, kami sangat merindukanmu," ujar Dayyan sembari memeluk pinggang mamanya.
"Iya, Ma. Mama jangan pernah meninggalkan kami lagi," timpal Qirani yang diangguki oleh Raiyan.
"Iya, sayang-sayangnya Mama. Mama janji gak akan pernah ninggalin kalian lagi," jawab Safira.
"Sudah, ayo kita langsung masuk ke dalam kasihan bayimu nanti kedinginan karena terlalu lama di luar," ujar Ni Eti sambil mengingatkan Safira.
"Iya, Ni. Ayo anak-anak, kita masuk sekarang," ajak Safira pada ketiga anaknya yang lain.
Mereka pun beriringan masuk di ikuti Arselo, Nyonya Sita dan Tuan Ardan. Ni Eti segera menyuruh simbok menyiapkan ramuan khusus untuk di minum oleh Safira, sementara Arselo mengambil alih baby Divya untuk ia pindahkan ke kamar Safira. Tanpa sepengetahuan Safira, Arselo juga sudah menyiapkan box bayi di sana.
"Baby Divya, sekarang bobo dulu, ya," ucap Arselo seraya menidurkan bayi itu dalam box. Arselo juga sempat mengayunkannya sebentar supaya baby Divya kembali tidur.
Setelah menidurkan Divya, Arselo kembali ke ruang tengah untuk ikut bergabung bersama Safira dan keluarga yang lain. Mereka menceritakan banyak hal, bahkan Safira juga kini sudah mengetahui siapa orang yang sudah melukainya saat itu.
"Aku tidak menyangka jika Erika bisa sampai senekat itu," ucap Safira.
"Ya, aku juga awalnya tidak menyangka bahwa Erika bisa melakukan hal itu padamu. Apalagi saat itu dia benar-benar tahu jika kamu sedang hamil," geram Arselo yang masih kesal pada Erika.
"Tapi, El, aku juga merasa kasihan dengan keluarganya," ucap Safira.
Safira mengerti bahwa Arselo melakukan hal itu untuk dirinya, dia merasa terharu dengan tindakan Arselo.
"Terimakasih karena sudah membelaku, El" ucap Safira yang ditanggapi senyuman oleh Arselo.
"Maaf karena sudah membuatmu terseret dalam masalahku," sesal Arselo.
"Tidak apa-apa, El. Semua itu bukan salah mu, lagipula aku sudah baik-baik saja sekarang," ucap Safira, ia tidak ingin Arselo merasa bersalah terus terhadapnya.
"Sudah. Jangan bahas itu lagi jika hanya membuat kalian sedih," tegur Nyonya Sita.
Akhirnya mereka pun membicarakan hal lain lagi sebelum waktu makan malam tiba. Saat Nyonya Sita dan Tuan Ardan berdiri untuk pamit pulang, Safira segera melarangnya.
"Ma, kita makan malam dulu di sini, jangan dulu pulang," cegah Safira.
"Tidak perlu, Fira. Kami tidak mau merepotkan kalian," tolak Nyonya Sita.
"Ayolah, ma, kali ini aja," bujuk Safira dengan tatapan memohon, karena tidak tega, akhirnya Nyonya Sita pun mengiyakan ajakan Safira.
"Baiklah. Maaf jika kami sudah merepotkan kalian," ucap Nyonya Sita merasa tidak enak hati.
"Mama sama sekali tidak merepotkan kami," jawab Safira.
Setelah simbok selesai menyiapkan semua makanannya, barulah mereka kembali berkumpul di meja makan untuk menyantap hidangan itu.
Saat acara makan malam masih berlangsung, terdengar baby Divya menangis di kamar Safira. Dengan segera Arselo bangkit dan meninggalkan makanannya untuk mengambil baby Divya. Safira pun turut bangun untuk mengikuti Arselo.
"Kenapa menyusul?" tanya Arselo saat ia menyadari Safira sudah mengikutinya.
"Kasihan Divya nangis," jawab Safira.
"Tidak apa-apa, aku akan menjaganya sementara kamu selesaikan makan dulu," ucap Arselo seraya menimang kembali baby Divya.
"Lalu bagaimana denganmu, El?" tanya Safira
"Aku akan kembali makan jika kamu sudah selesai," jawab Arselo sembari tersenyum.
"Maaf, ya, El."
"Tidak masalah, Fira." Arselo membiarkan Safira kembali ke meja makannya.
Selesai dengan makan malam Safira, kini giliran Arselo yang makan malam. Safira menemaninya dengan membawa baby Divya bersama mereka.
"Padahal kamu gak perlu kemari, Fira."
"Tidak apa-apa, El. Aku menemanimu supaya kamu gak sendirian di sini," ucap Safira.
"Papa gak sendirian, Mama. Kami akan menemaninya!"seru Dayyan bersama kedua saudaranya yang lain.
"Iya, lebih baik Mama dan baby Divya kembali ke kamar," timpal Raiyan.
"Ayo, Ma. Kakak akan temani Mama dan Adik," ajak Qirani.
Safira tersenyum melihat kekompakan ketiga anak kembarnya itu.
"Kalian ini. Ya sudah. Kakak ayo temani Mama di kamar." Safira yang enggan berdebat dengan anak-anaknya pun mengalah dan meninggalkan Arselo bersama dengan kedua anak laki-lakinya. Sedangkan Nyonya Sita dan Tuan Ardan sudah pamit dari tadi setelah mereka selesai makan malam.