Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 85



Setelah melalui perdebatan yang lumayan panjang, Arsela mengalah dan memberikan ijin untuk Safira yang ingin keluar rumah bersama Arselo. Rencananya mereka akan bertemu dengan Axel yang berada di sebuah rumah sederhana milik Arselo. Arselo mengijinkan Axel tinggal di sana sementara waktu sampai Vivi datang lagi ke negara ini.


"Fira, apa kamu sudah siap?" tanya Arselo tidak yakin.


"Ya, aku sudah siap, El" jawab Safira dengan tenang. Meskipun hatinya mulai sedikit emosi, tapi dia berusaha untuk tidak memperlihatkan-nya pada Arselo.


"Aku mohon, saat nanti kita sampai di sana, kamu harus bisa jaga emosi supaya jangan sampai membuat mu kembali jatuh sakit" mohon Arselo karena ia khawatir dengan kondisi kesehatan ibu hamil itu.


"Iya, aku janji. Aku hanya ingin bertemu dengan orang yang sudah membunuh suamiku saja" jawab Safira lagi sedikit tertahan.


Setelah mengatakan itu, Arselo pun mulai menjalankan mobilnya. Mereka hanya pergi berdua, karena anak-anak tidak di ijinkan untuk ikut dan sebagai gantinya, Arselo akan mengajaknya jalan-jalan weekend nanti.


Menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka pun sampai di rumah itu. Sofyan sudah berada di sana untuk menunggu kedatangan mereka.


"Tuan Sofyan, kau ada disini?" tanya Safira.


Belum sempat Sofyan menjawab pertanyaan Safira, Arselo sudah terlebih dahulu menjawabnya.


"Aku yang memerintahkannya untuk terus mengawasi Axel disini" jawab Arselo.


Safira pun menganggukkan kepalanya setelah mendengar jawaban Arselo, sedangkan Sofyan hanya menggelengkan kepalanya pelan saat melihat tingkah Arselo.


"Sepertinya tuan Arselo sudah mulai posesif terhadap nyonya Safira" batin Sofyan seraya mengikuti langkah tuannya yang memasuki rumah sederhana itu.


Safira terus memperhatikan semua ruangan yang ia lewati bersama Arselo, rumah sederhana itu cukup terawat .


"El, di mana orang itu? Dari tadi aku tidak melihatnya?" tanya Safira dengan tidak sabarnya.


"Dia berada di kamar belakang" jawab Arselo dengan terus menuntun tangan Safira.


Setelah melewati beberapa ruangan, akhirnya mereka pun sampai di sebuah kamar.


Ceklek...


Arselo membuka kamar itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


"El, kamu sudah datang?" tanya Axel yang segera berdiri dari duduknya.


"Ya kami datang" jawab Arselo dengan dinginnya.


Axel melihat tubuh seorang wanita yang berdiri di belakang Arselo.


Degh...


Safira menatap lurus kearah laki-laki yang sedang berada di hadapannya, sama halnya dengan laki-laki itu yang menatap ke arah Safira, mereka sama-sama terdiam tanpa mengucapkan sepatah katapun sebelum akhirnya Arselo berdehem untuk menyadarkan mereka berdua.


"Ehemm"


"Axel, dia adalah istri dari laki-laki yang tidak sengaja kamu tembak" ucap Arselo pada Axel.


Axel sendiri tidak menanggapi ucapan Arselo, dia sendiri sedang mengingat-ingat sesuatu yang mungkin pernah tidak sengaja terlupakan.


"Apa kamu Safira?" tanya Axel dengan tiba-tiba.


Arselo cukup terkejut, karena sebelumnya ia tidak pernah mengatakan nama dari wanita yang menjadi korban penembakan suaminya pada Axel.


"Apa maksud kalian? Apa kalian saling mengenal?" tanya Arselo yang penasaran.


"Apakah aku melewatkan sesuatu yang penting di sini? Dan siapa pria yang bernama Deril itu? Sepertinya aku tidak mengenalnya. Akan ku tanyakan nanti pada Zian atau Frans" batin Arselo.


"Kenapa–" ucapan Safira tertahan karena sesak yang tiba-tiba menyeruak di dalam dadanya, dia tidak menyangka jika orang yang sudah membunuh suaminya adalah orang yang pernah menjadi teman baiknya.


"Kenapa kamu tega melakukan hal itu pada suamiku, Kak?" tanya Safira setelah ia menguasai emosinya.


Axel tertunduk, ia tidak menyangka jika wanita yang sedang berada di hadapannya adalah wanita yang pernah di titipkan sahabatnya sebelum ia meninggal dulu.


Deril adalah teman baik Axel sebelum ia bertemu dengan Arselo. Deril juga adalah kakak dari Devi, yang tidak diketahui oleh Safira.


Deril dulu adalah pengagum rahasia Safira saat masih sekolah menengah pertama kelas akhir, sedangkan dirinya sudah mulai kuliah. Deril selalu memantau Safira dari jarak jauh sehingga Safira tidak mengetahui tentang Deril yang mempunyai perasaan terhadapnya. Karena Deril berfikir jika saat itu waktunya belum pantas, dia yang sudah kuliah sedangkan Safira yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.


Hingga suatu saat Safira hampir mengalami kecelakaan, Deril-lah yang menolongnya dan mengantikan posisi Safira saat itu, sehingga Safira hanya mengalami pingsan karena syok, sedangkan Deril meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit yang di temani oleh Axel.


Tak ada yang memberi tahu Safira tentang keadaan Deril saat itu, ia baru tahu Deril meninggal dunia setelah setengah tahun kemudian, itu pun tidak di makamkan di kotanya melainkan di kota tempat mamanya tinggal yang berada jauh dari kota tempat Safira tinggal.


Deril juga pernah berpesan untuk selalu menjaga wanita yang sangat ia cintai itu. Namun, bukan Deril namanya jika ia malah tertarik pada wanita lain dan melupakan Safira.


"Fira, aku benar-benar minta maaf. Aku salah, aku sudah mengingkari janji ku pada Deril dan juga sudah merenggut kebahagiaan keluarga mu" ucap Axel dengan suara tertahan menahan tangisnya.


Sedangkan Safira sudah menangis karena ia tidak menyangka jika orang yang membunuh suaminya tidak lain adalah orang yang pernah menjadi salah satu teman dekatnya.


"Aku mohon Fira, maafkan aku" mohon Axel dengan menangkupkan kedua tangannya.


"Apa kamu sadar Kak, perbuatanmu tidak hanya menghancurkan kebahagiaan ku saja, tapi juga membuat anak yang masih dalam kandungan ku kehilangan kasih sayang dari ayahnya, bahkan dia tidak akan pernah bertemu dengannya" ucap Safira dengan diiringi tangisannya.


Arselo tidak tega saat melihat Safira yang menangis kesakitan seperti itu, ada sisi di hatinya yang ikut merasakan sakit saat melihatnya.


"Fira, tenangkan dirimu dulu. Ingatlah ada janin yang sedang berada di dalam perut mu" ucap Arselo sambil mencoba menenangkan Safira.


Perlahan Safira pun menarik nafas untuk menenangkan emosinya, tentu saja dia takut terjadi sesuatu pada kandungannya.


"El, kamu tidak akan melindungi orang yang sudah bersalah kan?" tanya Safira menatap mata Arselo langsung.


Arselo terdiam karena sempat tidak mengerti dengan arah pertanyaan Safira.


"Ada apa Fira? Katakanlah, aku akan menuruti semua keinginan mu" jawab Arselo dengan yakin.


"Aku ingin Kak Axel mendapatkan hukuman atas perbuatan yang dia dilakukan, Aku ingin mas Abi mendapatkan keadilan" ucap Safira.


Axel yang mendengar ucapan Safira sudah pasrah, dia memang sudah bersalah banyak terhadap wanita hamil itu.


"Tentu saja Fira. Meskipun dia sahabat ku, tapi apa yang sudah dia lakukan terhadap mu, aku tidak akan membiarkannya lepas. Dia harus bertanggung jawab perbuatannya" jawab Arselo yakin.


"Terimakasih karena sudah memihak ku" ucap Safira.


Arselo hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Axel, maafkan aku, kali ini aku akan membiarkan mu mempertanggung jawabkan semuanya sendiri" ucap Arselo sambil menggenggam tangan Safira untuk keluar dari kamar itu.


Axel membiarkan mereka pergi meninggalkannya, dia cukup tahu diri karena sudah membuat kesalahan yang fatal dan juga sudah mengecewakan sahabat terbaiknya, Deril.