Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 119



Di ruangan Safira, saat ini ia tengah dilanda kegugupan, meskipun di ruangan itu sangat ramai orang karena ada ketiga anaknya beserta Divya yang berada di gendongan Anisa, tetap saja tak bisa mengalihkan perhatiannya dari rasa gugup.


"Minum dulu, Fir," ucap Bu Resti sambil memberikan sebotol air minum untuk Safira.


"Terima kasih, Bu," jawab Safira sambil menerima botol air minum itu.


"Kamu masih gugup?" tanya Bu Resti yang melihat Safira begitu banyak meminum airnya.


Safira pun mengangguk dan menjawab, "Iya, Bu. Aku sangat merasa gugup sekali. Padahal ini bukan pertama kalinya aku menikah, tapi tetap saja perasaan gugup itu ada," jawab Safira sambil mencengkram botol air minum yang ia pegang untuk mengalihkan rasa gugupnya.


"Tenanglah, itu adalah hal wajar jika kamu gugup, berarti kamu benar-benar menginginkan pernikahan ini." Bu Resti mencoba untuk menenangkan Safira agar ia tidak terlalu gugup.


"Cobalah menarik nafas dengan panjang dan mengeluarkannya perlahan, Fir." Saran Arsela yang berada di belakang Safira.


Safira aku mengangguk dan mulai mengikuti saran dari Arsela, setelah lima kali yang menarik nafas panjang, kini degup jantungnya pun mulai kembali normal.


Ketiga anak Safira terus memperhatikan dirinya, bahkan Qirani juga terus menempel padanya.


"Kakak, kenapa melihat Mama seperti itu?" tanya Safira saat menyadari jika Qirani yang memperhatikannya secara detail.


"Mama benar-benar cantik, lebih cantik dari kemarin-kemarin," jawab Qirani tanpa mengalihkan pandangannya dari Safira.


Semua orang yang berada di sana tertawa renyah, saat mendengar jawaban yang Kirani ucapkan.


"Iya, Ma. Apa yang dikatakan oleh Qiran itu sangat tepat," timpal Dayyan yang ikut memuji Safira.


"Sejak kapan kalian jadi pintar menggoda seperti ini?" tanya Safira pada anak-anaknya.


"Kami tidak sedang menggoda Mama! Kami hanya mengutarakan apa yang dilihat saja!" seru Raiyan yang tidak mau kalah dari kedua saudaranya yang lain.


Safira tersenyum mendengar ucapan ketika anak-anak yang mengatakan jika dirinya sangat cantik. Jujur saja, ia pun merasa bangga pada dirinya sendiri yang tetap memiliki tubuh ramping dan kulit sehat, meskipun tanpa perawatan khusus.


"Sudah, kalian jangan menggoda Mama terus. Lebih baik sekarang kita dengarkan papa kalian yang akan mengucapkan ijab qobul," ucap Bu Resti sambil memberikan kode untuk diam.


Setelah lantunan ayat suci, acara puncak itu pun digelar. Safira juga ikut mendengarkan sambil menutup matanya, saat Arselo mulai mengucapkan namanya


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Safira Almaya binti Almarhum Bapak Supandi dengan maskawin tersebut, di bayar tunai." Arselo mengucapkan itu dengan lantang dan satu tarikan nafas.


Tidak lama kemudian, orang-orang serta para saksi yang ada di sana pun mulai menyahut.


"Sah...!"


"Sah...!"


"Sah...!"


Safira, Bu Resti, Pak Bambang, Arsela, Caca, Ni Eti dan anak-anak yang ada di ruangan itu pun menghembuskan nafas lega, seakan-akan mereka sudah melepaskan beban yang berat.


Bu Resti, Ni Eti dan yang lainnya pun bergantian memeluk Safira seraya mengucapkan selamat padanya.


"Selamat Fira, sekarang kamu sudah resmi menjadi seorang istri lagi, semoga kehidupan pernikahan kalian selalu dilimpahi kebahagiaan," ucap Bu Resti sambil memeluk Safira.


"Terima kasih, Bu. Amin, semoga apa yang Ibu harapkan terwujud" jawab Safira, setelah Bu Resti melepaskan pelukannya, kini giliran Ni Eti yang memberikan ucapan selamat serta doa.


"Nini senang akhirnya kamu dan Nak El sudah menjadi sepasang suami istri, semoga pernikahan kalian menjadi berkah," ucapnya.


"Amin. Terima kasih, Ni."


"Terima kasih, Pak."


Begitupun dengan Arsela, Caca dan Anisa yang memberikan selamat serta doa untuk Safira. Safira juga mendapatkan pelukan hangat dari keempat anaknya.


"Ye...! Mulai sekarang, Papa akan tidur bersama kami...!" seru ke tiga anak itu bersamaan.


Safira beserta orang dewasa yang ada di sana pun terlihat bahagia, saat melihat ketika anak itu berseru senang.


"Fira, sebaiknya kita segera ke luar dan temui suamimu di sana," ajak Bu Resti.


"Baik, Bu."


Kini giliran Safira yang melangkah keluar perlahan, di apit oleh Bu Resti dan Pak Bambang yang di sampingnya, sedangkan anak-anak berada di depannya sambil menaburkan kelopak bunga. Tidak ketinggalan, Caca dan Arsela juga mengikuti mereka dari belakang.


Safira saat ini tengah dilanda kegugupan yang amat sangat, ini benar-benar menjadi sebuah pengalaman yang berbeda untuknya.


Begitupun dengan degup jantung Arselo makin berdebar kencang, takala pembawa acara mempersilahkan Safira untuk keluar dari ruangannya. Ya Tuhan, aku benar-benar gugup saat ini. Aku benar-benar tidak bisa berada di posisi saat ini, tapi aku juga tidak ingin kehilangan momen ini. Bagaimana dengannya? Apa dia juga sama berdebar sepertiku? tanya Arselo dalam hatinya.


Pembawa acara juga mempersilahkan Arselo untuk menyambut sang istri, orang-orang yang berada di sana pun bangkit dari duduknya dan mulai mengalihkan perhatiannya pada sosok perempuan yang tengah diapit oleh mertuanya sebagai wakil dari orang tua kandungnya yang sudah meninggal.


Tidak ketinggalan juga anak-anak yang ikut memeriahkan kedatangan Safira dengan menabur bunga di karpet merah yang akan ia lalui, semua orang memandang takjub padanya.


'Benar-benar cantik dan anggun, sama sekali tidak terlihat jika dia sudah melahirkan empat orang anak'. orang-orang yang ada di sana ikut membicarakan kedatangannya.


Benarkah dia wanita yang menjadi ibu dari anak-anakku? Mama tidak mengganti mempelai, kan? Beberapa hari tidak bertemu, kenapa rasanya berbeda sekali? Arselobertanya-tanya dalam hatinya saat melihat penampilan Safira yang menurutnya berbeda dari hari-hari biasanya.


Hingga Safira berada di depannya, Arselo masih terdiam dan memandang takjub adanya.


Semua orang-orang yang berada di sana tertawa renyah saat Arselo tidak kunjung sadar dari lamunannya, jika dirinya sudah beberapa kali dipanggil oleh penghulu.


"Wah, sepertinya mempelai pengantin pria sangat terpesona oleh mempelai pengantin wanita, ya?" goda sang pembawa acara tepat di sampingnya.


"El, apa kamu baik-baik saja?" bisik Safira yang bertanya dengan gugupnya, saat ia melihat Arselo tak kunjung mengalihkan perhatian darinya.


"Akh, hmmm, a–aku baik-baik saja," jawab Arselo yang tak kalah gugup dengan Safira.


Para orang tua yang hadir, serta penghulu pun ikut menggeleng pelan dengan tingkah Arselo.


"Sebaiknya kita lanjutkan dulu acaranya hingga selesai setelah itu barulah kalian bisa menikmati waktu bersama," ucap penghulu itu yang semakin membuat Arselo dan Safira salah tingkah.


Setelah beberapa rangkaian acara lanjutan selesai, barulah kedua mempelai mendapat ucapan dan doa restu dari semua tamu yang hadir.


Teman dan semua kolega serta para pegawai Arselo pun turut hadir di acara itu dan ikut memeriahkannya. Saat para tamu sudah mulai berkurang, Zian dan Caca ikut berswafoto bersama.


Selama itu, Arselo bisa melihat ketulusan Zian pada Caca. Arselo terus memperhatikan keduanya dan membuat Safira heran. "El, ada apa? Kenapa kamu terus memperhatikan mereka?" tanya Safira.


"Aku hanya senang saja melihat tingkah mereka, andai dulu aku terus mempertahankan pernikahan pertama kita, mungkin kita bisa menikmati proses pendekatan seperti itu," jawab Arselo yang sudah mengalihkan kembali perhatiannya pada Safira.


"Sudahlah. Tidak ada bedanya sekarang maupun dulu, yang penting sekarang kita sudah kembali bersama," Safira menjawab sembari memberikan senyuman manis pada suaminya.


"Terima kasih karena sudah mau menerimaku kembali," ucap Arselo yang hendak memeluk Safira, tapi ia batal karena kedatangan anak-anaknya.


"Papa, kami sangat senang sekali," ucap Raiyan yang sudah berada di pangkuan Arselo.


"Papa juga senang karena mulai saat ini, kita tidak akan berjauhan lagi." Arselo menjawabnya sambil mengusap kepala Raiyan yang di lanjutkan dengan memeluknya. Hal itu ia lakukan juga pada ketiga anaknya yang lain.