Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 66



Tak terasa tiga hari telah berlalu, kini waktunya Abizar dan Safira pulang kembali ke kota mereka.


Malam hari mereka baru sampai di rumah, tak ada yang menjemput mereka karena orang-orang mungkin pada sibuk dengan pekerjaannya.


Abizar segera memindahkan anak-anak yang sudah terlelap di mobil ke kamar mereka masing-masing, lalu mengeluarkan barang bawaannya juga. Setelah itu ia pun segera mengangkat tubuh istrinya perlahan untuk dipindahkan ke kamar mereka.


"Apa kita sudah sampai?" tanya Safira saat ia sudah berada di kamarnya.


"Tidurlah lagi kau pasti sangat kelelahan" ucap Abidzar sambil membenarkan selimut yang ada di tubuh Safira.


"Bagaimana dengan anak-anak, bang?" tanya Safira lagi saat ia menyadari jika hanya ada dirinya dan Abizar.


"Mereka sudah ku pindahkan terlebih dahulu ke kamarnya" jawab Abizar sambil mulai memberikan tubuhnya di samping Safira. Hari ini ia merasa sangat kelelahan sekali.


***


Pagi mulai menyapa, Safira segera bangkit dari tidurnya secara perlahan, karena tidak yang mengganggu Abizar yang mungkin saja masih terlelap.


Seperti biasa Safira akan mulai menyiapkan sarapan untuk keluarganya terlebih dahulu, setelah itu ia akan mulai membangunkan anak-anak anak untuk bersiap pergi ke sekolah mereka.


"Abang Day, Abang Rai, ayo bangun. Kalian harus mulai bersiap untuk sekolah" ucap Safira sambil mengguncang pelan tumbuh kedua anak laki-lakinya itu.


"Mmmmh, masih ngantuk ma" jawab Rayan sambil menarik kembali selimut yang Safira ambil.


"Ayo sayang, kalian harus sekolah hari ini" ucap Safira lagi.


Dan dengan malas kedua anak itupun bangun dari tidurnya, setelah memastikan ke dua anak laki-lakinya bangun, Safira pun mulai membuka pintu kamar Kirani untuk membangunkan gadis kecilnya itu.


Beruntung Qirani tidak terlalu susah seperti kedua anak laki-lakinya saat bangun tidur.


Tak lama kemudian pintu rumah Qirani diketuk seseorang dari luar, ternyata Anisa sudah datang ke rumahnya untuk membantu Safira mengurus ketiga anaknya.


"Ayo masuk Nisa, anak-anak sudah ibu bangunkan tadi, tapi coba kamu lihat lagi dan bantu mereka untuk menyiapkan keperluan sekolah yang lain" ucap Safira pada Anisa.


"Baik bu" jawab Anisa sambil melangkahkan kakinya menuju kamar anak-anak.


Setelah Anisa pergi ke kamar anak-anak, Abidzar pun menghampiri Safira yang sedang berada di dapur.


"Pagi sayang" sapa Abizar sambil mencium kening Safira.


"Pagi juga, bang" jawab Safira tersenyum hangat.


"Apa abang sudah akan mulai bekerja kembali?" tanya Safira saat ia melihat Abizar yang sudah berpenampilan rapi.


"Iya sayang, hari ini akan ada tamu penting yang datang ke restoran ku di sana, Caca tidak bisa menanganinya jadi harus aku yang turun tangan ke sana" jawab Abizar.


Safira pun mengangguk tanda mengerti.


"Baiklah" ucap Safira tersenyum.


Melihat senyum Safira Abizar pun mengusap kepala istrinya seperti biasa.


"Pagi mama, papa..."


Sapa ketiga anak kembar itu bersamaan saat melihat Safira dan Abizar yang sedang ada di dapur.


"Pagi juga sayang" jawab Abizar pada ketiga anak-anaknya itu sambil memeluk ketiganya.


"Papa, apa papa sudah mulai bekerja kembali?" tanya Dayyan yang memperhatikan penampilan Abizar.


"Iya sayang. Papa mulai bekerja lagi hari ini" jawab Abizar tersenyum seraya mengelus pucuk kepala Dayyan.


Tadinya ia fikir jika Abizar yang akan mengantarnya ke sekolah, dia akan memamerkan papa barunya pada teman-temannya yang selalu mengejeknya dan mengatainya karena tidak punya papa.


Meskipun Arselo terkadang menjemput atau mengantar ketiga anaknya, tapi teman-temannya itu masih selalu mengatainya dan tidak percaya jika si kembar tiga punya papa.


Melihat tatapan kecewa anak-anaknya, Abizar pun tidak tega dan menyanggupi akan mengantar mereka terlebih dahulu.


"Baiklah, papa akan mengantarkan kalian ke sekolah terlebih dahulu" ucap Abizar untuk menyenangkan hati ketiga anak-anaknya.


"Hore...! Di antar papa" seru anak-anak kegirangan.


"Apa tidak apa-apa bang? Nanti bisa terlambat datang ke restoran lho!" tanya Safira pada Abizar.


"Tidak akan terlambat, sayang. Aku hanya akan mengantar mereka saja" jawab Abizar, dan Safira pun menganggukkan kepalanya.


Mereka sarapan pagi bersama sebelum berangkat beraktivitas masing-masing. Setelah selesai, Abizar pamit untuk mengantar anak-anak terlebih dahulu dan langsung akan pergi ke restoran yang biasa ia kelola.


"Abang hati-hati di jalan" ucap Safira sambil mencium tangan Abizar.


"Kau juga hati-hati. Maaf karena tidak bisa mengantar mu, sayang'' jawab Abizar seraya mengecup kening Safira lagi.


Setelah semua anak-anak dan Anisa masuk ke dalam mobil, mereka pun berangkat bersama meninggalkan Safira di rumah sendirian karena masih menunggu kedatangan simbok yang biasa kerja di rumah, setelah simbok itu datang, barulah Safira berangkat ke restoran yang ia kelola.


***


Siang menjelang, saat dia sedang bekerja di ruangannya, salah seorang pelayan tiba-tiba mengantuk pintu ruangan Safira.


"Permisi bu, maaf mengganggu. di depan ada seseorang yang ingin bertemu dengan bu Fira'' ucap Dini setelah ia membuka pintu ruangan Safira.


"Siapa, Din?" tanya Safira karena ia merasa tidak punya kenalan di kota itu selain Sarah. Bahkan sarah pun selalu menghubungi terlebih dahulu jika mengajak bertemu.


"Maaf bu Fira, saya tidak tahu. Dia juga memohon-mohon untuk bisa bertemu ibu" jawab Dini.


Dengan enggan, Safira pun mengangguk untuk menyetujui bertemu dengan orang itu.


"Baiklah, aku akan menemuinya, kau boleh melanjutkan pekerjaan mu" ujar Safira.


Seperti Dejavu, orang itu juga membelakangi Safira, hanya saja dia seorang wanita.


"Maaf, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Safira pada wanita yang tengah membelakanginya itu.


Perlahan wanita itu pun membalikkan badannya setelah mengetahui Safira ada di belakangnya.


"Long time no see, sahabat lama" ucap wanita itu yang ternyata adalah Devi.


Safira sedikit terkejut ternyata orang yang ingin menemuinya adalah Devi.


"Apa ada yang ingin kau sampaikan Dev?" tanya Safira dengan tegas. Kali ini dia tidak akan menundukkan kepalanya lagi di depan Devi.


"Wah wah wah, ternyata sekarang loe udah mulai berani sama gue" ucap Devi yang melihat reaksi Safira seperti menentangnya.


Safira menarik ujung bibirnya sebelah.


"Apa menurutmu aku harus selalu berada di titik yang lemah?" tanya Safira sinis.


Devi tidak menjawab pertanyaan Safira. Dia melangkahkan kakinya dengan anggun dan duduk di kursi yang sudah dia pesan sebelumnya.


"Sudahlah, aku tidak punya waktu untuk basa-basi bersamamu. Langsung saja, bujuk Arselo untuk membatalkan perceraiannya dengan Vivi"