
Sepanjangan perjalanan pulang dari meeting, hati Arselo bergemuruh panas menahan kesal karena tingkah laku Erika terhadapnya. Arselo di buat malu oleh Erika di hadapan klien mereka.
Flashback on
Saat ini Arselo dan Erika sedang bertemu klien untuk membicarakan tentang kerjasama mereka, Arselo yang fokus dengan arah pembicaraan klien, dan Erika hanya fokus memperhatikan dirinya.
Hingga klien itu berdehem untuk menyadarkan Erika dari tatapan Arselo.
"Ehemm, artinya nona sangat tertarik pada tuan Arselo ya?" tanya salah satu klien itu.
Niat mereka bertanya seperti itu untuk menyindir Erika, tapi yang disindir bukannya merasa bersalah malah senyam-senyum kegirangan, sehingga membuat Arselo malu sendiri.
"Akh, emmmh. Sa–saya memang tertarik pada tuan Arselo" jawab Erika sedikit gugup. Sedangkan Arselo sudah berwajah merah
Klien itu tersenyum mendengar jawaban Erika, entah itu tersenyum mengejek atau hal lain yang pasti membuat Arselo semakin malu.
"Bagaimana dengan anda, tuan Arselo?" tanya klien itu lagi
"Tidak, saya sudah mempunyai istri dan anak-anak" jawab Arselo dengan segera.
"Maafkan aku, Fira. Tapi semoga ucapanku menjadi doa dilain hari" batin Arselo.
Jawaban itu cukup membuat Erika terdiam sejenak, tapi tidak dengan pandangannya yang semakin mengganggu untuk Arselo.
"Wah? Benarkah? Kenapa saya tidak ketahui tentang pernikahan kalian?" tanya klien itu lagi dengan penasaran.
Bukan hanya Klien itu saja yang penasaran, tetapi Erika juga sangat penasaran dengan jawaban Arselo, karena setahunya Arselo itu belum menikah lagi semenjak bercerai dengan istri sebelumnya, Vivi.
"Pernikahan kami sudah lama terjadi, tapi belum sempat mengadakan resepsi" jawab Arselo dengan pasti.
"Tidak, itu tidak mungkin. Pasti tuan Arselo hanya ingin menghindari ku saja, aku akan memastikan hal itu" batin Erika.
Arselo menyadari perubahan wajah Erika yang sedikit mengeras, dia tersenyum tipis tanda puas.
"Wah, benarkah? Jika suatu saat nanti anda mengadakan resepsi, saya berharap jika anda mengundang saya untuk datang menghadirinya" ucap klien itu.
Arselo tersenyum dan mengangguk, tapi tidak menjawab perkataan klien itu.
Saat mereka sudah selesai dengan meeting-nya, Erika kembali berulah. Dia pura-pura terjatuh saat akan bangkit dari duduknya, sehingga badannya membentur dada bidang Arselo.
"Maafkan saya, tuan. Saya tidak sengaja" ucap Erika dengan anggunnya.
"Berdiri dengan benar" perintah Arselo.
Klien itu sedikit menyunggingkan senyumnya terhadap Arselo, entah apa yang di fikirkan klien itu terhadapnya.
Flashback off
Arselo berjalan cepat menuju ruangannya, ia juga meninggalkan Erika yang masih berada di dalam mobilnya.
"Sofyan, masuk ke dalam ruangan ku" perintah Arselo saat melihat Sofyan yang sedang duduk di meja kerjanya.
Setelah Arselo masuk dan duduk di meja kebesarannya, Sofyan pun datang menghampiri.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan? Apa meetingnya tidak berjalan lancar?"
"Meetingnya berjalan lancar, hanya saja orang yang mendampingi ku menghadiri meeting itu yang tidak lancar. Dia membuat ku malu di hadapan klien. Sampai-sampai aku mengakui bahwa aku punya istri" ucap Arselo.
Sofyan menundukkan kepalanya, ia merasa tidak enak hati pada Arselo karena sudah menyarankan Erika untuk menemaninya.
"Maafkan saya tuan, saya tidak bermaksud untuk membuat anda merasa tidak nyaman. Saya fikir Erika akan cocok untuk menemani ada meeting, karena ia mempunyai performa kerja yang bagus. saya tidak menyangka jika dia malah membuat anda malu seperti ini, mohon maafkan saya, tuan" ucap Sofyan merasa bersalah.
Arselo menghembuskan nafasnya kasar, tiba-tiba saja ia merasa rindu dan ingin segera menyentuh perut Safira lagi. Mengingat hal itu membuatnya kembali memiliki mood yang baik.
"Sudahlah, aku tidak ingin kejadian ini terulang kembali. Jika suatu saat nanti kau tidak bisa menemaniku meeting, setidaknya kau carikan orang yang kompeten" jawab Arselo.
"Baik, tuan" ucap Sofyan.
"Kau boleh pergi sekarang" perintah Arselo.
***
Larut malam Arselo baru keluar dari ruangannya sendiri, suasana di kantornya sudah begitu sunyi mencekam. Wajar saja, saat ini sudah pukul sepuluh malam, mana ada staf yang masih bekerja.
Arselo pun melangkah menuju ruang kerja Sofyan, dan tanpa mengetuk pintu, ia memasukinya begitu saja.
"Apa kau sudah beres dengan pekerjaan mu?"
"Sudah, tuan. Saya baru saja selesai mengcopy file. Apa anda membutuhkan sesuatu, tuan?"
"Tidak. Jika kau sudah selesai, ayo kita pulang. Aku sedang malas membawa mobil sendiri"
"Baiklah, tuan"
Sofyan pun mematikan layar komputernya sebelum mereka pergi. Setelah selesai, barulah mereka keluar bersama.
Di perjalanan pulang, ponsel milik Arselo berdering, ia pun merogoh kantong jasnya dan melihat panggilan dari Namanya.
"Halo, Ma. Ada apa?"
"El, bisakah kamu ke rumah Mama?"
"Ada apa, Ma? Kenapa panik begitu?"
"Qirani, badan Qirani panas. Sepertinya dia terkena demam, El. Sela sedang tidak ada di rumah, Mama dan Papa bingung, Qirani terus memanggil mu"
"Apa mereka tidak pulang ke rumah Safira?"
"Tidak, El. Mama dan Papa mengajak mereka untuk menginap di rumah, Mama gak tau kalau akan jadi seperti ini"
"Apa Safira sudah dikabari?"
"Belum, El. Sebaiknya kamu sekalian saja jemput dia"
"Baiklah, Ma. Sekarang aku akan kerumahnya dulu, nanti kami akan segera datang ke rumah Mama"
"Baiklah, El. Mama tunggu kalian, jangan lama-lama"
"Iya, Ma"
Setelah Arselo menutup sambungan teleponnya, ia pun meminta Sofyan untuk berhenti dulu di depan rumah Safira.
Arselo segera turun n dan berjalan cepat menuju pintu depan rumah Safira, dan mengetuknya.
Tok... tok... tok...
"Fira, maaf karena mengganggu waktu istirahat mu. Bisakah kau ikut dengan ku?"
Tanya Arselo begitu Safira membukakan pintu rumah untuknya, sehingga membuat Safira sedikit terkejut.
"Kamu kenapa, El? Mengejutkan ku saja?"
"Maafkan aku, Fira. Tapi ini sangat darurat"
"Darurat kenapa?"
"Qirani sedang demam, sepertinya dia kelelahan karena pulang dari kebun binatang tadi. Sela juga sedang tidak ada di rumah"
"Qirani demam? Ya sudah, ayo kita segera ke sana. Sebentar, aku akan pamit dulu pada Nini"
Setelah mengatakan itu, Safira masuk kembali ke rumahnya untuk berpamitan pada Ni Eti. Tak lama kemudian, ia pun sudah kembali lagi ke hadapan Arselo sembari menutup pintunya, dan berjalan cepat menuju mobil milik Arselo.
"Selamat malam Nyonya" sapa Sofyan.
"Selamat malam juga, tuan" jawab Safira.
Setelah Arselo masuk ke dalam mobilnya, barulah Sofyan menjalankan kendaraan itu menuju ke alamat rumah Nyonya Sita.