Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 76



Entah kenapa malam ini Arselo merasa dirinya sangat menginginkan bakso yang berada di dekat pertigaan jalan menuju cottage-nya, dengan menaiki motor milik salah satu satpam yang berjaga disana, Arselo pun pergi mengendarainya dan berharap bakso itu masih ada.


Beruntung, apa yang Arselo cari masih ada meskipun tinggal satu porsi.


"Pak, baksonya masih ada?"


"Ada mas, tapi tinggal satu porsi lagi. Apa mas mau?"


"Alhamdulillah, boleh pak. Mau di bungkus saja"


"Silahkan tunggu di sana ya mas, saya siapkan dulu"


"Iya, pak"


Arselo duduk di salah satu bangku kosong yang ada di sana, pembeli sudah mulai berkurang saat ini dan hanya tinggal satu, dua meja saja yang terisi.


Hingga tak lama kemudian, bakso pesanan Arselo pun siap.


"Buat istri ya mas?" tanya bapak pedagang itu sambil memberikan bungkusan bakso milik Arselo.


"Ngga pak, bukan. Saya sedang tidak punya istri, mungkin karena suasana dingin saja makanya saya ingin makan bakso" jawab Arselo sambil memberikan uangnya pada bapak itu.


"Oh, saya kira buat istri yang lagi ngidam, mas. Soalnya dua pelanggan saya yang disana itu istri-istrinya sedang hamil, jadi saya kira mas beli bakso juga buat istri" ucap bapak penjual itu sambil melihat dua pasangan yang sedang menikmati bakso mereka.


Arselo hanya tersenyum mendengar perkataan bapak itu. Setelah ia membayar baksonya, Arselo pun pamit pulang.


Di pertengahan jalan pematang sawah, ia merasakan getaran ponsel di saku celananya hingga tiga kali berturut-turut, Arselo tidak mengangkat telponnya saat itu juga karena suasana yang ia lewati sedang ada di jalanan sepi dan gelap. Setelah mulai memasuki pemukiman, barulah ia melihat ponselnya dan mengecek panggilan yang tadi sempat masuk.


"Safira? Ada apa dia malam-malam menelpon ku? Apa terjadi sesuatu? Aku harus segera menemuinya" gumam Arselo setelah ia melihat ponsel dan ternyata Safira-lah yang menghubunginya. Arselo bergegas menghidupkan kembali motornya menuju rumah ni Eti, dia khawatir terhadap Safira dan anak-anaknya.


Tok... tok... tok...


Sesampai di sana, Arselo pun segera mengetuk pintu rumah Ni Eti. Cukup lama ia menunggu hingga pintu rumah itu terbuka.


Ceklek...


"Fira, apa kamu baik-baik saja?" tanya Arselo saat melihat Safira-lah yang membukakan pintu untuknya.


"Aku baik-baik saja, El. Ada apa kamu datang kemari?" tanya balik Safira.


"Bukankah kamu yang tadi menelpon ku? Maaf karena tidak langsung menjawab" ucap Arselo.


Mereka masih berada di depan pintu, Safira belum membiarkan Arselo untuk masuk ke rumah Ni Eti. Dia masih sedikit kesal karena Arselo tidak menjawab teleponnya tadi.


"Lalu untuk apa kamu datang ke sini?" tanya Safira lagi.


"Aku menghawatirkan keadaan kalian, karena kamu tidak biasanya menghubungiku malam-malam" jawab Arselo.


"Apa ada yang kamu butuhkan?" tanya Arselo.


Safira menundukkan kepalanya, dia merasa malu jika harus mengatakan bahwa ia mengidam dan sangat menginginkan seporsi bakso.


"Ada masalah apa Fira?" tanya Arselo lagi saat ia melihat Safira yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Sebenarnya aku–"


Safira malu untuk melanjutkan kata-katanya.


"Sudahlah lupakan saja, tadi aku hanya ingin mengecek nomor mu saja" jawab safira asal.


"Oh, aku fikir kamu membutuhkan sesuatu karena menelpon ku" ucap Arselo.


"Oh, ya, tadi aku beli bakso. Apa kamu sudah makan?" tanya Arselo lagi setelah mendapat anggukan samar dari Safira tadi.


"Bakso?" tanya Safira dengan antusias.


"Iya, apa kamu mau?"


Safira masih berfikir untuk menerima atau tidak bakso pemberian Arselo.


"Jika kamu mau, kamu boleh memakannya" ucap Arselo seraya menyerahkan kantung keresek yang berisi bakso miliknya.


"Apa tidak apa-apa?" tanya Safira merasa tidak enak hati.


"Tentu saja, aku dengan senang hati memberikannya" jawab Arselo.


Safira pun menerima bakso pemberian Arselo dengan gembira.


"Terima kasih banyak, Apa kamu mau masuk dulu? Tapi anak-anak dan Ni Eti sudah tertidur" tanya Safira.


"Tidak perlu Fira, kamu masuk dan makanlah. Setelah itu segeralah beristirahat, aku pulang dulu" ucap Arselo berpamitan.


"Baiklah, terima kasih banyak, El. Maaf karena aku jadi merepotkan dan mengganggu waktu istirahat mu" ucap Safira.


"Tidak perlu sungkan terhadapku. Jika kamu membutuhkan sesuatu kapanpun, segeralah beritahu aku" jawab Arselo tersenyum hangat.


Safira membalas senyuman Arselo dan membiarkannya pergi dari sana. Setelah melihat kepergian Arselo, Safira kembali lagi masuk ke dalam rumah dan segera menuju dapur untuk mengambil mangkuk serta sendok.


"Kenapa waktunya pas sekali ya? Padahal tadi aku sudah benar-benar akan melupakannya. Akh, rasanya senang sekali apa yang aku mau sekarang ada di hadapan ku" batin Safira senang.


"Tunggu–"


"Apa mungkin Arselo membeli bakso ini untuk ia makan sendiri? Lalu kenapa dia memberikannya padaku?" tanya Safira pada dirinya sendiri.


Safira tidak terlalu bersemangat untuk memakan baksonya itu, dia lebih merasa tidak enak hati pada Arselo yang sudah memberikan makanannya.


***


Arselo pulang ke cottage-nya dengan tangan kosong, tadinya ia berharap jika saat perjalanan pulang akan ada tukang jualan yang ia lewati, tapi nyatanya ia tidak menemukan apapun saat perjalanan pulang.


"Lho, pak, tadi katanya mau beli bakso? Apa warung yang sudah tutup?" tanya Pak Agus pemilik motor yang Arselo pinjam.


"Tadi warungnya masih buka. Hanya saja pas datang, pas baksonya habis" jawab Arselo seraya menyerahkan kunci motor itu pada pemiliknya.


Pak Agus itu pun mengangguk tanda mengerti.


"Apa bapak mau ini?" tanya Pak Agus pada Arselo sambil memberikan rantang berisikan rebusan singkong yang sudah dicampur gula merah.


"Ini apa pak?" tanya Arselo karena ia tidak mengenali makanan yang ada di dalam rantang itu.


"Ini cuma singkong yang di siram dengan gula merah setengah jadi pak, makanya agak lengket gitu" jawab pak Agus.


Dengan penasaran Arselo pun mencicipi singkong itu, mereka berdua mengobrol tentang banyak hal, termasuk hubungannya dengan Safira dan anak-anaknya.


"Oh, jadi bapak ini ayah kandungnya sikembar tiga toh? Saya kira cuma mirip saja, tapi ternyata dugaan saya tepat" ucap pak Agus yang cukup terkejut karena pemilik cottage tempatnya bekerja adalah ayah dari anak kembar tiga yang terkenal di desanya.


"Iya pak, saya baru mengetahuinya hampir satu tahun yang lalu. Saya benar-benar sangat menyesal karena baru mengetahui tentang keberadaan mereka" ucap Arselo mendesah.


"Sudah pak, yang namanya orang pasti punya sisi masa kelamnya masing-masing. Sekarang kita hanya bisa menyesalinya dan berusaha untuk menebus semua kesalahan itu" ucap pak Agus sambil menepuk pelan bahu Arselo untuk memberinya semangat.


Mereka larut dalam obrolannya, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan dini hari. Setelah merasa cukup mengantuk, Arselo pamit pada pak Agus untuk beristirahat.