
"Sepertinya pasienku kali ini sebenarnya adalah Kak Fira, bukan Bang El."
Sontak semua orang yang berada di sana termasuk Divya menoleh kearah Safira.
"A–aku? Tapi, kenapa aku? Aku sedang sehat dan tidak punya keluhan apa-apa ..." Safira berucap sambil menunjuk dirinya sendiri karena merasa bingung, lantaran ia memang sedang sehat dan tidak merasakan sakit apapun.
Nyonya Sita menyadari perkataan anaknya, Arsela. Ia segera menghampiri Safira dan memberikan sesuatu yang tentu saja ia tahu itu adalah alat tes kehamilan.
"Coba kamu pakai ini, sana!" perintah Nyonya Sita.
"Ta–tapi Ma–"
"Sudah. Coba saja dulu, mudah-mudahan hasilnya seperti yang diharapkan," ucap Nyonya Sita sambil mendorong pelan tubuh menantunya.
Mau tak mau, akhirnya Safira pun menuruti keinginan sang mertua untuk mencoba alat tes kehamilan itu. "Mudah-mudahan saja hasilnya memuaskan," batin Safira sambil tersenyum.
Sepeninggalan Safira dari sana, Tuan Ardan melangkah menghampiri sang istri. "Ma, sejak kapan alat tes itu ada di dalam tas kehamilan Mama?" tanyanya yang merasa heran. Tidak hanya Tuan Ardan yang heran, tapi arsela dan Arselo juga sama.
"Iya, Ma. Sejak kapan Mama menyimpan alat itu?" tanya Arsela.
Nyonya Sita terkikik pelan, sebenarnya ia tadi sempat mendengar percakapan Arsela dan Safira saat teleponan. "Emmmh, Mama ambil dari ruang obat milik Arsela tadi saat Mama dengar jika El sedang muntah-muntah."
Semua orang yang ada di sana kompak beroh ria setelah mendengar penuturan Nyonya Sita.
Tak lama kemudian, Safira keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tertekuk di sana.
"Bagaimana hasilnya, Fira?" tanya Nyonya Sita yang langsung menghampiri Safira.
"Iya, bagaimana hasilnya, sayang? Apa Divya akan punya adik?" tanya Arselo yang langsung bangkit dari tidurnya dan segera menghampiri sang istri.
Safira tidak langsung menjawab, ia menampilkan raut wajah yang sedih sehingga membuat orang-orang yang ada di sana pun mengira jika hasilnya negatif.
"Apa hasilnya negatif, sayang?" tanya Arselo yang sudah berdiri di hadapannya.
Safira tidak juga menjawabnya, ia malah memeluk sang suami dan berkata, "Selamat sayang, tanggung jawabmu akan bertambah ke lagi."
Arselo diam mematung masih dengan memeluk istrinya, iya masih berusaha mencerna setiap perkataan yang dilontarkan sang istri, lain halnya dengan Nyonya Sita yang sudah paham dengan arti perkataan menantunya, ia segera menghampiri sang suami yang tak jauh berada di belakangnya.
"Papa, cucu kita akan bertambah lagi ...!" Nyonya Sita berseru senang.
"Be–benarkah? Alhamdulillah ..." Tuan Ardan sangat bahagia saat mendengar jika menantunya sedang hamil ketiga anak yang kelima.
"Alhamdulillah ... selamat, Fira, El, Nini ikut bahagia mendengarnya," ucap Ni Eti yang turut hadir di sana.
Safira dan Arselo mengembangkan senyumnya. "Terima kasih, semuanya."
"Pah, Divya kenapa?" tanya Safira spontan saat melihat anak gadis bungsunya tiba-tiba pergi dari kamar. Sontak semua orang yang berada disana pun melihat ke arah luar kamar Safira.
"Papa juga gak tahu, Ma. Biar Papa tanya dia dulu." Arselo berucap sambil melangkah pergi menuju kamar Divya.
Kenapa Divya bersikap seperti itu? Apa dia takut jika aku akan pilih kasih padanya? tanya Arselo dalam hatinya sambil sedikit menggeleng pelan.
Setelah sampai di depan pintu kamar Divya, Arselo pun membuka perlahan pintu itu. Ia melihat anak gadisnya sedang menangis sambil tengkurap di atas kasur dengan memeluk guling.
"Adek, kenapa nangis?" tanya Arselo saat ia sudah ikut duduk di samping anaknya itu.
Divya belum juga menjawab pertanyaan sang papa, ia masih sibuk menangis sendiri. Dengan sabar, Arselo terus mengusap kepala anak itu hingga berhenti menangis.
Setelah Divya berhenti menangis, barulah Arselo memberinya minum dan mengajaknya untuk berbicara. "Kakak kenapa tadi pergi begitu di kamar Mama dan Papa?"
"Katanya aku akan punya adik, Pa?" tanya Divya masih dengan segukan.
"Iya, itu benar. Sekarang Mama sedang mengandung Adik bayinya Adek, nanti Adek akan menjadi seorang Kakak. Apa Adek tidak suka?" tanya Arselo pelan-pelan.
Arselo melihat Divya menggeleng pelan, ia sedikit mengerutkan keningnya karena melihat reaksi Divya.
"Kenapa?"
"Kata teman-temanku, kalau punya adik itu nggak enak. Kita harus selalu berbagi, apapun itu. Juga nanti Mama Papa akan lebih sayang pada adik daripada aku," jawab Divya sambil berusaha mengusap air matanya.
Benar dugaanku, Divya takut tersaingi oleh adiknya, batin Arselo. Ia pun merengkuh tubuh kecil Divya untuk dipeluknya. "Adek jangan berpikir seperti itu, Mama dan Papa tidak akan pernah membanding-bandingkan kalian. Kalian semua adalah anak Mama dan Papa yang paling kami sayangi."
"Tapi–" perkataan Divya menggantung, ia sedikit merasa takut, jika harus mengatakan yang sebenarnya pada sang papa.
"Tapi kenapa, sayang? Coba ceritakan semua ke Papa." Pinta Arselo.
"Tapi, kan, aku bukan anak kandung Papa. Papa kandung ku sudah meninggal, iya, kan, Pa?"
Pertanyaan Divya kali ini benar-benar menghantam jantung Arselo, ia tidak menyangka jika anaknya akan bertanya seperti itu, ia maupun Safira tidak pernah sekalipun membeda-bedakan atau bahkan mengungkit masa lalu mereka di depan anak-anak, tapi darimana Divya tahu akan hal itu.
Arselo memang berniat memberitahukan hal itu, tapi bukan saat ini. Ia dan Safira akan memberitahukannya nanti jika Divya sudah mencapai usia yang bisa memahami keadaan.
Pantas saja beberapa hari ini sikap Divya terhadapku dan juga Safira lebih posesif dari biasanya, batin Arselo.
"Sayang, kamu mendapat kabar seperti itu dari mana?"
"Aku lihat foto yang disimpan Abang Day, di kamarnya. Saat aku bertanya itu foto siapa, Abang berkata 'Itu adalah foto Papa kandung Divya' gitu." cerita Divya