
Setelah pulang dari pemakaman itu Arselo dan Safira pun kembali ke rumah Bu Resti untuk menjemput Divya.
"Assalamualaikum," Sapa Safira dan Arselo, sedangkan anak-anak sudah lebih dulu menerobos masuk ke rumah Bu Resti.
Di dalam sana, ternyata Pak Bambang sudah pulang dari sawah dan sedang menikmati kopi bersama dengan pemuda yang tadi membawakan air minum untuk Safira dan Arselo.
"Kalian sudah pulang?" tanya Pak Bambang yang melihat kedatangan mereka.
"Sudah, Pak. Divya sama ibu ke mana?" tanya Safira yang tidak melihat keberadaan Bu Resti dan anaknya.
"Itu ibu di halaman belakang, sedang yang mendiamkan Divya yang tadi menangis." tunjuk Pak Bambang ke arah belakang rumah.
"Oh, baiklah. Aku akan susul mereka dulu." Safira pun beranjak pergi dari sana, meninggalkan para lelaki yang sedang asyik dengan obrolannya.
"Bu," panggil Safira saat ia melihat Bu Resti dan Divya.
Bu Resti bangkit dan memberikan Divya pada Safira. "Tumben tadi dia sampai nangis kencang, Fir."
"Mungkin karena mau ASI, Bu," ucap Safira sembari ikut duduk bersama di bangku yang berada di pinggir tambak.
"Ibu senang saat Nak El meminang mu, Fir. Rasanya Ibu merasa lega setelah mengetahui jika dia serius padamu," ucap Bu Resti sambil menerawang jauh ke depan sana.
Safira tersenyum dan mengangguk, ia membenarkan ucapan Bu Resti. "Aku juga senang, Bu. Apalagi anak-anak," jawab Safira.
"Iya, Ibu harap kedepannya kalian hidup bahagia. Ibu yakin jika Nak El bisa membimbing kalian nanti. Meskipun dulu dia pernah melakukan kesalahan besar, selama dia sudah taubat dan mengakui kesalahannya serta ingin memperbaiki dirinya, insyaallah itu akan membawa kalian ke jalan yang benar," ucap Bu Resti seraya menatap dalam Safira.
"Amin, mudah-mudahan, Bu."
Setelah melihat Divya yang sudah tertidur, mereka pun kembali masuk ke dalam rumah Bu Resti.
"Fir, apakah Divya tidur?" tanya Arselo yang melihat Divya hanya terdiam di gendongan Safira.
"Iya, El. Tadi sempat rewel, mungkin karena mengantuk," jawab Safira.
Arselo bangkit dari duduknya dan menghampiri Safira. "Sini, biar aku saja yang menggendongnya," pinta Arselo.
"Tidak perlu, El. Dia belum tidur nyenyak," tolak Safira.
"Baiklah, katakan padaku jika kamu sudah kelelahan," ucap Arselo sebelum ia kembali sibuk bersama Pak Bambang dan anak-anak.
"Aku akan menidurkan Divya dulu," pamit Safira sambil berjalan ke arah kamar milik Abizar.
Suasana sunyi menyambutnya, tak ada yang berubah setelah terakhir kali ia memasuki kamar itu. Safira segera menidurkan Divya di atas kasur yang terdapat di sana. Saat hendak bangkit, ia seperti melihat ada kertas usang yang terselip di antara frame yang ada di atas nakas.
Dengan gerakan perlahan karena takut mengganggu Divya, Safira pun meraih kertas itu. Warna kertas yang sudah menguning dan sudah sangat kaku menandakan jika kertas itu sudah lama berada di sana.
"Kertas apa ini?" tanya Safira dengan heran. Dia pun membenarkan posisi duduknya dengan nyaman untuk membuka secarik kertas usang itu.
Hai Safira, wanita yang kutemui di bis :)
Kamu tahu? Kamu adalah wanita pertama yang sangat menarik perhatianku. Sejak pertama kita berjumpa, tidak pernah sekalipun aku melupakan setiap detik pertemuan kita,,,
Apalagi saat itu kau sedang mengandung. Maaf jika menurutmu aku sudah lancang menyukaimu dari saat masih mengandung, tapi perlu kamu ingat, aku benar-benar tulus mencintaimu. Dari saat itu hingga sekarang dan selamanya, tetaplah jadi Safira yang selalu bahagia bagaimanapun keadaannya.
Perlahan mata Safira kembali terasa memanas, ia memeluk kertas usang itu sembari menangis kecil.
"Ya, Mas. Aku tahu. Maaf karena terlambat menyadari perasaanku sendiri," batin Safira.
Arselo menghampiri Safira dan memeluknya, ia tidak mengatakan sepatah katapun dan hanya diam, sambil sesekali mengusap bahu wanita yang akan menjadi calon istrinya itu.
Setelah beberapa saat kemudian, Safira pun kembali tenang.
"Apa perasaanmu sudah lebih baik?" tanya Arselo yang mengkhawatirkan Safira.
Safira mengangguk dan tersenyum kecil, "Terima kasih, El. Sekarang aku sudah merasa lebih baik." Safira menjawabnya sambil mengusap matanya yang masih berair.
Arselo pun tersenyum dan memberikan segelas air untuknya, "Minumlah."
"Terima kasih."
Setelah Divya bangun dari tidurnya, mereka pun kembali menuju cottage tempatnya menginap. Arselo sedikit merasa lega, lantaran setelah tadi Safira menangis kini dirinya terlihat lebih ceria.
"El, kita di sini akan berapa lama?" tanya Safira setelah mereka sampai di cottage, sedangkan anak-anak yang sudah kelelahan, mereka segera tertidur begitu sampai.
"Terserah kamu saja, Fir. Jika kamu masih ingin berada di sini, aku akan senang hati menemani mu," ucap Arselo tersenyum sembari mengusap kepala Safira dan mengacak kecil rambutnya.
"Hey, apa yang kamu lakukan pada rambutku?" tanya Safira dengan kesal, sedangkan Arselo sendiri hanya menanggapinya dengan tawa yang renyah.
Safira menggerutu kecil karena ditertawakan oleh Arselo, "Ish, kamu ini!"
Setelah Safira merapikan kembali rambutnya, mereka berdua pun meninggalkan anak-anak yang sedang terlelap di kamar dan duduk di ruang santai bangunan itu.
Arselo dan Safira sama-sama terdiam dengan pikirannya masing-masing, suasana yang sangat canggung melingkupi mereka berdua. Arselo tidak tahan jika hanya berdiam diri tanpa mengucapkan apapun.
"Ehemm." Arselo berdehem untuk menetralkan jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang saat duduk di samping Safira.
Begitupun dengan Safira yang tidak kalah gugupnya di banding Arselo, bahkan sesekali ia membenarkan anak rambut yang terus menutupi wajahnya.
"Fir."
"El."
Saking gugupnya, mereka berdua memanggil secara bersamaan, Arselo mengerti dan menyuruh Safira untuk berbicara terlebih dahulu, "Ladies first."
Safira tersenyum, "Terima kasih–" ucap Safira menjeda perkataannya, "Karena kamu sudah berubah menjadi lebih baik dan bersabar dalam menghadapi ku maupun anak-anak selama ini."
Arselo membalas senyuman Safira, "Yang seharusnya berterima kasih adalah aku, Fira. Terima kasih karena sudah mau menerimaku yang pernah menyakitimu dulu, aku akan berusaha menjadi lebih baik untuk kalian semua. Kalian adalah kebahagiaan yang selama ini aku impikan." dia berucap sembari menggenggam tangan Safira dan mengecupnya.
"I love you so much, now and forever"