Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 42



Safira bingung saat ini karena dia harus memilih antara Abizar karena dia orang yang sudah lama mengenal Raiyan atau Arselo karena dia ayah kandungnya.


"Sudahlah, dari pada aku harus memilih diantara kalian, lebih baik Arselo tolong kamu telponkan dokter Arsela. Biar dia yang akan ke sini, jadi Raiyan tidak perlu pergi kemana-mana" perintah Safira pada Arselo.


Arselo dan Abizar akhirnya mengalah dan tidak saling berdebat lagi.


Setelah menunggu setengah jam, akhirnya Arsela datang ke rumah Safira.


Tok...tok...tok...


Suara pintu di ketuk dari luar, Safira bangkit dari sofa itu meninggalkan Arselo dan Abizar di sana.


Ceklek


"Hai Fir, apa kabar?" tanya Arsela yang melihat Safira membukakan pintu untuknya.


"Hai juga dokter, kabar saya baik. Mari masuk!" ucap Safira seraya mempersilahkan Arsela masuk ke rumah.


"Terimakasih Fir. Oh ya, jangan panggil dokter. Panggil nama aja, biar lebih akrab" ucap Arsela, karena dia ingin lebih dekat dengan Safira.


Safira yang mendengar ucapan Arsela pun tersenyum.


"Maaf dok, aku merasa itu tidak sopan, lagi pula usia mu pasti jauh di atas ku kan?" tanya Safira.


"Hmmm, ia juga sich. Tapi kamu bisa panggil kakak ku dengan nama tuh? Padahal aku dengan Arselo cuma beda sepuluh menit lho!" beritahu Arsela.


"Hahaha, mungkin karena dari awal aku tidak merasa dia patut di hormati, jadi aku sudah terbiasa dengan memanggilnya nama" jawab Safira.


"Hmmm, baiklah. Sebaiknya aku segera memeriksa keadaan Raiyan, di mana keponakan ku itu?" tanya Arsela.


"Dia ada di kamarnya saat ini bersama Nini, tadi sedang tidur" jawab Safira.


Arsela menganggukkan kepalanya tanda mengerti, mereka pun berjalan ke arah kamar Raiyan dengan Safira di depannya dan Arsela mengikutinya dari belakang.


"Nini, apa kabar?" tanya Arsela pada ni Eti yang masih menunggui Raiyan yang tengah tertidur pulas.


"Nini baik dokter" jawab ni Eti.


"Biar saya periksa Raiyan dulu ya ni" ijin Arsela pada ni Eti.


"Silahkan dokter" ucap ni Eti seraya bangkit dari duduknya untuk membiarkan Arsela memeriksa Raiyan.


Arsela pun segera mengeluarkan stetoskop dari dalam tasnya dan segera memeriksa Raiyan.


"Bagaimana kondisi Raiyan, dokter?" tanya Safira yang mengkhawatirkan Raiyan.


"Tidak ada yang serius Fira, Raiyan hanya demam biasa. Aku akan menuliskan beberapa resep obat yang diperlukan oleh Rayan, setelah itu dia hanya perlu beristirahat dengan cukup" terang Arsela setelah memeriksa Raiyan.


"Baiklah, terima kasih dokter" ucap Safira.


"Tidak perlu sungkan begitu. Raiyan juga keponakanku, aku pasti akan berusaha yang terbaik untuknya" jawab Arsela.


Safira pun mengangguk menyetujui perkataan Arsela.


Setelah selesai memeriksa Rayan, Arsela dan Safira pun keluar dari kamar itu meninggalkan Rayan yang sedang tidur dan ni Eti yang terus menungguinya. saat melewati ruang tamu mereka hanya bertemu dengan Abizar sedangkan Arselo d sudah tidak ada di sana.


"Abang sendiri aja? Kemana Arselo? Apa dia sudah pulang?" tanya Safira yang tidak melihat keberadaan Arselo di sana.


"Tadi sehabis menerima telepon dia buru-buru pergi dan hanya berpesan agar Arsela menelponnya jika sudah selesai" jawab Abidzar yang menatap Arsela.


"Oh baiklah" jawab Safira sambil menganggukkan kepalanya.


"Dokter, apa mau minum dulu?" tanya Safira pada Arsela.


Setelah Arsela menutup teleponnya, dia segera menghampiri Safira untuk berpamitan karena benar dugaannya jika Vivi berulah lagi.


"Fira, maaf karena sepertinya aku harus pergi sekarang, benar dugaan ku Vivi berulah lagi" ucap Arsela.


"Vivi? apa dia istri Arselo?" tanya Abizar.


"Iya, wanita g*** itu istri kakak ku" jawab Arsela sedikit kesal.


"Ya sudah, dokter pergi saja. Siapa tahu ke adaan di sana gawat darurat" ucap Safira yang di angguki Arsela.


Setelah berpamitan, Arsela pun pergi dari rumah Safira setelah berpamitan kepada semua orang termasuk Raiyan yang tiba-tiba menangis mencari mamanya.


Kini tinggal Abizar dan Safira yang tengah menggendong Raiyan di pangkuannya, sedangkan ni Eti sudah masuk kamarnya untuk beristirahat.


"Fira" panggil Abizar, kini mereka duduk di bangku luar yang berada di teras rumah.


"Ya bang?


"Bagaimana perasaan mu saat ini?"


"Baik, aku baik-baik saja bang"


"apa kamu sudah tidak marah lagi pada Arselo?"


"Sejujurnya aku masih marah bang, aku masih benci dan tidak terima dengan prilakunya dulu terhadapku. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan anak-anak ikut membencinya, aku tidak mau anak-anak menjadi durhaka pada ayahnya hanya karena perasaan ku. Jadi aku memutuskan untuk memaafkannya meskipun sangat sulit, aku mengalah demi masa depan anak-anak. Aku melakukan itu karena aku yakin tuhan tidak tidur, dia akan membalas semua rasa yang di torehkannya dulu pada ku. Ya, aku percaya karma itu ada" jawab Safira panjang lebar. Bukannya dia tidak punya hati, tapi dia mengalah untuk ketiga anaknya agar mereka mendapat kasih sayang dari ayah kandungnya.


"Lalu kenapa kamu dengan mudahnya bisa memaafkan Arselo?"


"Alasannya Raiyan, dia sangat menginginkan kehadiran Arselo. Sedangkan Dayyan dan Qirani mereka sampai bilang tidak perlu Arselo yang penting ada aku. Dan itu membuat ku sedih sekaligus merasa bersalah"


Safira pun menceritakan pembicaraan yang terjadi antara Dayyan, Qirani dan Safira.


Flashback on


Sore itu setelah mereka pulang dari taman, Dayyan dan Qirani datang menghampiri Safira yang berada di kamarnya.


"Mama?" panggil Dayyan, membuat Safira menoleh.


"Ya abang? Ada apa?" tanya Safira.


"Mama, apa benar kakaknya dokter Sela itu adalah papa kami?" tanya Qirani.


"Iya benar sayang" jawab Safira mengangguk dan tersenyum pada Qirani.


"Mama, kenapa om Selo baru datang sekarang? Dan baru mengakui kami adalah anaknya" tanya Dayyan yang mengerti dengan keadaan Safira.


Safira tidak langsung menjawab, ia sendiri bingung harus menjelaskan seperti apa kisahnya kepada kedua anak itu.


"Mungkin om Selo baru mengetahuinya tadi" jawab Safira asal. Tapi bukan Dayyan namanya jika ia percaya begitu saja dengan ucapan Safira.


"Ma, kalau terlalu berat mama memaafkan om Arselo saat ini, abang Day sama Qiran gak apa-apa ko. Asal mama bahagia, kami juga akan ikut bahagia" ucap Dayyan sambil mengulurkan tangannya untuk memeluk Safira.


"Abang, gak seharusnya abang bicara seperti itu, mama tidak apa-apa. Abang berhak mendapatkan kasih sayang dari om Selo, oma, opa dan aunty juga" jawab Safira memeluk ke dua anaknya.


"Tapi Qiran gak mau lihat mama menangis seperti tadi lagi. Benar kata abang, kami gak apa-apa meskipun tanpa papa" ucap Qirani.


"Ya tuhan, aku merasa bersalah karena anak-anak bisa berfikir seperti itu. Semoga Arselo bisa mengambil hati ke dua anak ini agar aku tidak merasa bersalah terus menerus" batin Safira sedih


Flashback off