Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 72



Arselo meminta ijin pada ni Eti untuk menemui Safira di kamarnya, setelah menitipkan anak-anak pada Caca yang kemudian di bawa ke rumah bu Resti.


"Ni, apa saya boleh menemui Safira?" tanya Arselo.


"Silahkan nak, kamu masuk saja kedalam. Nini tunggu disini" ucap ni Eti memberi izin pada Arselo.


Arselo pun masuk ke kamar Safira dan menemukan Safira sedang menangis di bangku meja yang ada di kamarnya. Dengan perlahan Arselo melangkahkan kakinya untuk menghampiri Safira.


"Fira, kamu harus sabar. Kamu harus kuat, aku yakin kamu bisa lalui cobaan ini dengan ikhlas. Mungkin aku tidak sebaik Abizar, tapi ijinkan aku menggantikan perannya untuk kalian. Dan aku janji akan mencari otak dan dalang dari semua ini" ucap Arselo sambil menyentuh bahu Safira.


Safira melirik tangan Arselo yang ada di bahunya sesaat.


"Kau tidak perlu melakukan hal yang seperti itu, kami pasti akan baik-baik saja" jawab Safira setelah menghapus air matanya.


"Fira, izinkan aku untuk menebus semua kesalahan yang pernah kulakukan dulu padamu dan juga anak-anak. Aku tidak akan memintamu untuk menerima ku sebagai keluargamu, Aku hanya ingin menjaga kalian seperti Abizar menjaga mu dan anak-anak dulu" jawab Arselo.


Safira tidak lagi menanggapi perkataan Arselo, dia masih larut dalam kesedihannya dan kembali menangis.


"Menangis-lah Fira, menangis sekeras mungkin hingga hatimu merasa lega, tapi jika kamu sudah berhenti menangis, aku harap tidak akan ada lagi air mata kesedihan. Ingatlah ada anak-anak yang masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang mu, mereka bersedih saat melihat yang seperti ini" ucap Arselo lagi.


Seketika itu juga tangisan Safira terhenti, ia mengingat ketiga anaknya yang tiba-tiba ditinggalkannya, saat ia sadar jika Abizar benar-benar sudah meninggalkan mereka.


"Anak-anak, Bagaimana keadaan anak-anak sekarang?" tanya Safira sambil menatap yang berdiri di sampingnya.


"Mereka baik-baik saja, meskipun tadi saat mereka terbangun dari tidurnya sempat mengamuk dan mencari Abizar, tapi sekarang mereka sudah tenang kembali" jawab Arselo.


Safira sadar, bukan hanya dirinya saja yang merasa sedih tapi anak-anaknya juga pasti merasakan hal yang sama atas kepergian papanya.


"Kau benar, harusnya aku bisa lebih tegar menghadapi ini semua demi mereka. Tapi tetap saja aku merasa bersedih, mas Abi belum mengetahui tentang keberadaan anaknya yang masih dalam kandungan ku. Harusnya saat aku pulang dari rumah sakit, aku segera memberitahukannya" ucap Safira dan kembali menangis.


Arselo setia menemani Safira, hingga ibu hamil itu tertidur karena kelelahan menangis. Setelah Safira tertidur pulas, Arselo pun berlalu keluar dari kamar Safira dan membiarkannya untuk beristirahat.


Saat ia keluar dari kamar Safira, ternyata anak-anak sudah kembali dari kediaman bu Resti.


"Papa, mama mana? Apa mama baik-baik saja?" tanya Raiyan pada Arselo yang baru saja keluar dari kamarnya.


Arselo menghampiri ke tiga anak-anaknya dan memeluk erat mereka.


"Papa kenapa tidak menjawab pertanyaan ku. Apa mama baik-baik saja?" tanya Raiyan lagi yang kesal karena Arselo tidak langsung menjawab pertanyaannya.


Perlahan Arselo melepaskan pelukannya dan menatap mata indah milik ke tiga anaknya secara bergantian.


"Papa mau tanya. Apa kalian sayang mama?" tanya Arselo pada ke tiga anak itu.


Pertanyaan Arselo begitu aneh di telinga anak-anak itu sampai mereka mengerutkan keningnya.


"Papa aneh, tentu saja kami sangat menyayangi mama. Kenapa Papa bertanya seperti itu?" tanya Qirani


Arselo tersenyum mendengar penuturan anak gadisnya yang mengatainya "Aneh".


Raiyan dan Qirani menganggukkan kepala mereka.


"Kami akan membantu papa untuk menjaga mama, tapi kenapa mama harus dijagain?" tanya Raiyan yang masih tidak mengerti.


Arselo menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan, sungguh ia merasa bingung untuk menyampaikan kehamilan Safira pada ketiga anak-anaknya itu.


"Papa ingin bertanya lagi. Apa kalian bahagia jika mempunyai adik?" tanya Arselo.


Arselo bisa melihat binar mata bahagia kedua anaknya, tapi tidak dengan Dayyan. anak itu terlihat murung sejak tadi.


"Apa kami akan mempunyai adik pa?" tanya Raiyan dengan antusias, yang di jawab Arselo dengan anggukan kepalanya.


"Iya, mama Kalian sedang mengandung adik kecil untuk kalian. Apa kalian bahagia?" tanya Arselo lagi.


"Tentu saja kami bahagia pa, papa Abi juga sangat ingin mempunyai adik bayi" jawab Qirani.


Dayyan yang sudah tidak kuat dengan kesedihan yang ia rasakan membalikan badannya dan pergi dari sana. Arselo yang merasa sudah terjadi sesuatu pada anak sulungnya segera menghampirinya.


"Kalian tunggu disini ya, papa akan samperin abang dulu" ucap Arselo pada Raiyan dan Qirani sebelum meninggalkan mereka.


"Iya pa" jawab kedua anak itu.


Arselo menghampiri Dayyan yang sedang duduk disalah satu bangku dekat tanaman bunga milik ni Eti.


"Nak, apa yang sedang kamu pikirkan? Apa kamu tidak senang mendengar jika mama sedang mengandung adik untukmu?" tanya Arselo pada Dayyan.


Dayyan tidak menjawab pertanyaan Arselo, anak itu hanya menggeleng pelan kepalanya.


"Lalu apa yang mengganggu pikiran mu saat ini?" tanya Arselo yang ingin tahu perasaan hati Dayyan.


"Abang fikir, papa Abi meninggal karena harus melindungi ku. Aku adalah penyebab papa Abi meninggal" ucap Dayyan diiringi dengan tangisannya.


Arselo terkejut dengan pemikiran Dayyan anaknya, dia tidak menyangka jika Dayyan akan berpikir sejauh itu. Arselo tidak mengatakan apapun, untuk saat ini dia hanya mendekap anak sulungnya itu.


"Dayyan pasti sangat terkejut hingga ia berfikiran seperti ini. Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan? Dia pasti merasa bersalah sekali" batin Arselo.


"Sayang, abang jangan berfikiran seperti itu. Papa Abi sangat menyayangi mu, makanya beliau mengorbankan nyawanya demi melindungi mu" Ucap Arselo tertahan.


"Jika aku yang berada di posisi Abizar saat itu, apa anakku akan sesedih ini saat aku meninggalkan mereka?" batin Arselo lagi.


"Tapi itu kenyataannya pa, papa Abi meninggal kerena aku. Aku bukan anak yang baik sampai menyebabkan papa ku sendiri meninggal. Aku... aku marah, aku kesal pada diriku sendiri, pa" ucap Dayyan yang berada di pelukan Arselo.


"Sayang, dengarkan papa nak. Semua orang pasti akan meninggal, hanya saja dengan cara yang berbeda. Tidak seharusnya kamu menyalahkan dirimu sendiri seperti ini, semua ini bukan salah mu bang" jawab Arselo sedih.


"Aku bukan anak baik, pa. Papa Abi meninggal karena aku. Andai saja aku tidak melepaskan genggaman tangan mama, pasti papa Abi masih ada disini bersama kita" ujar Dayyan yang kukuh menyalahkan dirinya sendiri.


Arselo menggelengkan kepalanya sambil mendekap erat tubuh kecil anak sulungnya, sungguh Dayyan pasti merasa sangat kehilangan karena Dayyan lah yang paling dekat dengan Abizar.