
"Apa hanya dia yang lucu. Apa aku tidak lucu sayang?." Tanya Jung woo meletakkan kepalanya di bahu Dae hwa.
"Eh, maksudku bukan begitu sayang. Aku hanya menganggapnya lucu, hanya sebatas sahabat, tidak lebih. Kalau yang lebih lucunya, tentunya yang ada di hadapanku ini. Sih Jung woo lucu ini." Ucap Dae hwa mencubit pipi Jung woo dengan gemas.
"Aduh, sakit sayang. Kamu ah." Ucap Jung woo, salting.
"Kamu marah?." Tanya Dae hwa langsung melepaskan cubitan tersebut.
"Eh, bukan begitu sayang. Aku sangat menyukainya, bahkan aku ingin dimanja terus oleh kamu. Karena tidak ada wanita yang sebaik dan semanis dirimu sayang. Sebab itu, aku tidak mau jauh darimu, bahkan jiwa dan ragaku, seluruhnya untukmu sayang." Ucap Jung woo kembali memeluk Dae hwa dengan erat.
"Terima kasih banyak sayang. Aku ingin mendengar suara kamu setiap hari, bahkan di setiap bangun dan tidurku. Aku ingin mendengar suara kamu. Aku mencintai mu sayang." Bahagia Dae hwa.
"Aku juga mencintai mu sayang. Aku benar benar mencintai mu." Ucap Jung woo berulang kali, sambil memeluk Dae hwa dengan erat.
"Kalau begitu, mending kamu kerja. Aku juga mau kerja dulu di tempat biasa." Ucap Dae hwa.
"Tidak mau, aku mau kamu ada disamping aku. Agar kamu tidak hilang lagi." Ucap Jung woo memeluknya kembali.
"Bagaimana aku mau bekerja kalau begini?." Tanyanya.
"Aku akan menyuruh penjaga untuk memindahkan meja kerja kamu, ke dalam ruang aku ini. Kamu tunggu disini dulu, aku akan menghubungi penjaga." Ucap Jung woo langsung berdiri, dan menghubungi penjaga perusahaannya.
"Dia benar benar takut kehilanganku. Aku sangat beruntung mempunyai pria yang sangat takut akan kehilangan diriku, aku benar benar tidak bisa lepas lagi dari dirinya. Aku sudah dibuat gila olehnya. Sungguh cinta ini sangat membuat seseorang gila." Ucap batin Dae hwa kembali tersenyum tipis.
"Aman sayang. Kalau begini kan, aku bisa melihat kamu yang sedang bekerja. Dan dengan begitu, kamu tidak akan kabur lagi dariku." Ucap Jung woo mencium leher Dae hwa.
"Akh, jangan begitu. Kita masih di kantor, nanti Ku ngambek nih. Nanti tunggu di rumah aja." Ucap Dae hwa langsung melipat kedua tangannya.
"Baiklah sayang. Aku harus menuruti perintah istriku yang paling cantik ini." Menurut Jung woo, dan hanya memeluk punggung Dae hwa dengan lembut.
Tiba tiba yang ada mengetuk pintu. "Itu siapa yang mengetuk pintu. Kamu cek sana." Ucap Dae hwa.
"Pak, kami mau memindahkan meja milik bu Dae hwa." Ucap penjaga tersebut.
Dae hwa langsung berdiri, agar dia dikira sopan, dan tidak menjadi bahan perbincangan. "Ya masuk." Jawab Dae hwa yang menjawabnya.
Penjaga pun langsung masuk, sambil membawa meja milik Dae hwa. "Mau di letakkan dimana meja ini pak?." Tanya penjaga tersebut.
"Letakkan di dekat meja saya saja, dan pindahkan sofa ini didekat dinding. Agar lebih luas saja." Jawab Jung woo sambil menunjuk tempatnya.
"Baik pak." Langsung meletakkan meja kerja Dae hwa di dekat meja kerja Jung woo.
Setelah meletakannya. "Apa sudah cocok pak?." Tanya penjaga kembali.
"Ehm,