
"Eh...., kenapa ceo ada di meja ku dan apa yang ada ditangannya....,jangan jangan...."Ucap batin Dae hwa panik.
Pak Felix pun reflek melihat Dae hwa yang sedang melihatnya sambil memegang kertas tersebut.
"Dae hwa."Panggil Felix.
Menunduk."Iya pak...."Jawab Dae hwa malu.
"Apa maksud dari kertas ini?."Tanya Felix sambil menunjukkan kertas tersebut.
Gugup."hem...., sebenarnya..., itu bukan apa apa kok pak, mungkin itu hanya candaan saja."Jawabnya sambil mengelus lehernya karena panik.
"Katakan yang sebenarnya...ini apa?."Tanya Felix menatapnya.
"Tidak apa apa pak, itu hanya candaan saja, jangan di bawa hati pak."Ucapnya tersenyum.
"Jangan berbohong kepada saya...., katakan yang sebenarnya."Ucap Felix menanyakannya terus.
"Saya menyukai bapak!!!!"Jawab Dae hwa sudah tidak tahan dengan hatinya.
"Maafkan saya pak....,saya tidak tahu bahwa bapak mempunyai wanita, maafkan saya pak.Setelah ini saya tidak akan menyukai bapak lagi dan akan pura pura seperti tidak terjadi apa apa."Jawabnya sambil menunduk agar pak Felix tidak marah.
"Kau pikir aku pria seperti apa, aku tidak menyukai wanita seperti mu, yang culun dan tidak pandai ber-make up seperti mu ini.Aku memang tampan jadi sampai dirimu menyukaiku, aku hanya minta kau jangan menyukaiku lagi karena aku akan mengadakan pernikahan secepat mungkin."Ucap Felix tersenyum.
"Sudahlah...., tidak penting berlama lama disini, aku mau pergi dulu untuk menjemput kekasih tercintaku."Ucapnya langsung pergi sambil membuang kertas tersebut ke tong sampah kembali.
Setelah Felix pergi meninggalkan dae hwa.Dae hwa yang sangat sakit hati mendengarkan hinaan dari bosnya, padahal dia tidak pernah sekalipun dihina seperti ini oleh bosnya sendiri.Seketika itu juga hati Dae hwa down.
Terduduk."Astaga...., kenapa pak ceo mengatakan seperti itu...., dia sangat jahat...."Ucap Dae hwa menutupi wajahnya karena sangat malu dengan perbuatannya dan hinaan dari bosnya sendiri.
"Hikss....hikss...., dia jahat...., dia jahat...."Ucapnya memukul mejanya sendiri dan kebetulan perusahaannya sudah sepi dan hanya tersisa dia seorang.
"Dasar kau bodoh....bodoh!!!"Memukul mukul meja dengan marah.
Setelah beberapa menit dia melampiaskan amarahnya, dengan menangis dia pun bergegas pulang ke rumah.
"Aku mau pulang saja...., aku tidak mau disini terlalu lama karena harus berjumpa dengan si jahat itu."Ucapnya mengambil dompetnya yang tertinggal lalu pergi meninggalkan perusahaan tersebut.
Dae hwa pun keluar dari perusahaan dan sudah hampir sampai ke rumahnya, ditengah tengah dia melihat ada sebuah pizza yang dijual di dalam mobil dan harumnya menyengat sampai ke hidung Dae hwa dan membuat dae hwa selera seketika.
"Hem...harum apa ini, begitu sedap."Mencari cari asal harum tersebut dan dia pun langsung tau arah harum sedap tersebut.
"Wah..., bukannya itu pizza..., jarang jarang ada yang jualan pizza di sekitar rumahku.Aku harus membelinya...."Senang kembali Dae hwa langsung lari ke arah mobil dagang pizza tersebut.
Sesampainya."Wah...., harumnya begitu sedap..."Menutup matanya karena menikmati harum pizza tersebut.
"Aku harus membeli banyak, untuk melampiaskan amarah ku kepada si jelek itu."Ucapnya mengepalkan tangannya sudah bertekad matang untuk memesan banyak pizza.
"Saya pesan pizza ya 3 kotak."Ucapnya.
"Eh...baik kak, ditunggu."Jawab heran penjual tersebut karena memesan banyak pizza hanya untuk satu orang.
Duduk."Aku harus fokus makan dan harus melupakannya, enak saja dia mengatakan aku tidak pandai bermake up.Oh...dasar wajah bacem."Ucap Dae hwa kesal.
Dae hwa pun sudah menyiapkan bir serta pizza yang sudah di belinya tadi.Dae hwa pun memulai makan.
"Argh...., enaknya pizza ini..."Memuji pizza tersebut dan menikmatinya.
"Halal, halal, halal....nih, hahahahah.Aku lihat kata kata ini dari sosmed ku tadi....sangat lucu rupanya."Tertawa Dae hwa sambil menikmati pizzanya.
Ditengah tengah kenikmatannya tiba tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya."Tok, tok, tok..."Bunyi ketukan pintu.
"Eh..., siapa yang datang malam malam begini ya."Bingung Dae hwa menghentikan makannya lalu berdiri untuk membukakan pintu rumahnya.
Membuka pintunya."Halo Dae hwa...."Ucap yang tidak lain lagi ialah Hana dan Eun ji yang juga membawa makanan dan bir.
"Eh, kalian...ada apa malam malam begini ke sini?."Tanya Dae hwa.
Langsung masuk ke dalam."Kami hanya ingin ke sini saja dan menikmati makanan kami bersama mu, soalnya tidak enak kalau tidak ada kau tau Dae hwa."Jawab hana langsung masuk ke dalam bersama Eun ji.
Eun ji dan Hana terkejut melihat pizza Dae hwa begitu banyak dan bir dimana mana."Astoge...., Dae hwa...., pizza siapa ini?."Tanya kaget Eun ji dan Hana ikut kaget.
"Apa kau abis makan bersama pria dan kalian sedang..."
"Diam!."Menutup mulut Hana yang terus mengoceh.
"Aku hanya ingin menenangkan diriku saja, karena ada yang membuatku sedih seperti ini."Ucap Dae hwa langsung duduk kembali setelah menutup pintu rumahnya.
"Apa ini menyangkut pak Felix."Tanya tegas Hana menatapnya karena Dae hwa memasang wajah murung dan menundukkan kepalanya.
Dae hwa mengangguk."Dasar!!!... beraninya dia membuat sahabat ku seperti ini, aku harus mendatanginya."Ucap Eun ji kesal dan mengepalkan tangannya.
Menahan Eun ji yang marah."Sudahlah..., tidak apa apa,yang terpenting, bisakah kalian menemaniku makan bersama dan minum bersama?."Tanya Dae hwa langsung menatap wajah mereka berdua.
"Siapa juga yang akan meninggalkan sahabat ku tersayang, kami akan menemanimu untuk menghilangkan sakit hati mu dan mencoba dengan yang baru."Ucap Hana menepuk pundak Dae hwa.
"Betul itu yang dikatakan Hana...jangan putus asa, masih banyak pria lain bos."Ucap Eun ji.
"Jadi..., mari kita nikmati malam ini dengan segelas bir dan makanan enak."Teriak Eun ji.
"Mari...."Teriak juga Dae hwa dan Hana bersamaan.
Merekapun menikmati malam itu dengan bir juga makanan yang dibawa Eun ji dan Hana beserta pizza yang dibeli Dae hwa.
"Omong omong kenapa kronologi ya kau kembali bersedih?."Tanya Hana sambil mengunyah pizza.
"Sebenarnya....., saat aku tadi mau pulang dan sudah di tengah jalan, aku baru teringat kalau aku melupakan dompetku yang tertinggal di diperusahaan lalu aku mengambilnya deh.Pas aku sampai disana sudah ada pak ceo yang sudah berada di mejaku sambil memegang kertas di tangannya.Aku baru reflek kalau kertas yang di pegang pak ceo itu adalah kertas ungkapan isi hatiku kepada pak ceo.Lalu pak ceo mengintrogasi ku deh dan dia mengatakan aku tidak pandai ber make up dan gadis yang dia tidak inginkan."Ucap Dae hwa menjelaskan sambil mata berkaca kaca.
"Astaga...., baru kali ini aku melihat sifat aslinya yang gila itu, dasar bodoh!!!"Marah besar Eun ji.