
Sesampainya, Dae hwa langsung masuk kedalam." Pagi nenek." Sapa Dae hwa dengan senyumannya.
Saat masuk, ternyata nenek tersebut sudah duduk dan mengupas buah buahan. Sontak nenek tersebut, langsung menoleh ke arahnya.
"Eh, nak Dae hwa. Ada apa nak?." Tanya nenek tersebut dengan senyumannya yang membahagiakan.
"Nenek sedang apa. Kenapa mengupas buah buahan sendirian. Biar Dae hwa yang mengupasnya. Sini nek." Jawab Dae hwa langsung menghampiri nenek tersebut dan mengambil buah buahan yang mau di kupas oleh nenek tersebut.
"Terima kasih banyak nak. Tidak pernah ada orang sebaik kamu, yang datang ke ruangan nenek ini. Karena ada kamu dan pacar kamu. Nenek merasa, kalau hidup nenek lebih berwarna." Ucap nenek tersebut sangat bahagia, sampai mengelus tangan Dae hwa.
"Jangan dekat dekat dulu nek. Nanti nenek terkena pisau tau. Heheheh." Tertawa tipis Dae hwa, sambil mengupas buah buahan.
"Bagaimana dengan keadaan pacar kamu itu?." Tanya nenek.
"Dia sudah baik kok nek. Hanya saja, dia manja denganku."Jawab Dae hwa curhat kepada nenek.
"Oh ya nek. Omong omong, nama nenek siapa nek. Aku lupa?." Tanyanya.
"Nama nenek, adalah nenek Isabella. Nenek juga sudah lupa dengan nama nenek sendiri. Karena kamu tahu kan, kalau nenek sudah tua." Jawab nenek Isabella kepadanya.
"Nama nenek bagus banget. Seperti nama ratu di istana." Ucap Dae hwa.
"Hahahaah, kamu ada ada saja nak. Banyak yang bilang, kalau nama nenek memang seperti ratu istana. Tapi nenek tidak seperti itu kok." Tersenyum.
"Kalau begitu, nenek makan dulu buah buahan ini. Dan kita akan sarapan dulu." Langsung memberikan buah tersebut, kepada nenek Isabella.
"Terima kasih banyak nak." Mengambilnya, dan memakannya.
"Kemarin, pacar kamu bilang, kalau dia ingin di panggil sayang oleh kamu. Sebenarnya dia bilang, kalau tidak boleh memberitahukannya kepada kamu."
"Karena dia masih malu malu kucing kepada kamu. Tapi, kamu harus tahu, kalau dia benar benar mencintai kamu." Ucap nenek Isabella memberitahukannya.
"Benar yang nenek katakan itu. Pak Jung woo benar benar mencintai saya, dan saya juga mencintainya. Tapi, saya masih malu nek, untuk mengatakan hal itu. Karena, saya tidak pernah pacaran." Ucap Dae hwa, pipinya langsung memerah, kalau sudah membahas soal percintaan.
"Kamu harus terbiasa, karena kalian akan bersama selamanya. Nenek akan doakan, kalau kalian akan hidup selamanya, dan bahagia. Sampai mempunyai anak yang secantik dan setampan diri mu, dan pacar mu." Mendoakan Dae hwa dan mengelus pipi Dae hwa dengan lembut.
"Nenek juga menyayangi kamu sayang. Walau nenek baru kenal dengan kamu. Tapi, nenek yakin, kalau kamu orang baik sayang." Ucap nenek Isabella mengelus rambut Dae hwa dengan lembut, layaknya seorang ibu.
Tiba tiba Dae hwa menangis, dan nenek Isabella terkejut." Eh, kamu kenapa sedih sayang?." Tanya nenek Isabella langsung melepaskan pelukannya, dan memegang wajah Dae hwa.
"Aku merindukan ibu nek. Kalau nenek memelukku begini, aku jadi merindukan ibuku yang sudah meninggal. Hiksss, hiksss." Jawab Dae hwa menangis kembali.
"Sudahlah sayang. Kamu jangan menangis. Karena nenek akan selalu memeluk kamu seperti ini." Ucap neneknya mengusap air mata Dae hwa.
"Terima kasih banyak nek. Aku sayang nenek." Memeluk kembali nenek Isabella.
"Nenek juga menyayangi kamu sayang. Kalau ada apa apa, katakan saja kepada nenek, dan datanglah kepada nenek. Nenek siap mendengarkan apa yang mau kamu katakan." Ucap neneknya merapikan rambut Dae hwa.
"Oh ya sayang. Kamu kemari mau ngapain?."Tanya neneknya.
"Oh ya nek, aku baru ingat. Kalau aku mau beli sarapan dulu, tapi malah kebablasan mengobrol dengan nenek. Kalau begitu, aku mau membeli sarapan dulu untuk Jung woo dan nenek. Nenek tunggu disini dulu ya nek, dan jangan kemana mana." Jawab Dae hwa baru ingat.
"Baik nak. Nenek akan menurut kepada kamu." Ucap neneknya kembali mengelus rambut Dae hwa.
"Kalau begitu, aku pergi dulu ya nek. Dan tidak akan lama deh. Aku sayang nenek." Mencium kening nenek Isabella, dan langsung keluar untuk membeli sarapan.
Saat di perjalanan, untuk mencari sarapan. Tiba tiba saja ponselnya berdering." Eh, siapa yang menghubungiku ya." Langsung mengambil ponselnya dan mengangkatnya.
"Halo?." Panggilnya.
"Halo Dae hwa sayangku. Kamu dimana?." Tanya yang tidak lain lagi Eun ji.
"Eh Eun ji. Aku lagi di jalan, untuk mencari sarapan. Ada apa emangnya?." Tanya Dae hwa balik.
"Tidak apa apa. Aku dan Hana, hanya merindukan mu saja sayang. Omong omong, bagaimana dengan keadaan bos mu sekarang." Jawabnya sekaligus bertanya.
"Keadaan bos ku,