
"Apa pak Jung woo mau ke taman belakang rumah sakit?." Tanya Dae hwa kepadanya.
"Aku, aku mau banget. Asalkan ada kamu disisi aku. Aku akan ikut dengan mu." Jawab Jung woo dengan panjang lebar.
"Jangan terlalu banyak jawaban deh. Yaudah, kalau begitu, kita ke taman belakang Rumah Sakit." Langsung menuju belakang Rumah Sakit.
Sesampai di taman belakang Rumah Sakit tersebut. Dae hwa pun langsung duduk di kursi yang ada, dan Jung woo duduk di kursi rodanya." Bagaimana pak, cukup baik bukan. Daripada di dalam terus, kan pengap." Ucap Dae hwa sambil tersenyum bahagia.
"Aku sangat baik disini. Anginnya cukup sejuk dan pepohonan yang indah." Jawab Jung woo melihat langit.
Tiba tiba ada seorang nenek yang menghampiri mereka berdua." Halo cu." Sapa nenek tersebut.
"Halo nek. Mari duduk dulu nek." Ucap Dae hwa langsung menuntun nenek tersebut untuk duduk di sampingnya.
"Nenek di rawat disini juga?." Tanya Dae hwa langsung menatap nenek tersebut.
"Iya cu. Dan nenek disini, mau menikmati udara segar. Sudah lama nenek di ruang gawat darurat. Karena nenek mengidap penyakit kanker stadiun akhir." Curhat nenek tersebut.
Sontak Dae hwa terkejut, dan langsung bertatapan dengan Jung woo. Dae hwa kembali menatap nenek tersebut." Apa tidak ada yang menjenguk nenek?." Tanya Dae hwa.
"Nenek tinggal sendirian. Dan nenek bisa di Rumah Sakit ini, karena BPJS yang nenek punya. Sebab itu, nenek bisa di rawat disini. kalau tidak, entah apa yang akan terjadi dengan nenek." Jawab nenek tersebut sambil memegang tangan Dae hwa.
"Umur nenek sudah tidak lama lagi, dan nenek mau menikmati dunia ini dulu. Sebab itu, nenek menghirup udara segar di luar sini." Curhat nenek tersebut.
"Nenek gak boleh berbicara seperti itu. Nenek pasti sembuh kok, nenek pasti kuat. Saya akan sering sering menjenguk nenek, kalau nenek mengizinkannya." Ucap Dae hwa mengelus tangan nenek tersebut dengan lembut.
"Omong omong, nama kalian siapa cu?." Tanya nenek tersebut, langsung menatap mereka berdua.
"Nama saya Dae hwa nek, dan ini namanya Jung woo, bos tempat saya bekerja." Memperkenalkannya.
"Halo nek." Sapa Jung woo dengan senyumannya.
"Sungguh anak anak yang cantik dan tampan. Apa kalian berpacaran?." Tanya nenek kembali.
"Iya nek. Kami baru berpacaran beberapa hari nek." Jawab Jung woo langsung dan tidak mau menunggu Dae hwa yang menjawabnya.
"Wah, kamu sangat bersemangat ya nak. Nenek harap, kalian bisa bersama selamanya." Mendoakan.
"Terima kasih banyak nek. Aku akan sering menjenguk nenek, dan aku akan mengantarkan nenek juga ke ruangan nenek. Omong omong, dimana ruangan nenek?." Tanyanya.
"Nenek di rawat di ruangan nomor 147. Kalau kamu dimana?." Jawab nenek tersebut sekaligus bertanya.
"Saya di ruangan nomor 140 nek." Jawab Jung woo dengan lembut.
"Dekat dong kalau begitu. Nenek akan ke ruang kamu, kalau nenek ada waktu. Soalnya nenek mudah kelelahan." Ucap nenek tersebut tersenyum kepada mereka.
"Kasihan banget sih nenek ini. Kalau aku melihat orang yang tidak mempunyai siapapun, aku jadi teringat dengan kedua orang tuaku. kenapa ya, nenek ini, malah sendirian, di usia nya yang sudah tua, dan tidak bisa bekerja lagi." Ucap Dae hwa menahan air matanya, dan menundukkan kepalanya.
"Kamu kenapa nak. Kenapa diam?." Tanya nenek tersebut.
"Eh, gapapa kok nek. Sepertinya, tadi ada hewan yang masuk ke mata aku." Jawab Dae hwa langsung mengkibaskan matanya.
"Udah hilang kok tadi nek. Jadi tinggal air matanya saja." Jawab Dae hwa tersenyum untuk menutupi kesedihannya.
"Aku tahu, kalau dia menangis karena melihat nenek tersebut. Bukan karena hewan. Aku bisa lihat dari matanya." Ucap batin Jung woo menatap Dae hwa.
"Apa nenek sudah makan. Kalau belum, biar Dae hwa belikan mau gak nek?." Tanyanya.
"Kebetulan nenek memang belum makan. Nenek bosan dengan makanan Rumah Sakit. Emangnya kepada nak?." Jawab nenek tersebut sekaligus bertanya.
"Kalau begitu, nenek tunggu disini dulu. Biar saya beli makanan untuk nenek." Ucap Dae hwa mengelus tangan nenek tersebut dan langsung berdiri.
Jung woo menahannya. Sontak Dae hwa menatap Jung woo." Ada apa pak?." Tanyanya.
"Biar aku hubungi supir ku saja. Nanti kamu kelelahan. Duduklah." Jawab Jung woo.
"Tidak apa apa pak Jung woo. Jangan merepotkan orang, kalau kita masih bisa membelinya. Aku tidak apa apa kok pak. Dan selagi aku membeli makanan di luar, pak Jung woo harus menemani nenek disini dulu."
"Pak Jung woo paham kan." Ucap Dae hwa mengelus pipi Jung woo.
"Baiklah, dan hati hatilah dijalan. Kalau ada apa apa hubungi aku." Ucapnya tersenyum kepada Dae hwa.
"Aku pergi dulu ya nek, dan pak Jung woo." Langsung melambaikan tangannya, dan meninggalkan mereka berdua.
Jung woo pun mendekat ke nenek tersebut." Halo nek." Sapa kembali Jung woo.
"Halo nak. Pacar kamu memang sangat baiknya. Kamu harus bersyukur karena mempunyai wanita seperti dia. Karena, dia adalah wanita yang sangat baik, dan tidak mau merepotkan orang di sekitarnya. Sungguh wanita yang sangat baik." Ucap nenek tersebut sambil tersenyum kepadanya.
"Baik nek, aku tidak akan membuatnya sedih, dan akan terus membuatnya bahagia." Jawab Jung woo ikut tersenyum.
"Dengan begitu, cepatlah kalian menikah, dan nenek akan bahagia melihatnya. Hahahah." Ucap kembali nenek tersebut sambil tertawa tipis.
"Aman nek. Aku segera menikahinya, dan kami akan segera tinggal bersama. Heheheheh." Ikut tertawa tipis dan mereka berdua tertawa bersama.
" Omong omong, kenapa dia memanggil mu dengan sebutan pak. Seharusnya kalian sebagai pasangan, harus memanggil dengan sebutan sayang?." Tanya nenek tersebut.
"Entahlah nek. Dia masih malu kepadaku nek. Tapi aku masih menunggunya saja. Sampai dia mau mengatakan hal itu. Dia mengatakannya saat dia mau saja, dan tidak mau mengatakannya di hari hari biasa. Tapi, itu tidak penting nek, karena aku sangat mencintainya." Jawab Jung woo dengan bahagia.
Jung woo tidak tahu, bahwa di belakangnya sudah ada Dae hwa yang mendengarkan semuanya." Pak Jung woo tidak mempermasalahkan, kalau aku tidak memanggilnya dengan sebutan sayang. Dia sangat mengerti perasaan ku.
"Seharusnya aku mengerti perasaannya juga. Kalau dia ingin di panggil dengan sebutan itu." Ucap batin Dae hwa.
"Halo, makanannya sudah datang." Ucap Dae hwa berpura pura baru datang.
"Eh, nak Dae hwa. Kenapa begitu lama?." Tanya nenek tersebut.
"Tadi sangat ramai nek. Jadi aku harus mengantri deh. Yang terpenting, makanannya sudah datang. Kalau begitu, mari kita makan." Jawabnya langsung duduk di sampingnya Jung woo.
"Apa pak Jung woo mau juga?." Tanyanya sambil menatap wajah Jung woo.
"Aku,