Love A Handsome Ceo

Love A Handsome Ceo
Episode 53: Kecelakaan



"Waktu kita makan malam itu, kan kalian pernah menanyakan aku, apakah aku menyukai Dae hwa atau tidak. Dan aku mengatakan tidak dan bahkan aku menjelekkannya. Itu semua adalah bohong, itu bohong.


"Sebenarnya aku sangat mencintainya, aku sangat menyukainya. Aku hanya tidak mau, kalian mengejekku, dan aku jadi menjelekkannya. Dasar Jung woo, Jung woo bodoh." Memukul kepalanya dengan keras.


"Jung woo, jangan memukul kepala mu sendiri. Dan jangan menyalahkan diri mu sendiri." Ucap Chin so menahan tangannya.


"Kenapa kau tidak mengatakan, yang sejujurnya. Kami juga tidak akan mengejek mu, karena kami juga sangat sayang kepada Dae hwa. Bahkan aku sudah menganggap Dae hwa, seperti adikku sendiri." Ucap Chan woo.


"Entahlah, aku kebawa emosi dan semuanya jadi kacau begini." Ucap Jung woo menutup wajahnya.


"Kami akan membantu mu dan jangan merasa kalau diri mu, tidak mempunyai teman. Kami akan selalu ada bersama mu, dan akan selalu membantu mu. Yakan Chan woo." Ucap Chin so.


"Benar yang dikatakan Chin so itu. Aku juga ada di pihak mu sekarang dan jangan pernah menyimpan perasaan mu lagi." Ucap Chan woo mengelus pundak Jung woo.


"Kalian mau kan membantuku, untuk meluluhkan hati Dae hwa. Aku sangat susah mendekatinya, karena dia sudah terlanjur sakit hati dengan perkataan ku." Ucap Jung woo menatap wajah Chin so dan Chan woo.


"Baiklah, kami sangat bersedia membantu mu teman. Kami akan berusaha sekuat mungkin, untuk membantu mu. Hubungi saja kami, dan jika kami melihat Dae hwa, kami akan langsung menghubungi mu." Ucap Chan woo dan Chin so.


"Terima kasih banyak teman." Ucap Jung woo tersenyum.


Malam pun tiba. Di kamar Dae hwa." Bosan banget aku di kamar terus. Mending aku jalan jalan sebentar di luar deh." Langsung bersiap siap dan mengenakan pakaian yang biasa.


"Semoga aku tidak bertemu dengan pak Jung woo ya tuhan." Ucap Dae hwa tidak mau bertemu dengan siapapun.


"Aku mau jalan jalan mencari angin aja deh. Sudah lama aku tidak melihat bintang dan bulan yang indah ini. Disana ada kursi, aku duduk disana aja deh." Langsung duduk di kursi tersebut dan menatap bintang bintang yang indah dan berkelap kelip.


"Indahnya, aku jadi terbayang wajah ayah dan ibu. Mereka pasti sangat bahagia disana ya. Yah, ibu. Apa kalian merindukanku. Kalau kalian merindukanku, aku juga sangat merindukan kalian." Meneteskan air matanya, karena mengingat kedua orang tuanya yang sudah meninggal.


"Hikss, Hikss. Kapan aku akan bersama kalian lagi. Aku ingin bersama kalian." Ucap Dae hwa menangis.


Ditengah kesedihannya. Disisi lain, Jung woo yang melihat Dae hwa dari mobilnya. Sontak langsung memberhentikan mobilnya.


"Itu Dae hwa. Aku harus menjelaskan semua kesalahan pahaman, kepadanya." Langsung turun dari mobilnya dan menghampiri Dae hwa dari samping.


"Anak ini menangis, apa dia menangis karena sakit hati, kepadaku." Ucap batin Jung woo langsung duduk di sampingnya.


Sontak Dae hwa melihat ke arah samping." Eh, pak Jung woo. Kenapa anda disini?." Tanya Dae hwa langsung mengusap air matanya.


"Ada hal yang harus aku katakan pada mu." Jawab Jung woo menatapnya.


"Apa lagi yang perlu di katakan lagi pak, semua sudah jelas. Saya permisi dulu pak." Ucap Dae hwa langsung berdiri dan mau pergi dari tempat tersebut.


Jung woo langsung menahan tangannya dan langsung memeluknya." Ada hal yang mau aku katakan pada mu. Tolong dengarkan penjelaskan ku." Ucap Jung woo.


"Aku harus mengejarnya. Aku tidak boleh menyerah, aku harus menjelaskan semuanya kepadanya." Ucap batin Jung woo langsung mengejar Dae hwa yang sudah mulai jauh.


Dae hwa sambil melihat ke belakang dan ternyata Jung woo mengejarnya." Astaga, kenapa pak Jung woo mengejarku sih. Aku harus berlari dengan cepat." Ucapnya langsung menyebrang dan langsung berdiri di sisi yang berbeda dengan Jung woo dan ia pun langsung berlari.


Jung woo mengejar Dae hwa dengan sekuat tenaga dan ia berdiri ditengah tengah jalan." Sial, aku tidak bisa mengejarnya. Aku harus apa ya tuhan, apa aku harus mengikhlaskan cinta ku. Ini semua salah mu Jung woo, salah mu." Menampar dirinya sendiri.


Jung woo berdiri ditengah tengah dan ia tidak melihat ada mobil yang sedang berjalan ke arahnya. Disisi lain, Dae hwa pun berhenti dan melihat dari kejauhan, kalau Jung woo sedang berdiri di tengah tengah. Dan ia pun juga melihat mobil yang sedang menuju ke arahnya.


"Astaga, mobil itu akan menabrak pak Jung woo."


Dae hwa pun kembali menuju Jung woo." Pak Jung woo, minggirlah pak." Teriak Dae hwa panik seketika.


"Aku memang membencinya. Tapi aku juga mencintainya, aku tidak bisa membiarkannya mati begitu saja. Bagamaina dengan nasibku nanti." Ucap Dae hwa langsung berlari.


Dae hwa pun tidak bisa mengejar mobil tersebut. Dan otomatis mobil tersebut menabrak Jung woo." Akh, " Terpental Jung woo dan badannya di penuhi dengan darah.


"Tidak!," Teriak Dae hwa langsung menghampiri Jung woo yang sudah jatuh pingsan.


"Pak Jung woo. Bangunlah pak Jung woo, ada aku disini." Menyangga kepala Jung woo dipahanya.


"Aku harus menghubungi Chan woo. Aku harus menghubungi mereka." Langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Chan woo.


Tersambung." Halo Dae hwa, ada apa menghubungiku?." Tanya Chan woo.


"Hiksss, Hikss. Chan woo, pak Jung woo tertabrak mobil. Cepatlah kemari, dan panggilkan ambulace." Jawab Dae hwa sambil menangis.


"Baiklah, aku akan kesana sekarang." Panik Chan woo langsung mematikan ponselnya.


"Sabarlah pak Jung woo. Ambulance akan datang." Mengelus pipi Jung woo.


Ambulace pun datang dan Jung woo langsung dibawa ke rumah sakit. Sesampai rumah sakit, Jung woo langsung dibawa ke ruang darurat.


Dae hwa dan Chan woo langsung menunggu di luar ruang darurat tersebut. Dae hwa yang sedang duduk di ruang gawat dan Chan woo mondar mandir." Kenapa dia bisa begitu Dae hwa?." Tanya Chan woo.


"Plis, jangan tanyakan hal itu dulu. Aku sudah sangat pusing memikirkan pak Jung woo. Jangan banyak tanya, dan kita tunggu kabar dari dokternya." Jawab Dae hwa sambil mengerutkan keningnya.


"Gimana ga bertanya. Tiba tiba dia sudah kecelakaan dan mungkin dia sedang kritis disana. Aku kan sahabatnya, tentu aku khawatir dengannya dong." Ucap Chan woo kepadanya.


Ditengah pembicaraan mereka. Tiba tiba ada yang datang, dan ia adalah,