
"Apa pak Jung woo mau juga?." Tanyanya sambil menatap wajah Jung woo.
"Aku mau banget. Tapi suapi ya sayang." Jawab manja Jung woo.
"Siap pak Jung woo, dan nenek mau aku suapi atau gak?." Tanyanya langsung menatap nenek tersebut.
"Nenek bisa makan sendiri kok. Dan ini sudah waktunya nenek kembali ke ruangan nenek.Kalau begitu, nenek duluan ya nak. Sampai jumpa lain waktu." Jawab nenek tersebut langsung berdiri, sambil memegang nasi kotak tersebut.
"Eh, biar aku antarkan ya nek. Biar nenek tidak kesulitan." Ucap Dae hwa langsung berdiri dan menuntun nenek tersebut.
"Pak Jung woo tunggu sebentar ya pak. Aku mau mengantarkan nenek ini dulu ya pak. Gapapa kan pak?." Tanyanya meminta izin kepada Jung woo.
"Pergilah sayang, dan itu hak mu." Jawab Jung woo dengan bahagia.
"Kalau begitu, tunggulah sebentar, atau pak Jung woo mau memakannya dulu, makanlah. Aku duluan pak Jung woo." Melambaikan tangannya, dan langsung menuntun nenek tersebut menuju ruangannya.
Sesampai ruang istirahat nenek tersebut." Terima kasih banyak ya nak. Kamu jadi repot repot mengantarkan nenek sampai kemari. Semoga kamu selalu bahagia, dengan pria yang kamu cintai. Kalau begitu, nenek masuk dulu." Ucap nenek tersebut langsung masuk kedalam, setelah mengelus pipi Dae hwa.
"Aku sangat berharap, kalau aku bahagia bersama pak Jung woo. Sekarang, aku harus memanggil pak Jung woo dengan sebutan sayang, walau aku kurang nyaman. Tapi aku cukup bahagia, dengan panggilan itu. Tapi aku masih malu mengatakannya." Ucap batin Dae hwa salting, sampai pipinya kembali memerah.
"Sadarlah Dae hwa. Pak Jung woo itu pacar mu, dan kau harus bersikap baik dengannya." Ucap Dae hwa masih salting, dan langsung menuju Jung woo.
Sesampai taman belakang Rumah Sakit. Dae hwa pun langsung menghampiri Jung woo yang sedang melamun, sambil memainkan bunga bunga yang ada." Halo pak Jung woo." Panggil Dae langsung duduk di sampingnya.
"Eh, kamu sudah mengantarkan nenek tadi?." Tanya Jung woo langsung menatapnya.
"Sudah, dan pak Jung woo tidak perlu banyak tanya. Kalau begitu, sini aku suapi." Jawab Dae hwa langsung mengambil nasi kotak dari tangan Jung woo, dan langsung menyendoknya.
Dae hwa pun langsung menyuapi Jung woo." Aaaa. Ehm." Masuk ke dalam mulut Jung woo.
Jung woo pun mengunyahnya." Bagaimana?." Tanya Dae hwa tersenyum kepadanya.
"Enak banget, karena kamu yang suapi." Jawab Jung woo sambil mengunyah makanannya.
"Apa aku secantik kupu kupu itu?." Tanyanya kepada dirinya sendiri.
Jung woo pun langsung menatap Dae hwa, yang sedang memandangi kupu kupu yang sedang mengisap sari bunga.
"Kupu kupu sama sekali tidak bisa melihat keindahan warna sayapnya. Tapi kita bisa melihatnya. Begitupula kamu, kadang kamu melihat diri kamu selalu kurang, padahal orang lain bisa melihat dengan jelas, betapa spesialnya, dan cantiknya kamu sayang." Ucap Jung woo menatap Dae hwa.
Sontak Dae hwa langsung menatap Jung woo." Apa yang pak Jung woo maksud sih?." Tanya Dae hwa.
"Biar bagaimanapun kata orang. Kamu tetap cantik di mata orang yang tepat, dan kamu adalah orang yang paling baik di dunia ini sayang. Karena hati kamu yang bersih dan baik itu, kamu di kenal dengan wanita yang baik dan ramah."
"Sebab itu, aku sangat menyukai mu sayang." Jawab Jung woo bahagia, dan mengelus tangan Dae hwa dengan lembut.
"Apa benar yang pak Jung woo katakan itu?." Tanya kembali Dae hwa untuk memastikannya.
"Tentu saja, dan ini adalah ungkapan dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam. Kalau tidak percaya, peganglah." Jawab Jung woo langsung menarik tangan Dae hwa, untuk memegang dadanya.
Sontak pipi Dae hwa memerah." Eh, apa yang pak Jung woo lakukan sih." Langsung menariknya dan pipinya memerah.
"Apa kamu tidak menyukainya. Kamu tidak sayang aku ya?." Tanya Jung woo langsung cemberut.
"Bukan begitu pak. Justru karena aku sayang pada pak Jung woo. Karena kita tidak boleh kelewatan batas, kan kita belum suami istri.", Jawab Dae hwa langsung mengelus pipi Jung woo.
Jung woo pun kembali menatap Dae hwa." Benarkah yang kamu katakan itu." Ucap Jung woo manja kepadanya.
"Tentu dong pak. Sudahlah, kalau begitu mari kita habiskan makan pak Jung woo lagi." Jawab Dae hwa kembali menyuapi Jung woo yang terus saja berbicara.
"Aku harus siap memangil pak Jung woo dengan sebutan sayang. Kamu harus yakin Dae hwa, bahwa pak Jung woo adalah orang yang sangat baik kepada mu." Ucap batin Dae hwa menundukkan kepalanya.
"Kamu kenapa sayang?." Tanya Jung woo kepadanya.
"Eh, aku,