
"Kenapa kalian tiba tiba menikah begini. Dan kenapa kalian tidak mengundang kami?." Tanyanya kembali.
"Kami belum acara besarnya sayang. Kami akad nya dulu aja, yang biasanya. Setelah itu, kami baru akan menentukan tanggal yang cocok untuk resepsi kami nanti." Jawab Dae hwa dengan bahagia, sambil menggandeng tangan Jung woo.
"Mau bagaimana lagi. Pokoknya, semoga kalian bahagia sampai kakek nenek ya." Ucap Jiy wa juga bahagia, dan langsung memeluk Dae hwa.
"Terima kasih banyak untuk semuanya. Aku sangat bahagia berada disisi kalian, dan semoga kedepannya kita akan tetap seperti ini." Kembali bahagia Dae hwa.
"Tentu saja. Karena perusahaan ini, adalah perusahaan yang harmonis. Kalau begitu, kalian kembali lagi bekerja. Saya dan istri saya, mau bekerja dulu." Tersenyum Jung woo, dan langsung menuju ruang pribadi bersama Dae hwa.
Setelah Jung woo dan Dae hwa meninggalkan semua karyawan. "Akhirnya pak Jung woo senyum juga. Selama ini aku belum pernah melihatnya tersenyum bahagia begitu. Memang Dae hwa pandai meluluhkan hati pria, termasuk kulkas 200 pintu." Ucap Jiy wa langsung duduk kembali.
Di ruang pribadi Jung woo dan Dae hwa, Jung woo langsung memeluk pinggang Dae hwa dengan lembut. "Kamu kenapa sayang. Kenapa main meluk pinggang aku saja. Ada apa?." Tanya Dae hwa, sambil tersenyum.
"Aku pengen cium kamu." Jawab Jung woo langsung terus terang.
"Anak ini sangat terus terang. Memang menggemaskan." Ucap batin Dae hwa.
"Apa boleh aku mencium kamu, sekali saja kok. Habis itu sudah?." Tanya Jung woo kembali, sambil memasang wajah manja.
"Tentu saja boleh. Apa saja boleh untuk suamiku tercinta. Mari kita berciuman." Jawab Dae hwa, dan mereka langsung berciuman bersama.
"Baiklah sayang. Aku akan menuruti kemauan kamu." Ucap Jung woo mengalah dan langsung duduk tegap, dan tidak menimpahi Dae hwa lagi.
"Untunglah Jung woo masih orang yang penurut." Ucap batin Dae hwa menghela nafasnya, dan duduk disamping Jung woo.
"Omong omong sayang. Bagaimana dengan keadaan perusahaan sekarang. Apa mulai membaik?." Tanya Dae hwa langsung menatapnya.
"Bentar ya sayang. Aku lihat informasinya dulu, yang sudah ada diberkas." Jawab Jung woo langsung mengambil berkas yang ada dilaci mejanya.
Setelah mengambilnya, ia kembali duduk disamping Dae hwa, dan langsung membuka berkasnya. "Menurut berkas ini sih. Perusahaan sudah mulai membaik sayang, saat aku tidak ada disini. Ini semua juga berkat kamu sayang. Karena kamu yang sudah membantu perusahaan ini, saat aku sedang di rawat di rumah sakit." Jawab Jung woo langsung mencium kening Dae hwa.
"Tentu saja sayang. Aku ini kan istri kamu, dan sebagai istri, sudah harus membantu suaminya yang kesulitan." Ucap Dae hwa langsung memeluk Jung woo dari samping.
"Aku mencintai kamu sayang." Ucap Dae hwa secara tiba tiba.
"Aku juga mencintai kamu sayangku, cintaku." Ucap Jung woo juga, langsung memeluk Dae hwa dengan erat.
"Oh ya sayang. Apa kamu tidak menanyakan kabar Chan woo. Bagaimana dia disana?." Tanya Dae hwa.
"Soal itu