
"Bagaimana sayang, apa kamu menyukai angin sejuknya?." Tanya Jung woo, dan kepala Dae hwa menyender dibahu Jung woo.
"Suka, apalagi kalau ada kamu sayang." Jawab Dae hwa dengan bahagia.
"Melihat langit begini, aku jadi ingat saat pertama kali kita bertemu. Dimana aku sangat membenci kamu, karena kamu gila kebersihan. Hahahah." Tertawa Dae hwa sambil menatap langit dengan indah.
"Hahahah, aku juga sebel lihat kamu. Saat kamu menabrak aku, dan itu membuatku sangat kesal." Ucap Jung woo juga ikut tertawa.
"Kamu mengesalkan sekali ya, menyebalkan." Ucap Dae hwa mencubit perut Jung woo.
"Tapi aku sangat bahagia, karena aku ditemukan dengan pria yang sebaik kamu, dan setulus kami ini. Aku berharap, cinta kamu tidak akan pudar, sampai kita mati nanti." Ucap Dae hwa menggenggam tangan Jung woo.
"Aku juga sangat bahagia kalau ada kamu sayang. Entah kenapa, aku senang banget kalau kamu ada disisi aku. Dan aku sangat senang kalau dengar suara kamu, apalagi saat kita telponan. Meskipun gak ada yang dibahas, aku tetap aja senang, kalau dengar suara kamu. Karena dengar suara kamu aja, bisa ngilangin rasa lelah aku. Semudah itu bahagiaku sayang." Ucap Jung woo mengecup kening Dae hwa dengan lembut.
"Terima kasih banyak karena kamu telah hadir dihidup aku, dan sudah mewarnai kehidupanku yang gelap. Berkat kamu, aku tahu apa itu ke kebahagiaan dan cinta." Bahagia Jung woo dan mereka berciuman ditengah tenggelamnya matahari.
"Lihat sayang, matahari nya tenggelam. Bagus banget kan." Bahagia Dae hwa sampai bertepuk tangan.
Jung woo kembali menciumnya. "Kenapa kamu melepaskan ciuman dariku. Kamu harus fokus kepadaku." Ucap Jung menciumnya dengan lembut.
Wajah merekapun langsung memerah, dan mereka menikmati senja mereka bersama.
Malam pun tiba, dimana Dae hwa mengeluarkan ponselnya. "Kamu mau apa sayang?." Tanya Jung woo sambil terus menggenggam tangan Dae hwa.
"Mari kita selfie sayang, untuk kenang kenangan saat kita tua nanti. Mari sayang, 1, 2, 3." Merekapun langsung berfoto, dengan Dae hwa memegang pipi Jung woo dan Jung woo memanyungkan bibirnya.
"Hahahahah, kamu lucu banget sayang. Aku suka." Bahagia Dae hwa langsung menyimpan foto tersebut.
"Oh ya, ini sudah malam. Yuk kita pulang sekarang, nanti ayah mencari kita lagi." Ucap Dae hwa.
Mereka berdua langsung kembali pulang. Sesampai rumah, mereka langsung turun dari mobil, dan langsung masuk ke dalam rumah.
"Ayah." Panggil Dae hwa dengan bahagia, dan pak Baek woo sedang duduk di sofa. Pak Baek woo pun langsung menghampiri Dae hwa dan memeluk Dae hwa.
"Kenapa kalian lama banget pulangnya. Kalian habis darimana?." Tanya pak Baek woo mengelus tangan Dae hwa.
"Tadi kami berjalan jalan sebentar ayah. Karena Dae hwa yang memintanya." Jawab Jung woo sambil melipat kedua tangannya.
"Syukurlah kalian tidak kenapa napa. Kalau begitu, kalian cepat mandi sana. Setelah itu, baru kita makan malam." Ucap pak Baek woo kepada mereka berdua.
"Siap ayah, mari sayang." Ujar Dae hwa langsung menggandeng tangan Jung woo, dan mereka langsung masuk ke kamarnya.
Merekapun langsung masuk ke dalam kamar. Dan Jung woo langsung baring di tempat tidurnya. "Ih, kamu kenapa langsung tidur. Kamu mandi dulu sana sayang." Ucap Dae hwa duduk disampingnya.
"Kamu duluan saja deh sayang. Aku lelah banget tahu, apa kita mau mandi bersama?." Tanyanya langsung berekspresi meminta sesuatu yang lebih.
"Argh, kamu dasar pria mes*m. Jauh jauh kamu, mama aku takut. Aku mau dimakan buaya darat." Ucap Dae hwa sambil tertawa.
Merekapun langsung mandi bersama. Di kamar mandi. "Aku tidak bisa jauh dari si buaya darat ini." Ucap batin Dae hwa hanya bisa pasrah.
"Hahhah, tetap saja aku yang akan menang sayang. Wlee." Tertawa puas Jung woo sambil memeluk tubuh Dae hwa yang telanj*ng.
"Ih, ngeselin kamu mah. Ngambek nanti aku. Lama lama kamu kelewatan batas." Ucap Dae hwa ngambek.
Selepas mereka mandi. Jung woo pun mengeringkan rambut Dae hwa yang basah. "Sayang." Panggil Dae hwa.
"Apa sayang?." Tanya Jung woo sambil mengeringkan rambut Dae hwa.
"Boleh ambilkan ponselku yang ada didekat kamu sayang." Jawab Dae hwa sambil menunjuknya.
Jung woo pun langsung mengambilkan ponsel Dae hwa, dan memandikannya kepadanya. "Terima kasih sayangku." Tersenyum bahagia.
Jung woo mengecup pipi Dae hwa. "Sama sama sayang." Ucapnya juga dengan bahagia.
Dae hwa pun langsung menghubungi Eun Ju. Dan tersambung.
"Halo Dae hwa, ada apa menghubungiku malam malam begini?." Tanyanya langsung ke inti.
"Kau sedang apa, dan dimana?." Tanya balik Dae hwa.
"Aku lagi makan cemilan, dan nonton drakor nih di rumah. Ada apa bertanya hal itu?." Tanyanya kembali.
Dae hwa memainkan aktingnya, dan Dae hwa pura pura menangis. "Eun ji, bisakah besok kamu datang ke suatu tempat yang aku tujukan. Karena ada hal buruk yang harus aku sampaikan padamu. Ini benar benar gawat Dae hwa, karena ini bergantung diriku." Jawab Dae hwa sambil akting menangis.
"Kau kenapa, apa si Jung woo ikut menyakitimu. Apa dia menyelingkuhimu, katakan Dae hwa. Biar aku tonjok tu terongnya?." Tanya Eun ji cemas dengannya.
"Bukan begitu Dae hwa, pokoknya ini hal buruk bagi kalian. Besok akan aku kirim lokasinya, kamu bisakan Eun ji?." Jawabnya sekaligus bertanya.
"Baiklah, aku akan kesana. besok. Kirimkan saja lokasinya kepadaku, dan jangan membuatku panik. Karena aku tidak suka kalau kau kenapa napa. Apa ada yang lain?." Tanyanya kembali.
"Itu saja kok, kalau begitu sudah dulu ya sayang. Sampai jumpa besok." Jawabnya langsung mematikan ponselnya.
Dae hwa pun kembali meletakkan ponselnya kembali. "Apa yang kamu katakan padanya sayang?." Tanya Jung woo yang sudah mengeringkan rambut Dae hwa, dan langsung duduk disampingnya.
"Aku berakting kalau aku sedang tidak baik baik saja. Dan dia malah mengatakan kalau kamu yang membuatku sedih, karena aku berakting menangis. Hahahah." Jawab Dae hwa tertawa puas.
"Kamu ini, sama sahabat kamu jahat banget. Jadi dia menyalahkanku kan, memang kalau kesayangku ini." Ujar Jung woo menggigit pipi Dae hwa.
"Aduh, sakit buaya darat. Kamu lama lama benar benar mengesalkan ya." Mencubit perut Jung woo kembali dan langsung menidurkannya di tempat tidur.
"Kamu mau melakukan apa sayang, sampai kamu menjatuhkanku ke tempat tidur. Apa kamu sudah tidak sabar untuk mempunyai anak dariku?." Menggoda Dae hwa, dan langsung memegang perut Dae hwa.