Love A Handsome Ceo

Love A Handsome Ceo
Episode 68: Kabar Buruk



"Tidak apa apa. Aku dan Hana, hanya merindukan mu saja sayang. Omong omong, bagaimana dengan keadaan bos mu sekarang." Jawabnya sekaligus bertanya.


"Keadaan bos ku sudah sangat baik baik saja kok. Kalian tidak perlu mengkhawatirkannya. Kan ada aku, yang sudah menjadi pacarnya." Jawab Dae hwa dengan nada santai.


"What, pacaran. Maksud mu apaan itu?." Kaget Eun ji dan Hana di teleponnya.


"Aku dan pak Jung woo sudah pacaran. Aku lupa memberitahukannya kepada kalian. Maaf ya bestie." Jawab Dae hwa.


"Wih, jangan lupa makan besarnya dong. Kalian kan sudah berpacaran. Akhirnya pria yang kau sukai, sudah menjadi pacar mu juga. Hahay." Ikut bahagia Hana, dan langsung meminta kemek kemek.


"Sabarlah bestie. Akan aku hubungi kalian, dan bagaimana kalau nanti malam saja aku traktir kalian. Mau gak." Ucap Dae hwa.


"Okey deh, terima kasih banyak sayang." Ucap bersamaan Eun ji dan Hana.


"Sama sama. Kalau begitu, udah dulu ya. Aku mau beli sarapan dulu." Jawab Dae hwa langsung mematikan ponselnya, dan lanjut mencari sarapan yang ada di sekitar Rumah Sakit.


Setelah beberapa menit. Dae hwa pun sudah membeli sarapan, dan ia langsung kembali ke Rumah Sakit. Di dalam Rumah Sakit." Sarapan sudah aku beli, dan aku akan langsung mengantarkannya ke ruangan nenek dan pak Jung woo." Bahagia Dae hwa langsung masuk ke dalam ruang istirahat nenek Isabella.


"Halo nenek sayang. Sarapan anda sudah da." Langsung terhenti karena tidak ada nenek Isabella.


"Eh, dimana nenek Isabella ya?." Tanyanya kepada dirinya sendiri, langsung memanggil suster.


"Suster, suster." Panggil Dae hwa dengan keras.


Suster pun langsung masuk dan menghampirinya." Iya kak, ada yang bisa saya bantu?." Tanya suster tersebut.


"Dimana pasien yang ada di ruangan ini?." Tanya balik Dae hwa.


"Oh, pasien yang bernama nenek Isabella. Baru saja masuk ke ruang gawat darurat, karena tiba tiba nenek Isabella jatuh pingsan. Dan saat kami periksa tadi. Kanker nya sudah menyebar ke seluruh tubuhnya, dan kami langsung mengananginya dengan cepat." Jawab suster tersebut menjelaskannya secara detail.


"Bagaimana keadaannya sekarang. Apa nenek Isabella baik baik saja, dan apakah nenek Isabella masih bisa hidup?." Tanya Dae hwa langsung cemas.


"Dia masih kami periksa, dan mungkin, hidupnya tidak akan lama lagi. Saya hanya minta kepada anda, berikan yang terbaik untuk nenek Isabella, dan ajaklah ia ke tempat yang belum pernah ia datangi. Itu akan mengurangi kesedihannya, dan mungkin nenek Isabella bisa sembuh." Jawab kembali suster tersebut menjelaskannya.


"Terima kasih banyak suster.", Menundukkan kepalanya.


"Sama sama kak. Kalau begitu, saya permisi dulu.", Tersenyum suster tersebut, langsung meninggalkan Dae hwa.


Setelah suster tersebut pergi." Kasihan banget nenek. Hikss, hikss. Nek Isabella sudah tidak mempunyai siapapun, selain aku dan pak Jung woo. Bagaimana ini." Ucap Dae hwa langsung meneteskan air matanya.


"Aku tidak mau kehilangan nenek. Nenek Isabella harus bahagia. Aku akan mengajak nenek untuk melihat hal hal yang indah di kota ini, agar nenek Isabella bisa secepatnya sembuh." Ucap batin Dae hwa menutupi kesedihannya dan langsung menuju ruang istirahat Jung woo.


Sesampai ruang istirahat Jung woo, ia pun langsung masuk kedalam, dengan wajah tersenyum." Halo pak Jung woo. Sarapan anda sudah datang." Ucap Dae hwa langsung duduk di sampingnya, dan meletakkan nasi kotak untuk nenek di meja.


"Pak Jung woo duduklah. Biar aku suapi." Ucap Dae hwa langsung membuka kotak nasi tersebut.


Jung woo pun langsung duduk, dan menatap wajah Dae hwa." Ini pak, makan yang banyak, agar pak Jung woo cepat sembuh." Ucap Dae hwa langsung menyuapi Jung woo.


Jung woo pun langsung melahapnya dan mengunyah nasi tersebut." Seperti ada yang salah dengan Dae hwa. Dia kenapa ya." Ucap batin Jung woo menatapnya dengan tatapan serius.


Dae hwa merasa kalau dirinya sedang di tatap, dan ia juga menatap Jung woo." Kenapa menatap saya begitu pak?." Tanyanya.


"Ada apa dengan diri kamu sayang. Kelihatannya kamu habis menangis nya. Siapa yang membuat kamu menangis?." Tanya balik Jung woo sambil mengelus tangan Dae hwa dengan lembut.


"Aku,