
"Kita akan ke kota yang nenek mau juga boleh kok nek. Kalau nenek mau ke kota luar, Dae hwa akan mewujudkannya nek. Semua demi nenek." Ucap Dae hwa mengelus tangan nenek Isabella.
"Aku ikut juga." Ucap Jung woo langsung mengelus tangan Dae hwa.
Sontak Dae hwa dan nenek Isabella langsung menatap ke arah Jung woo." Aku yang akan membayar biaya semuanya nya. Dan jangan khawatir." Ucap Jung woo tersenyum kepadanya.
"Terima kasih banyak sayang." Ucap Dae hwa langsung mencium pipi Jung woo.
"Eh, apa kamu memanggilnya dengan sebutan sayang tadi?." Tanya nenek Isabella kepada Dae hwa.
"Eh, iya nek. Ada apa emangnya nek?." Jawab Dae hwa sekaligus bertanya, dan langsung menatap wajah nenek Isabella.
"Nenek hanya kaget saja. Padahal kamu masih malu, untuk mengatakan panggilan itu. Tapi sekarang, kami malah menyebutkannya. Kalian pasangan yang sangat serasi." Jawab nenek Isabella bahagia melihat mereka berdua.
"Heheheh, terima kasih banyak nenek sayang." Langsung memeluk nenek Isabella dengan bahagia.
Disisi lain." Apa benar tadi aku di cium oleh Dae hwa. Argh, bisa lepas jantungku ini. Tapi, aku harus bersikap biasa saja. Agar Dae hwa tidak mengira aku alay." Ucap batin Jung woo menahan salting, dan pipinya yang memerah.
"Kalau begitu, nenek istirahat lah dulu nek. Besok kita akan jalan jalan ke tempat yang nenek inginkan." Ucap Dae hwa langsung mencium tangan nenek Isabella.
"Baik nak. Terima kasih banyak, karena sudah menjaga nenek dengan baik, dan sudah mempedulikan nenek. Terima kasih." Ucap nenek Isabella bahagia, dan langsung menutup kedua matanya.
"Tidurlah dengan nyenyak nek. Aku akan selalu ada disisi nenek. Kalau begitu, aku permisi dulu ya nek." Ucap Dae hwa dengan lembut dan langsung berdiri.
Di luar ruang nenek Isabella." Apa kamu baik baik saja sayang?." Tanya Jung woo kepadanya.
"Tentu saja aku baik pak. Karena akan jalan jalan bersama nenek Isabella. Tapi disisi lain, aku sangat sedih kalau nyawa nenek di panggil duluan. Karena nenek Isabella sudah tidak mempunyai siapapun lagi, selain kita." Jawab Dae hwa langsung cemberut.
"Sabarlah sayang. Aku akan membeli tiket untuk kita berlibur dengan nenek. Dan Perusahaan, akan aku serahkan kepada bu direktur saja." Ucap Jung woo mengelus tangan Dae hwa dengan lembut.
"Terima kasih banyak sayang. Kalau tidak ada pak Jung woo, mungkin aku tidak akan sebahagia ini." Ucap Dae hwa mengelus rambut Jung woo dengan bahagia.
Dae hwa pun langsung mengantarkan ke ruang istirahat Jung woo. Di dalam. Dae hwa pun langsung membantu Jung woo duduk di ranjangnya." Apa kamu sudah mulai membaik?." Tanya Dae hwa langsung duduk di samping Jung woo.
"Aku sudah membaik berkat kamu sayang. Kamu adalah wanita yang paling aku sayangi di dunia ini, dan kalau tidak ada kamu, mungkin saja aku tidak akan sebahagia ini." Jawab Jung woo mengelus pipi Dae hwa.
"Sudahlah sayang. Jangan gombal begitu deh. Lebih baik, kamu istirahat lah dulu." Ucap Dae hwa salting, dan pipinya ikut memerah.
Tiba tiba saja Jung woo mencium bibirnya. Sontak Dae hwa langsung kaget, dan hembusan nafas mereka langsung bertukar.
Dae hwa langsung melepaskan ciuman tersebut, dalam keadaan pipi memerah." Apaan sih kamu. Pakai menerobos saja?." Tanya Dae hwa langsung buang muka.
"Aku,